Laahh....Pak Menteri iki piye sih!! kok nyalahin guru dan ortu!! gimana gaji 
dan kesejahteraan para guru2 apakah masih dipotong-potong?? gimana para guru 
mau konsep kalo pikiran nya masih memikirkan bayar sewa rumah?? 
tapi....alhamdulillah masih ada juga lo guru yang bener2 berdedikasi dengan 
pekerjaan tapi itu satu diantara sejuta!!

Pelajaran budi pekerti dulu saya mendapatkannya selain juga mendapat pelajaran 
agama. Dalam pelajaran budi pekerti itu saya masih ingat diajarkan bagaimana 
menghormati "orang tua" seperti jika orang tua lagi duduk/jongkok, kita tidak 
boleh bicara sambil berdiri dan kita harus jongkok juga. Trus jika memberikan 
gunting kepada orang tua maupun orang lain, bagian ujungnya jangan diarahkan 
kepada yang menerima tapi arahkan ke kita dll. O....saya masih ingat waktu 
sekolah di SD Angkasa I Halim Perdana Kusuma, dengan guru yang bernama Pak 
Munir. Dia ingin anak2 tidak menginjaki rumput2 sekolah karena akan cepat 
rusak, maka dia menyampaikannya kepada kita semua dengan sebuah cerita!! yang 
ada himbauan tersebut dipatuhi oleh para murid2 SD.

Saya bingung dengan anak2 muda sekarang, tidak ada sopan santun, tidak ada 
etika dan tidak memahami cara pergaulan yang baik. Yang ada mereka suka-suka 
nya sendiri saja dan terus terang bila saya bertemu dengan anak muda yang 
kurang ajar, maka saya akan marahin dia. Itulah jadinya saya terkenal dengan 
orang yang galak di kantor!! ha..ha..ha... ga papa yang penting sopan santun 
berlaku di kantor saya karena orang muda tersebut menjalankan etika pergaulan 
yang benar.....

Have a great Thursday to all of you......

  ----- Original Message ----- 
  From: Agus Hamonangan 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, November 14, 2007 5:48 PM
  Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Perlu Materi Akhlak Budi Pekerti


  http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/14/humaniora/3988618.htm
  ======================

  Jakarta, Kompas - Berbagai kekerasan yang terjadi di sekolah tidak
  semata-mata tanggung jawab sekolah, tetapi juga masyarakat dan
  orangtua murid. Kekerasan yang terjadi pun bisa akibat pengaruh
  lingkungan masyarakat, media, maupun secara tidak sengaja sekolah
  menerapkan struktur kekerasan.

  "Kejadian kekerasan di sekolah banyak yang mengeluhkan itu persoalan
  akhlak dan budi pekerti," kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas)
  Bambang Sudibyo seusai rapat koordinasi bidang kesejahteraan di
  Jakarta, Selasa (13/11). Meski demikian, Mendiknas tidak menyinggung
  kewajiban sekolah menerapkan pelajaran budi pekerti.

  Mendiknas hanya mengharapkan agar orangtua berperan aktif mendidik
  anak-anaknya sehingga tidak mudah terpengaruh oleh teman-teman yang
  mungkin bisa menjerumuskan mereka. Mata rantai kekerasan harus
  diputuskan dengan memberi pendidikan yang baik kepada anak-anak.

  Pembelajaran kreatif

  Secara terpisah, sejumlah sekolah mulai mengembangkan pembelajaran
  kreatif, misalnya di SD Citra Berkat Surabaya. "Sekolah ini
  mengembangkan pembelajaran kreatif dengan memanfaatkan kurikulum
  nasional yang diperkaya dengan pendidikan karakter dan
  entrepreneurship," kata Endang Trisulistowati, Kepala SD Citra Berkat
  Surabaya, Selasa.

  Menurut dia, guru sekarang ini tidak bisa lagi menempatkan dirinya
  sebagai pentransfer ilmu yang menjadikan guru sebagai pusat
  pengetahuan. Justru pembelajaran harus mendorong siswa kreatif dan
  dengan menggali segala potensi dirinya.

  "Karena itu, di sekolah ini siswa diberi keleluasaan untuk
  mengeluarkan pengetahuan dan ide-ide yang muncul selama proses
  belajar," kata Dwi Sunu, Kepala Pusat Kurikulum untuk Pendidikan
  Kewirausahaan YayasanCiputra Entreprenir Surabaya.

  Agar tidak membelenggu kreativitas siswa, sekolah ini meniadakan
  buku-buku teks wajib. Pembelajaran dilaksanakan dengan berfokus pada
  tema, lalu siswa diberi kebebasan untuk mencari sumber belajar. Guru
  berperan agar kreativitas sesuai koridor. (LOK/ELN)



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke