Salam, Ada stu pertanyaan yang pernah diajukan kepada saya; manakah yang lebih enak di Rusia jaman komunis yang ada cuma satu pilihan, atau di Amerika yang menghadirkan banyak sekali pilihan? Misalnya, makanan. Sebelumnya di Rusia, katanya, hanya tersedia satu jenis roti untuk makanan utama yang disediakan oleh pemerintah, sementara di Amerika banyak sekali pilihan roti. Jawaban saya tentunya di Amerika karena banyak pilihan. Sehingga jika saya bosan dengan pilihan pertama, maka saya akan beralih ke pilihan selanjutnya yang mungkin lebih enak.
Bagaimana saya bisa menikmati pilihan-pilihan tersebut dengan baik, sementara kecenderungannya saya akan memilih piihan selanjutnya sebelum saya mengenal betul dengan pilihan yang pertama tadi. Ternyata banyak pilihan menjadikan kita bingung dengan diri kita sendiri. Kita memaksa diri kita untuk bersikap terhadap setiap pilihan. Padahal sebenarnya kita memiliki keterbatasan untuk merespon setiap pilihan. Kita menjadi bingung dan tidak dapat mengenali lagi pilihan-pilihan kita. Pada akhirnya kita tidak lagi bisa memilih dengan rasional, tetapi dengan asal dan sering sekali kita memilih sesuatu yang tidak kita kenal, sesuatu yang tidak sesuai dengan diri kita. Pilihan-pilihan menciptakan godaan-godaan. Godaan-godaan menciptakan siasat. Tentunya, jika kita tidak sanggup menahan godaan ini dan kita tidak memiliki potensi untuk menikmati godaan ini, maka siasat kita menjadi siasat yang tidak beraturan dan melanggar norma-norma yang ada. Ternyata kebanyakan pilihan tanpa adanya pemahaman terhadap kondisi banyak pilihan bisa menyusahkan. Fenomena itulah yang terjadi pada remaja-remaja kita ini. Mereka dihadapkan pada banyak pilihan tanpa disadarkan bahwa tidak semuanya harus mereka miliki. Hal-hal yang banyak tersebut tidak harus dimiliki, dinikmati, dikuasai atau dibeli. Masing-masing kita hanya memiliki beberapa pilihan yang cocok dengan diri kita. Jika kita memilih apa yang tidak cocok dengan kita, maka akan menyengsarakan. Bagaimana kesadaran ini tumbuh, yaitu dengan pelajaran budi pekerti tadi. Bagaimana bisa? Menurut saya, budi pekerti tidak hanya terbatas pada sopan santun saja tetapi juga norma-norma, nilai-nilai yang harus dijunjung. Dengan pendefinisian seperti itu, maka dengan adanya pelajaran budi pekerti ini, godaan-godaan yang timbul dari banyaknya pilihan-pilihan yang tersedia tidak akan menimbulkan siasat-siasat negatif. Si remaja dengan sendirinya, setelah dibekali budi pekerti ini, akan dapat menetralisir godaan-godaan tersebut dan menjatuhkan pilihannya pada pilihan-pilihan yang bermanfaat pada dirinya sendiri dan sesuai denga dirinya sendiri. Aktifitas kekerasan yang terjadi pada anak remaja kita juga karena mereka memilih sesuatu yang sangat menggoda, sementara pilihan tersebut tidak baik buat dirinya sendiri dan berakibat negatif pada orang lain. Jika pelajaran budi pekerti diterapkan, maka si remaja terebut tidak akan memilih kekerasan. Salam Rinsan Tobing *KeepItClean!!DontLitter!!StayHealthy!!* On 11/15/07, loekyh <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bung Agus H, kayaknya judul postingan dg isi postingan nggak > nyambung. > > Dalam isi postingan, tak ada tulisan yg secara implisit atau > eksplisit menyatakan perlunya materi budi pekerti. Negara kita > mungkin termasuk salah satu negara yg materi budi pekerti dalam > kurikulum (termasuk pelajaran agama, pendidikan kebangsaan, sejarah > ttg para pahlawan dsb) terbanyak di dunia. > > IMO, komentar Mendiknas sudah tepat bahwa banyak faktor2 di luar > sekolah yg mempengaruhi prilaku siswa, termasuk faktor2 lingkungan > rumah (mis. keberadaan alat2 hiburan dalam rumah) dan faktor orang > tua (mis. orang tua suka nonton film laga dan main game kekerasan), > bukan cuma faktor dari sekolah (mis. faktor kurikulum sekolah). > > Salam > > NB: Saya tidak mengharamkan alat hiburan, tetapi saya lihat banyak > anak2 menjadi terlalu tergantung dan tersita waktunya oleh alat2 > tersebut, bahkan meniru gaya jagoan2 dalam filem/game yg cuma animasi > belaka.
