Saya setuju dg sebagian besar pendapat bung Tobing dan saya simpulkan bahwa ada kesalahan dalam pendidikan budi pekerti di Indonesia yg tidak membumi, karena terlalu banyak pendidikan budi pekerti hanya degan tujuan agar setelah meninggalkan bumi, bisa masuk sorga alias tidak masuk neraka atau agar benar-atau-salah harus tetap membela (negara dan warga) Indonesia.
Banyak orang tidak menyadari bahwa yg menjadi ukuran atau kriteria masyarakat umum ttg keberhasilan sistem pendidikan budi pekerti dari anak2 didik kita adalah dari prilaku se-hari2 anak2 tsb (sampai dewasa) selama masih tinggal di bumi. Bagaimana anak2 didik kelak tidak menjadi orang yg suka demo anarkis atas nama (calon) bupati atau gubernur, atas nama organisasi, atas nama agama atau kesetiakawanan, dsb, bagaimana bisa berlalu-lintas dg baik (kalau mobil di depan sudah kasih sinyal mau minggir kiri jangan malah ngebut agar bisa 'lolos' dg menyalip mobil itu dari kiri), bagaimana ketika di elevator mall anak2 didik tidak berdiri bergandengan shg menghalangi orang2 yg perlu cepat naik lewat elevator yg sama), tidak tawuran, dsb. Tetapi kembali ke faktor pembentuk prilaku, sekolah belum tentu bisa berobah peran menjadi faktor utama. Tetap saja lingkungan rumah dan orang tua adalah faktor utama pembentuk budi-pekerti. Jadi kalau orang-tua pernah atau sering korupsi ala orde baru, yaa wajar kalau anaknya ikut korupsi atau paling tidak bisa 'mengerti' dan bisa 'memaafkan' koruptor2 orde baru. Misalnya ada dua kelompok (termasuk orang2 tua) tawuran, spt misalnya tawuran antara dua kelompok pendukung cagub, jelas orang2 (tua) yg terlibat tawuran ini telah mendapat salah asuhan, he, he, he sejak mereka sekolah dari SD s.d. tamat. Masakan yg salah cuma sekolah2 tempat mereka dulu pernah mendapat pendidikan? Mungkin inilah yg dimaksud Mendiknas agar pendidikan di sekolah jangan dijadikan satu2-nya kambing hitam atas kasus2 kegagalan pendidikan budi-pekerti. Salam --- In [email protected], "Tobing Rinsan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Salam, > > Ada stu pertanyaan yang pernah diajukan kepada saya; manakah yang lebih enak > di Rusia jaman komunis yang ada cuma satu pilihan, atau di Amerika yang > menghadirkan banyak sekali pilihan? Misalnya, makanan. Sebelumnya di Rusia, > katanya, hanya tersedia satu jenis roti untuk makanan utama yang disediakan > oleh pemerintah, sementara di Amerika banyak sekali pilihan roti. Jawaban > saya tentunya di Amerika karena banyak pilihan. Sehingga jika saya bosan > dengan pilihan pertama, maka saya akan beralih ke pilihan selanjutnya yang > mungkin lebih enak.
