Pak Tamrin,

Benar saya sepenuh hati mengatakan itu, dan mungkin arahnya tidak
seperti yang Pak Tamrin pikirkan, karena memang salah saya secara
sepotong menggunakan kalimat itu.

Dalam pandangan sejarah saya, saya tetap melihat Marxian sebagai
sebuah basis sejarah, susunan masyarakatlah yang membuat sejarah.
Disini pemahaman saya bangsa sebagai sejarah pemikiran adalah proses
kedua setelah terjadi dialektis dengan susunan masyarakat Pak...Jadi
sejarah pemikiran itu mata rantai kedua setelah susunan masyarakat
(alam materialitas yang memancing idee).

Saya tidak sepakat dengan Hegel, dan menyetujui pernyataan Marx
bahwa Hegel menaruh kepalanya dibawah sementara kakinya diatas dalam
memahami gerak sejarah. Marx-lah yang mengembalikan, kepala tetap
diatas dan kaki dibawah. Dari situlah kita mulai mempelajari sejarah.

Terima kasih atas koreksinya Pak Tamrin...

ANTON


--- In [email protected], Martin goro-goro
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bung Anton,
>
> Apa Bung benar-benar serius saat menulis: bangsa
> adalah sejarah pemikiran? Kalau menyimak tulisan Bung
> sejauh ini, yang lebih tepat adalah: Pemikiran
> (berbasis) Sejarah adalah landasan kokoh sebuah
> bangsa.
>
> Dengan rumusan: bangsa adalah sejarah pemikiran maka
> saya kok melihat Bung sepakat dengan Hegel untuk
> berupaya memaksa Marx melangkah (dalam sejarah) dengan
> kepala di bawah! Pemikiran adalah gagasan, ide,
> tentang apa saja, termasuk sejarah, yang belum tentu
> sama, apalagi merepresentasikan derap sejarah yang
> sesungguhnya.
>
> Gimana secara ontoligis?
>
>
> tat
>
> Tamrin Amal Tomagola

Kirim email ke