Mungkin mau mempraktekkan resep SBY dulu, Pak. Menjaring simpati sebagai korban perlakuan sewenang-wenang. 2009 kan sudah semakin dekat.
Andi --- In [email protected], "miskintapisombong" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > kelihatan-nya pak sutiyoso menggalangkan kekuatan bangsa hanya untuk > gengsi pribadinya. Mengapa harus di iklankan masalah ini kepada > rakyat Indonesia yang sudah hampir bosan dengan berbagai macam demo. > dengan alasan menjaga martabat bangsa, rakyat terpaksa harus demo > lagi dan demo lagi. kalu saja jumlah orang yang demo untuk masalah > ini di kerahkan untuk membersihkan jakarta pasti jakarta sudah > kekurangan sampah. > > saya jamin orang australia tertawa geli dengan pristiwa ini, karena > yang rugi adalah orang indonesia yang demo. kalau saja waktu yang di > pakai untuk demo di pakai untuk cari uang pasti masa depan > keluarganya akan sedikit lebih baik. Semua orang mengerti kalau pak > Sutiyoso merasa malu dan merasa di lecehkan, tingka polisi autralia > itu sangat tidak wajar terhadap tamu resmi negara mereka, tapi > haruskah pak sutiyoso membawa rakyat Indonesia ikut berkubang dalam > lumpur politik australia?? > > orang australia keturunan, penjahat?, narapidana? anjing, babi, najis > dan di maki dengan segala kata kotor tapi sekali lagi mereka hanya > cengar-cengir. > > pertanyaan-nya adalah mengapa pak Sutiyoso tidak menyelsaikan masalah > ini secara internal antara kedua pemerintah indonesia dan australia?? > masih belum cukupkah demo2 yang di lakonkan hampir setiap minggu di > jakarta? > > secara ekonomi(ekonomi indonesia) masalah ini akan lebih murah kalau > di selesaikan secara internal, > kalau para pendemo adalah bukan penganggur bayangkan nilai ekonomi > dari waktu yang mereka pakai untuk demo? > > salam > > --- In [email protected], "Agus Hamonangan" > <agushamonangan@> wrote: > > > > http://www.kompas.co.id/ver1/Nasional/0705/30/115008.htm > > ==================== > > > > Laporan Wartawan Kompas Emilius Caesar Alexey > > > > JAKARTA, KOMPAS -- Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menuntut > klarifikasi > > dari pemerintah Australia terkait pelecehan yang dilakukan oleh > polisi > > federal dengan memasuki kamar hotelnya pada hari Selasa sore (29/5) > > untuk mengundangnya ke pengadilan sebagai saksi kasus terbunuhnya > > wartawan Australia di Balibo 1975. > > > > Sutiyoso juga menuntut permintaan maaf dari pemerintah Australia > atau > > kerja sama kota kembar (sister city) dengan New South Wales akan > > dibatalkan. "Jika tidak minta maaf, saya menganggap Australia > arogan. > > Untuk apa melanjutkan kerja sama dengan pihak yang arogan?" kata > > Sutiyoso di Jakarta, Rabu (30/5). > > > > Menurut Sutiyoso, tindakan polisi federal Australia yang menerobos > > masuk ke kamar hotelnya, dengan kunci master hotel, merupakan > > pelecehan. Kedatangannya sebagai pejabat negara atas undangan > gubernur > > negara bagian New South Wales seharusnya dilindungi kekebalan dalam > UU > > Kekebalan Asing. > > > > "Saya tidak terkait dengan kasus Balibo 1975 yang menewaskan lima > > jurnalis asing. Tahun itu, tim yang saya pimpin tidak pernah masuk > ke > > Kota Balibo," kata Sutiyoso. > > > > Ia memaparkan kunjungan ke negara bagian New South Wales yang > > beribukota Sydney beberapa hari lalu itu adalah atas undangan > > pemerintah setempat terkait kerja sama sister city. "Saya tiba > disana > > pada Minggu 28 Mei sekitar pukul 10 waktu setempat dan diterima > secara > > protokoler resmi dan menginap di Hotel Sangri La," katanya. > > > > Ia menjelaskan sepanjang Minggu sampai Selasa siang, ia mengikuti > > sejumlah acara seperti peninjauan ke kebun binatang setempat yang > > mengadakan kerja sama dengan Ragunan, serta melihat proses > pengolahan > > limbah. Pada hari Selasa, ia menghadiri acara antara lain pertemuan > > bisnis dan mengunjungi Museum Nasional Kelautan. Sebetulnya pada > pukul > > 18.00 telah dijadwalkan acara selanjutnya, namun karena masih ada > > waktu ia memutuskan kembali ke hotel. > > > > "Pada pukul 16.30 waktu setempat hari Selasa, saya beristirahat di > > dalam kamar hotel saya yang terkunci. Namun tiba-tiba masuk dua > orang > > anggota kepolisian, salah satunya Sersan Thomas yang pada intinya > > menyampaikan surat pemanggilan untuk memberikan kesaksian dalam > kasus > > tersebut," katanya. > > > > Gubernur DKI mengatakan ia tidak pernah terlibat dan tidak > mengetahui > > masalah itu dan selama di Timor Timur tidak pernah memasuki kota > > Balibo. "Saya marah dan saya kemudian meminta mereka untuk keluar. > > Selanjutnya saya memanggil protokol resmi dari pemerintah New South > > Wales untuk meminta penjelasan. Namun sampai saat itu pemegang > > otoritas setempat tidak bisa dihubungi," katanya. > > > > Sutiyoso menjelaskan ia kemudian menghubungi Konsulat Jenderal RI di > > Sydney dan juga Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. "Saat itu, saya > > jelaskan singkat kejadiannya dan Pak Hassan bilang kembali saja ke > > Jakarta, tidak usah melanjutkan lawatan di negara tersebut. Saya > > kemudian memutuskan kembali dan tidak menghadiri rangkaian acara > yang > > masih ada," paparnya. > > > > Pada Rabu ini, Gubernur DKI rencananya akan bertemu dengan Menlu > > Hassan Wirajuda untuk menjelaskan secara detil apa yang terjadi dan > > akan meminta Deplu mengklarifikasi peristiwa ini kepada pemerintah > > Australia. > > > > Sutiyoso juga mengancam akan meninjau kerja sama sister city dengan > > New South Wales bila tidak ada permintaan maaf secara resmi. "Saya > > merasa dilecehkan sebagai pejabat negara yang berkunjung dengan > resmi. > > Di Jakarta kita melindungi Kedutaan Australia dengan baik. Kita > penuhi > > apa kebutuhan mereka untuk menjamin keamanan," katanya. > > > > Ketika ditanyakan pada saat terjadinya peristiwa terbunuhnya > wartawan > > Australia di Balibo, Sutiyoso mengatakan ia yang saat itu berpangkat > > Kapten bersama pasukannya tidak pernah memasuki Balibo namun ia > > menolak menyebutkan secara rinci dimana posisi pasukannya. "Saya > tidak > > bisa sampaikan informasi itu karena itu bagian dari operasi > intelijen. > > Pak Yunus Yosfiah pun sudah mengklarifikasi hal tersebut," > katanya. > > > > > > > > > > Copyright 2006 Kompas Group > > >
