Such a sook! Sutiyoso ngambek. Ini jendral bermental pengecut. Dia
memang preman di kampungnya dan jangan salahkan orang di kampung lain
kalau mereka gak peduli apakah dia itu preman atau bukan.

Beruntung saya tidak ada di Sydney waktu itu, kalau sempat lihat tampang
Sutiyoso, saya pasti akan berteriak: murderer!

Australia tidak perlu minta maaf sesungguhnya. Ini hanya proses yang
wajar. Inquiry itu sendiri bukan berarti menjadikan dia sebagai
tersangka. Namun karena mentalnya pengecut maka ketika ini terjadi
langsung ngambek. Kurang lebih begini pikirnya, "saya kan gubernur di
Jakarta, orang terhormat. Kok diperlakukan seperti ini?".

Saya kok bingung sama beberapa miliser di sini, harga diri bangsa kok
diukur lewat Sutiyoso. Saya mah tidak sudi kalau harga diri bangsa
direpresentasikan preman yang dengan kejinya memerintahkan penyerangan
27 Juli. Tapi persoalan harga diri ini sendiri memang pelik. Mungkin
lantaran beban sejarah terlalu besar ditambah lagi dengan proyek
nasionalis karbitan yang dibuat tentara. Kita sering dicekoki betapa
hebatnya Indonesia selama dua rejim otoritarianisme berkuasa. Sekarang
ini tantangannya adalah bagaimana membangun rasa nasionalisme dalam alam
yang relatif demokratik. Dengan kata lain, nasionalisme tanpa darah.

Satu hal lagi yang membuat saya bingung adalah persepsi beberapa miliser
tentang Australia. Berkali-kali kalau ada masalah antara Aus dan Ind,
yang disebut-sebut adalah Aus bangsa narapidana. Sungguh menggelikan.
Apakah dengan begitu membuat kita Indonesia merasa lebih baik dari
Australia? Australia juga punya sejarah hitam. Begitu juga Indonesia.
Namun kalau mau kritis, kita harus tanya mengapa sebagian para napi itu
sendiri sudah emoh dengan sejarah hitamnya. Sementara kita yang katanya
relatif lebih beradab kok malah tambah kacau.

Tolong kasih tahu lagi, kalau ada pejabat gila yang mau ke luar negeri.
Mungkin bisa diorganisir demonstrasi di negara-negara yang dikunjungi.








Kirim email ke