http://www.kompas.co.id/ver1/Nasional/0705/30/115008.htm
====================

Laporan Wartawan Kompas Emilius Caesar Alexey

JAKARTA, KOMPAS -- Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menuntut klarifikasi
dari pemerintah Australia terkait pelecehan yang dilakukan oleh polisi
federal dengan memasuki kamar hotelnya pada hari Selasa sore (29/5)
untuk mengundangnya ke pengadilan sebagai saksi kasus terbunuhnya
wartawan Australia di Balibo 1975. 

Sutiyoso juga menuntut permintaan maaf dari pemerintah Australia atau
kerja sama kota kembar (sister city) dengan New South Wales akan
dibatalkan. "Jika tidak minta maaf, saya menganggap Australia arogan.
Untuk apa melanjutkan kerja sama dengan pihak yang arogan?" kata
Sutiyoso di Jakarta, Rabu (30/5).
 
Menurut Sutiyoso, tindakan polisi federal Australia yang menerobos
masuk ke kamar hotelnya, dengan kunci master hotel, merupakan
pelecehan. Kedatangannya sebagai pejabat negara atas undangan gubernur
negara bagian New South Wales seharusnya dilindungi kekebalan dalam UU
Kekebalan Asing.
 
"Saya tidak terkait dengan kasus Balibo 1975 yang menewaskan lima
jurnalis asing. Tahun itu, tim yang saya pimpin tidak pernah masuk ke
Kota Balibo," kata Sutiyoso.

Ia memaparkan kunjungan ke negara bagian New South Wales yang
beribukota Sydney beberapa hari lalu itu adalah atas undangan
pemerintah setempat terkait kerja sama sister city. "Saya tiba disana
pada Minggu 28 Mei sekitar pukul 10 waktu setempat dan diterima secara
protokoler resmi dan menginap di Hotel Sangri La," katanya.
      
Ia menjelaskan sepanjang Minggu sampai Selasa siang, ia mengikuti
sejumlah acara seperti peninjauan ke kebun binatang setempat yang
mengadakan kerja sama dengan Ragunan, serta melihat proses pengolahan
limbah. Pada hari Selasa, ia menghadiri acara antara lain pertemuan
bisnis dan mengunjungi Museum Nasional Kelautan. Sebetulnya pada pukul
18.00 telah dijadwalkan acara selanjutnya, namun karena masih ada
waktu ia memutuskan kembali ke hotel.
     
"Pada pukul 16.30 waktu setempat hari Selasa, saya beristirahat di
dalam kamar hotel saya yang terkunci. Namun tiba-tiba masuk dua orang
anggota kepolisian, salah satunya Sersan Thomas yang pada intinya
menyampaikan surat pemanggilan untuk memberikan kesaksian dalam kasus
tersebut," katanya.
      
Gubernur DKI mengatakan ia tidak pernah terlibat dan tidak mengetahui
masalah itu dan selama di Timor Timur tidak pernah memasuki kota
Balibo. "Saya marah dan saya kemudian meminta mereka untuk keluar.
Selanjutnya saya memanggil protokol resmi dari pemerintah New South
Wales untuk meminta penjelasan. Namun sampai saat itu pemegang
otoritas setempat tidak bisa dihubungi," katanya.
     
Sutiyoso menjelaskan ia kemudian menghubungi Konsulat Jenderal RI di
Sydney dan juga Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. "Saat itu, saya
jelaskan singkat kejadiannya dan Pak Hassan bilang kembali saja ke
Jakarta, tidak usah melanjutkan lawatan di negara tersebut. Saya
kemudian memutuskan kembali dan tidak menghadiri rangkaian acara yang
masih ada," paparnya.
      
Pada Rabu ini, Gubernur DKI rencananya akan bertemu dengan Menlu
Hassan Wirajuda untuk menjelaskan secara detil apa yang terjadi dan
akan meminta Deplu mengklarifikasi peristiwa ini kepada pemerintah
Australia.
    
Sutiyoso juga mengancam akan meninjau kerja sama sister city dengan
New South Wales bila tidak ada permintaan maaf secara resmi. "Saya
merasa dilecehkan sebagai pejabat negara yang berkunjung dengan resmi.
Di Jakarta kita melindungi Kedutaan Australia dengan baik. Kita penuhi
apa kebutuhan mereka untuk menjamin keamanan," katanya.
      
Ketika ditanyakan pada saat terjadinya peristiwa terbunuhnya wartawan
Australia di Balibo, Sutiyoso mengatakan ia yang saat itu berpangkat
Kapten bersama pasukannya tidak pernah memasuki Balibo namun ia
menolak menyebutkan secara rinci dimana posisi pasukannya. "Saya tidak
bisa sampaikan informasi itu karena itu bagian dari operasi intelijen.
Pak Yunus Yosfiah pun sudah mengklarifikasi hal tersebut," katanya.     




Copyright 2006 Kompas Group     

Kirim email ke