Rekan Edy. Penyebab kecelakaan yang anda kemukakan itu benar semua, bisa dikatakan ini adalah phenomena kegagalan penangan transportasi di jalan, dan saat ini adalah PANEN dari seluruh kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah SEJAK LAMA dan OLEH SEMUA PIHAK. Dilakukan oleh legislatif, eksekutif, yudikatif dan para pakar sekalipun, lalu dijalan oleh pengusaha dan pengemudinya dan katanya semua itu demi angkutan umum di jalan yang menjadi hak kebutuhan mendasar Rakyat Negara ini yang dijamin oleh UU ........sangat menyedihkan tapi.......kenyataan.
Contoh kasus; Busway koridor 2 dan 3 yang hampir bangkrut karena dana yang harusnya di bayarkan kepada operator di tolak alokasinya oleh DRPD itu adalah salah satu contoh komponen penguasa negara ini yang ikut merusak. Busway itu baru jalan 1 tahun, kalau angkutan umum lainnya sudah sejak kemerdekaan negara kita. Kalau saja kondisi angkutan lain sama seperti yang terjadi di Busway, sopirnya hanya digaji setengah, kurang nya mereka akan mencari sendiri di jalan. (ugal2an - berhenti sembarangan - tidak berperikemanusiaan). Kekurangan lainnya yang diterima pengusaha....mereka akan cari solusi dari bagian mana.....yang pasti dikurangi adalah perawatan untuk menjamin kenyamanan dan keselamatan. Inti masalahnya tidak perlu orang pintar di dunia ini untuk mengetahui hal itu, tukang becak di jawa timur pun sudah tau, terjemahan bahasa daerahnya........."murah koq minta selamat" Penegakan hukum yang lemah, menjalankan aturan yang lemah pula dimana semua bermuara di uang.......hal ini sudah menjadi rahasia umum, tapi yang menarik adalah.......para pakar transportasi nasional...........mereka itu ikut berperan dalam kerusakan ini......contoh di busway tadi....sampai saat ini tidak ada komentar satu pakar transportasi pun yang membahas, kalau pembayaran kepada operator angkutan umum dikurangi apa yang akan terjadi.......yang ada mereka juga ikut menghujat pengusaha dan pengemudi atas kesemrawutan yang terjadi di angkutan umum yang ada. Apakah mereka memberitahu DPRD DKI waktu keputusan pemotongan rencana subsidi digulirkan, dan dampak dari pemotongan itu terhadap kenyamanan dan nantinya pasti akan berdampak terhadap keselamatan ? Contoh lainnya, monorail.....kemana tuh konsultan yang membuat proposal dan study cocoknya monorail untuk Jakarta, yang sibuk bicara hanya pengusahanya saja, setelah gagal mencari dana dalam negeri, lalu keluar negeri yang menuntut jaminan pemerintah.....kalau sudah dijamin oleh pemerintah baru perbankan dalam negeri mau ikutan pinjamkan uang nya. Ini salah satu contoh kasus ikut berperannya orang2 pintar/pakar dalam kerusakan transportasi angkutan di jalan, dalam proposal tersebut sudah pasti tidak ada kajian ekonomis yang bisa dipertanggung jawabkan.......apakah proposalnya bankable atau tidak....kalau bankable sih pengusaha tidak perlu sulit2 semua perbankan akan berebut membiayai program yang di study oleh konsultan tersebut. Solusi dari phenomena kesemrawutan transportasi di jalan tentunya sudah kita bisa simpulkan......semua pengelola negara ini harus mau berperan AKTIF dan menanggung resiko nya, bukan hanya dibebankan kepada pengemudi dan pengusaha dan penumpang/non penumpang. Lalu.....apakah mau memperbaiki? ...pengusaha, pengemudi dan penumpang/non...pasti mau...lha wong kalau celaka yang dirugikan mereka....yang lain / yang tidak dirugikan tapi berkuasa ????????? Kembali ke peniadaan pintu sopir saya setuju, itu bukan satu2nya solusi, tapi perlu saya informasikan itu bukan satu2 nya cara instant, itu hanya penegasan riset yang sudah dilakukan. Design produk ADALAH SALAH SATU CARA, untuk bisa membentuk karakter manusia....seperti yang kita sering dengar........bagaimana mau tertib nyebrang melalui jembatan penyebarangan, kalau naiknya saja sudah tidak nyaman(cape), sudut kemiringannya besar. -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Edy P Sent: 14 Juli 2007 7:05 To: [email protected] Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Peniadaan Pintu Sopir Bus Kebanyakan kecelakaan kendaraan darat (bus, truk, mobil, motor, dll) lebih disebabkan oleh: 1. kesembronoan dan ketidaktaatan pengendara pada aturan yang ada; 2. keteledoran pemilik kendaraan yang tidak melakukan kontrol serta kurang memperhatikan kondisi kendaraannya; 3. sebagian petugas negara (kalau itu kendaraan angkut ya petugas kir kendaraan) yang lebih menomor satukan uang suap daripada benar-benar melakukan holistik check terhadap kondisi kendaraan; 4. kendaraan yang sudah out off date (tidak laik jalan) tapi masih dipaksakan terlebih di musim-musim kebutuhan akan alat angkut meningkat (seputar liburan panjang); dll. Pertanyaannya: MENGAPA SEKARANG YANG DIPERMASALAHKAN ADALAH PINTU DI BAGIAN SOPIR? Kok konstruksi kendaraan yang harus pertama-tama diubah, MENGAPA BUKAN MENTALITAS MANUSIANYA (siapapun yang terlibat dalam penyelenggaraan angkutan umum itu khususnya)??? Inilah kelucuan yang untuk kesekian kalinya muncul pasca adanya kecelakaan yang berakibat fatal. Itukah jalan pemecahan yang sesungguhnya??? edy pur
