Bung Agus H, kayaknya judul postingan dg isi postingan nggak nyambung. Dalam isi postingan, tak ada tulisan yg secara implisit atau eksplisit menyatakan perlunya materi budi pekerti. Negara kita mungkin termasuk salah satu negara yg materi budi pekerti dalam kurikulum (termasuk pelajaran agama, pendidikan kebangsaan, sejarah ttg para pahlawan dsb) terbanyak di dunia.
IMO, komentar Mendiknas sudah tepat bahwa banyak faktor2 di luar sekolah yg mempengaruhi prilaku siswa, termasuk faktor2 lingkungan rumah (mis. keberadaan alat2 hiburan dalam rumah) dan faktor orang tua (mis. orang tua suka nonton film laga dan main game kekerasan), bukan cuma faktor dari sekolah (mis. faktor kurikulum sekolah). Salam NB: Saya tidak mengharamkan alat hiburan, tetapi saya lihat banyak anak2 menjadi terlalu tergantung dan tersita waktunya oleh alat2 tersebut, bahkan meniru gaya jagoan2 dalam filem/game yg cuma animasi belaka. --- In [email protected], "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/14/humaniora/3988618.htm > ====================== > > Jakarta, Kompas - Berbagai kekerasan yang terjadi di sekolah tidak > semata-mata tanggung jawab sekolah, tetapi juga masyarakat dan > orangtua murid. Kekerasan yang terjadi pun bisa akibat pengaruh > lingkungan masyarakat, media, maupun secara tidak sengaja sekolah > menerapkan struktur kekerasan. > > "Kejadian kekerasan di sekolah banyak yang mengeluhkan itu persoalan > akhlak dan budi pekerti," kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) > Bambang Sudibyo seusai rapat koordinasi bidang kesejahteraan di > Jakarta, Selasa (13/11). Meski demikian, Mendiknas tidak menyinggung > kewajiban sekolah menerapkan pelajaran budi pekerti. > > Mendiknas hanya mengharapkan agar orangtua berperan aktif mendidik > anak-anaknya sehingga tidak mudah terpengaruh oleh teman-teman yang > mungkin bisa menjerumuskan mereka. Mata rantai kekerasan harus > diputuskan dengan memberi pendidikan yang baik kepada anak-anak. > > Pembelajaran kreatif > > Secara terpisah, sejumlah sekolah mulai mengembangkan pembelajaran > kreatif, misalnya di SD Citra Berkat Surabaya. "Sekolah ini > mengembangkan pembelajaran kreatif dengan memanfaatkan kurikulum > nasional yang diperkaya dengan pendidikan karakter dan > entrepreneurship," kata Endang Trisulistowati, Kepala SD Citra Berkat > Surabaya, Selasa. > > Menurut dia, guru sekarang ini tidak bisa lagi menempatkan dirinya > sebagai pentransfer ilmu yang menjadikan guru sebagai pusat > pengetahuan. Justru pembelajaran harus mendorong siswa kreatif dan > dengan menggali segala potensi dirinya. > > "Karena itu, di sekolah ini siswa diberi keleluasaan untuk > mengeluarkan pengetahuan dan ide-ide yang muncul selama proses > belajar," kata Dwi Sunu, Kepala Pusat Kurikulum untuk Pendidikan > Kewirausahaan YayasanCiputra Entreprenir Surabaya. > > Agar tidak membelenggu kreativitas siswa, sekolah ini meniadakan > buku-buku teks wajib. Pembelajaran dilaksanakan dengan berfokus pada > tema, lalu siswa diberi kebebasan untuk mencari sumber belajar. Guru > berperan agar kreativitas sesuai koridor. (LOK/ELN) >
