Wah, terima kasih atas tanggapan rekan-rekan sekalian. Setelah tak
pikir2, mungkin saya membuat kesalahan dalam menggunakan terminologi
"... masyarakat Indonesia - yang kebanyakan orang Jawa ...", sehingga
menimbulkan kesan upaya penyeragaman yang memaksa. Memang ada unsur
generalisasi di situ, namun bukan bermaksud memaksakan pemahaman bahwa
Indonesia adalah Jawa. Saya menggunakan itu berdasarkan data yang
menyebutkan 64% populasi Indonesia bersuku bangsa Jawa. Namun
sebenarnya saya tidak ingin berpolemik tentang ini. 
Yang saya ingin tahu adalah bagaimana masyarakat Indonesia melihat
fenomena berterus terang bahwa dia bersalah telah menggunakan uang
yang bukan haknya bahkan hingga berani berhadapan dengan konsekuensi
hukum dan penguasa? Tinjauan terhadap hal itu bisa bermacam-macam. 
Namun terlepas dari beberapa komentar bahwa itu hanya mencari sensasi,
saya pikir ada satu sisi positif yang patut kita hargai, keberanian
dan kejujuran (saya menilai orang yang mengakui dirinya salah dengan
konsekuensi hukum tertentu hampir pasti jujur). Nah, di sinilah satu
kekhawatiran muncul. Kalau misalkan tindakan seperti itu ternyata
tidak populer di mata masyarakat, pertanyaan saya selanjutnya adalah,
apa yang sebenarnya masyarakat inginkan? Jangan2 mereka nyaman dengan
begitu banyak kebohongan yang dilakukan oleh penguasa negeri ini? Atau
sudah se-apatis itukah kita?

Salam Perdamaian... :)
Sidik Permana


Kirim email ke