Menaggapi pernyataan bahwa hidrogen itu sumbernya semua dari bahan fosil itu 
tidak benar. Ada mikroorganisme yang dapat menghasilkan hidrogen dari limbah 
organik atau tak organik. Kini produksi hidrogen selain dari air sedang 
dikembangkan produksi hidrogen dari bio (biofuel). Ya memang untuk menuju suatu 
tujuan itu banyak tahapnya pak Andi, tidak semudah membalikan tangan. Yang 
kedua,  emisi gas buang hasil dari fuel cell yang berbahan bakar hidrogen atau 
gas alam atau yang lain sangat rendah apabila dibandingkan dengan bahan bakar 
seperti bensin atau solar. CO gak ada, NOx gak ada. SOx gad ada dan CO2 sangat 
sedikit karena CO2 juga dapat dirubah menjadi sumber elektron. Elektron inilah 
yang digunakan sebagai sumber energi listrik.
   ----- Original Message ----
From: si_andi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, June 15, 2007 3:50:55 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: PLTN : UNTUK SIAPA ?

Ikut nimbrung, Mas Bodo.

Selama kita belum bisa "menambang" hidrogen langsung dari udara,
maka hidrogen harus dihasilkan dari hidrokarbon atau dari air.
Produksi hidrogen dari kedua sumber itu butuh banyak energi. Steam
reforming, umpamanya, dilakukan dengan mereaksikan gas alam dengan
air pada suhu sekitar 1000 C. Pemanasnya? Ya dengan membakar gas
alam juga. Energi yang dibawa hidrogen ini kemudian dikirim ke
konsumen untuk dikonversi menjadi listrik dengan perantaraan sel
bahan bakar. Artinya dalam keseluruhan siklus ini hidrogen hanya
berfungsi sebagai "alat" transportasi energi. Sumber energinya tetap
gas alam yang (1) tidak terbarui (2) baik pembakarannya maupun
reaksinya menghasilkan karbondioksida, a.k.a gas rumah kaca.

Demikian juga kalau hidrogen ini dihasilkan lewat elektrolisis.
Tetap harus ada sumber energi bagi elektrolisis ini. Untuk saat ini
pilihan sumber energinya masih tetap jatuh ke bahan bakar fosil atau
nuklir. Hidrogennya sendiri cuma sebagai penghantar energi dari
pembangkit ke konsumen.

Saya bisa paralelkan dengan PLTG. PLTG juga menghasilkan listrik
dengan membakar gas alam. Gas alam dibakar di dalam turbin, turbin
berputar menghasilkan listrik. Listrik ini dihantarkan ke
penggunanya menggunakan kabel listrik. Jadi fungsi kabel listrik
sama persis seperti fungsi hidrogen dalam paragraf sebelumnya: alat
transportasi.

Mana yang lebih efisien? Sel bahan bakar sendiri efisiensinya bisa
mencapai 80% (memang jauh di atas internal combustion engine yang
cuma 25%). Tapi energi yang diperlukan untuk menghasilkan hidrogen
jauh lebih besar dari energi yang diperlukan untuk memompa dan
memurnikan gas alam. Dugaan saya hasil akhirnya jatuhnya akan di
situ-situ juga.

Jadi pendapat saya kurang tepat kalau kita bicara soal hidrogen
sebagai "sumber energi" apalagi sebagai pengganti energi nuklir.
Lebih tepat kalau hidrogen itu diposisikan bersaing dengan METODE
TRANSPORTASI ENERGI yang lain. Umpamanya kalau orang sudah bisa
menemukan cara penghantaran listrik yang lebih efisien daripada
lewat kabel seperti sekarang, atau kalau orang sudah bisa menemukan
aki (battery) yang sanggup menyimpan energi listrik dalam jumlah
besar dalam waktu yang lama, maka bisa jadi hidrogen ini tidak akan
terpikirkan lagi. Kalau kita lihat teknologi aki juga sudah semakin
canggih, terutama didorong oleh lakunya mobil bertenaga hibrida.

Soal sumber energi pengganti bahan bakar fosil, tetap saja pilihan
terbaik jatuh pada energi terbarui (angin, air, pasang surut).
Energi nuklir itu sepertinya juga bukan energi terbarui karena
uranium adalah bahan tambang dan suatu waktu akan habis. Kecuali
kalau nanti kita sudah bisa menambang uranium dari asteroid seperti
di film-film itu.

Maaf kepanjangan. Kalau omong-omongan teknik begini semangat '45
saya keluar, hehehe.

Andi

Kirim email ke