Kalau di Ambalat TNI ternyata tidak mudah terprovokasi, mungkinkah ada sebab lain yang bukan sekedar provokasi hingga keluarlah peluru tajam tersebut? Apakah benar nyawa mereka sedang terancam saat itu, umpamanya?
Menurut saya yang paling penting diselidiki itu atasannya (dan atasan atasannya). Kok dia sebegitu tololnya menyuruh tentara, bersenjata pula, berhadapan dengan masyarakat. Masa sih, setelah hampir sepuluh tahun reformasi, dia masih tidak tahu bahwa ketertiban itu urusan polisi? Andi --- In [email protected], Nur Hidayat Sardini <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hare gene, ada tentara nembak peluru rakyatnya ! > > Padahal rakyatnya itulah yang membelikan bedil dan pelurunya itu. > Apa mereka tidak sadar, bahwa bedil dan pelurunya itu, seharusnya untuk menembak musuh-musuh negara: kapal-kapal asing (illegal fishing), juga para penyelundup kayu melalui jalur laut (illegal logging). > > Kenapa marinir kita tidak bisa menahan diri, padahal dulu waktu pasukan AL kita diprovokasi tentara-tentara laut diraja Malaysia mereka mampu menahan diri untuk tidak menembak tentara dan kapal- kapal laut Malaysia, dalam kasus Blok Ambalat ! > > Tentara kita kok beraninya nembak ke rakyatnya sendiri. Beraninya sama rakyatnya sendiri. Mereka tidak berani nembak musuhnya. > > Hare gene, tentara kita belum tersentuh reformasi ! > > > nhs > > > > --------------------------------- > Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story. > Play Sims Stories at Yahoo! Games. > > [Non-text portions of this message have been removed] >
