iscab:

Nonton TV dan baca koran di Jerman, ada berita menarik tentang orang Cina.
Ada orang Cina yang bekerja ke negara miskin Eropa seperti Rumania,
Bulgaria, dan sekitarnya serta juga ke Afrika. Mereka diwawancara, ternyata
yang membuat mereka tertarik untuk bekerja di sana adalah upah mereka 3 kali
upah di negara asalnya. Wah, ternyata di Cina, upah buruh betul-betul
ditekan.

Teringat kata-kata dosen Robotika, "dalam setiap kemajuan peradaban, selalu
dibutuhkan budak yang menggerakkan roda peradaban tersebut". Pyramid di
Mesir tidak akan ada tanpa perbudakan. Revolusi Industri di Eropa takkan
berjalan tanpa penindasan buruh dan penghisapan kekayaan negara jajahan.
Kemajuan Cina saat ini tidak akan ada tanpa penindasan buruh.

Nah, supaya di Indonesia, ekonomi bisa maju, mungkin hak-hak buruh perlu
dikurangi. Setiap kemajuan butuh korban, toh?


Condro



On 6/8/07, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Oleh Suryopratomo
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/08/utama/3586325.htm
> ======================
>
> Kunjungan Wakil Presiden Jusuf Kalla ke Beijing Municipality Planning
> Exhibition, Kamis (7/6) pagi, tampak biasa-biasa saja. Wapres
> diperkenalkan mengenai ibu kota Beijing baik masa lalunya maupun masa
> kini.
>
> Kesan itu menjadi berubah ketika Wakil Presiden (Wapres) beserta
> rombongan terbatas diminta masuk ke dalam satu ruangan untuk menonton
> sebuah film pendek. Dalam bioskop kecil yang dilengkapi tempat duduk
> bergerak, Wapres diajak untuk melihat Beijing masa depan.
>
> Beijing 1 Oktober 2069 atau 120 tahun setelah Republik Rakyat China
> berdiri mampu divisualkan secara jelas. Penonton diberi gambaran yang
> lebih nyata mengenai pembangunan yang akan dilakukan Beijing dan
> seperti apa keadaan ibu kota China itu 62 tahun yang akan datang,
> ketika ilmu pengetahuan dan teknologi mampu mereka kuasai.
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke