Secara kualitas pekerjaan laki-laki juga kebanyakan tidak di posisi pengambil keputusan, Bu. Sama saja. Kalau kita bicara perempuan kebanyakan, ya bandingkanlah dengan laki-laki kebanyakan.
Rata-rata laki-laki yang kerja di kantor itu cuma penghuni cubicle saja. Kerja 40 jam seminggu selama 40 tahun, menjalankan perintah atasan. Yang menjadi "pengambil keputusan" itu adalah sebagian kecil lelaki (dan sebagian kecil wanita) yang bersedia bekerja keras dan bersaing menuju puncak dan tidak menghabiskan waktunya di mailing list seperti saya ini. Kenapa lebih sedikit wanita yang berada di jabatan puncak? Tanyakan sama wanitanya, Bu. Saya sudah belasan tahun bekerja di beberapa perusahaan dan belum pernah mendengar ada orang ditolak promosinya atau dibedakan bayarannya karena jenis kelaminnya. Bisa jadi buruh perempuan membawa pulang uang lebih sedikit dari buruh laki-laki. Tapi itu biasanya karena mereka ini tidak suka mengambil lembur karena tidak mau pulang malam. Di sisi lain, seringkali saya perhatikan wanita yang pinter-pinter itu memutuskan untuk keluar dari persaingan menuju puncak karir karena merasa ada panggilan yang lebih kena di hatinya yaitu memberi perhatian lebih ke keluarganya. Kenapa begitu? Mungkin ada baiknya dipelajari juga dan ditanyakan kepada yang mengambil keputusan demikian. Perempuan juga bukannya tidak mengambil keputusan di dalam rumah tangga. Cuma saja mereka seringkali membuat semua keputusan bersama itu dibuat seakan-akan suaminyalah yang pengambil keputusan terakhir. Padahal para suami yang kasihan itu sudah tahu bahwa kalau ada dua pilihan A atau B, maka isterinya sudah memberi tanda-tanda bahwa keputusannya harus A. Kalau sampai keputusannya B, maka tanggung sendirilah akibatnya...(umpamanya dicela-cela latah tanpa sebab seperti di bawah) Andi --- In [email protected], Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Wah ini komentar latah namanya. Pernyataan saya bukan menuding > laki-laki itu lebih santai. Begini maksud saya, baca pelan-pelan. > Secara kualitas pekerjaan perempuan kebanyakan tidak di posisi pengambil keputusan, > termasuk di rumah tangga. Secara kuantitas memang kelihatannya banyak. > Di posisi pengambil keputusan seperti: banyakan siapa yang jadi direktur? > Pemilik perusahaan? Manager? Menteri? Presiden? Pegawai > Negeri? Hakim? Polisi? Koki restoran dan hotel? > > Saya menunjukkan bahwa ada pembagian peran dalam pekerjaan. > Bahkan dalam akses pendidikan. > Ini pekerjaan lelaki dan itu perempuan, yang padahal keduanya bisa saling > bertukar peran (termasuk tambang, becak, kondektur, supir taksi dll). > > Jadi jangan diartikan sempit santai atau tidak santai. Kita juga bisa > lihat dari perbedaan upah, perempuan biasanya lebih rendah. > > Mariana > > Thursday, July 12, 2007, 12:11:22 PM, you wrote: > > > Beda benar nasibnya ya , Bu? Tidak seperti para laki-laki yang bisa > > dapat pekerjaan ringan seperti tukang becak, pekerja tambang, kuli > > angkut pelabuhan, anak buah kapal, buruh bangunan, pencari burung > > walet... > > > Kasihan juga para perempuan itu yang terpaksa jadi ibu rumah tangga > > harus bekerja berat seperti bangun pagi, bikin kopi, memasak, > > sementara yang laki-laki boleh memilih pekerjaan santai apakah mau > > jadi tukang becak, kuli angkut, pekerja tambang, kadang-kadang > > bersantai lebih dari 18 jam sehari: genjot terus tuh becak sampai > > malaaaaaaam... > > > Andi >
