Ass.Wr.Wb.

Sangat terharu membacanya, mengapa tidak kita kupas balik Sejarah2 NKRI dari
awal lagi agar tidak hancur lebur yang dikehendaki oleh Neo-Imprealisme yang
sudah lama mengincirnya, dengan jatuhnya Bung Karno lengkaplah sudah
tujuannya setelah Soeharto ditempatkan oleh Oknum Imprealisme tersebut untuk
meneruskan NKRI, ... lihatlah-lihat ... kenyataan yang sudah merebak dan
sudah tidak dapat lagi terjangau oleh Rakyat Indonesia Merdeka yang mana
para Leluhurnya menghendaki anak cucu untuk Hidup Merdeka.

Wassalam
Mamang


On Nov 20, 2007 9:48 PM, Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   Anda benar benar seorang pendukung Bung Karno.
>
> Sedikit koreksi: beliau mengunjungi sekolah selevel SMP dan Pak Frans Seda
> waktu itu yang mewakili murid murid untuk "menyalami dan menyapa" beliau.
> Sebuah puisi yang diucapkan dan ketika Frans Seda bergabung dalam kabinetnya
> menjadi menteri perkebunan pak Frans terpana karena Bung Karno masih
> mengingat puisi tersebut. (pak Frans menyebut judulnya dan Bung Karno
> mengulangi isinya).
>
> Soal pohon sukun.
> Bung Karno diijinkan bebas bergerak sendirian dengan radius 8 km dari
> pusat kota. Namun hampir setiap soreh beliau duduk dibawah sebatang pohon
> sukun, kira kira 200 m dari bibir pantai Ende. (Kota Ende diapit oleh dua
> buah teluk: teluk Ende dan teluk Ipi). Pemandangan senjah hari disana sangat
> eksotik (hingga hari ini) karena didepan teluk Ende terletak Pulau Ende
> (tempat salah satu benteng Portugis di Flores sejak abab 16) serta gunung
> Ebulobo yang menjulang dibelakangnya. Jika senjah hari langit memerah dan
> bulatan mentari merah turun perlahan, menimbulkan pantulan warnah merah
> dipermukaan laut dari bibir pantai hingga kepulau Ende dan menghilang di
> horizon. Puncak Ebulobo menambah eksotiknya pemandangan itu. Di tahun 1934
> -1938, tatkala langit masih sangat bersih, juga laut..pemandangan itu pasti
> lebih indah. Beliau duduk di bawah pohon sukun dengan meja kecil dan
> merenung serta menulis. Pemandangan yang eksotik dan memukau di depannya
> tentu merupakan katalisator
> munculnya berbagai gagasan murni semurni alam indonesia di depannya.
> Mungkin surat surat beliau ke Bogor juga ditulis disana. Mungkin juga,
> saripati dari berbagai diskusi dengan para pastor ditulis disana, Mungkin
> juga naskah drama yang dipentaskan di Imakulata juga ditulis disana.
> Pohon sukun itu telah lama mati. Penduduk Ende berusha menanam lagi dan
> membangun tembok yang melingkari lokasi pohon sukun tersebut. Dimasa orde
> baru, ketika semua yang berbau Sukarno dilarang oleh rejim Suharto, penduduk
> Ende tetap mempertahankan jalan utama di dekat pohon sukun tersebut dengan
> nama: Jalan Sukarno. Hingga saat ini.
>
> Sekarang ini telah ditanam pohon sukun baru dan kebetulan sekali bahwa
> sukun tersebut bercabang lima hampir dari permukaan tanah. Walaupun tidak
> ada bukti otentik yang pernah saya baca, banyak yangmengatakan bahwa
> renungan beliau tentang bentuk negara serta dasar negara telah dimulai
> ditempat itu. Toh, beliau memiliki banyak waktu untuk merenung, berrefleksi
> daripada ketika di bandung (di jawa) pasti sibuk dgn berbagai rapat dan
> gerakan politik. Orang orang Ende mengatakan bahwa lima cabang yang muncul
> itu melambangkan Pancasila yang benihnya mungkin ditanam dalam dada salah
> satu pendiri utama republik ini disana. Sayangnya didekat pohon Sukun itu
> kini dibangun patung Bung Karno dengan pakaian kebesaran seorang Presiden
> dan berdiri dengan gagah. Saya merindukan patung seorang Bung karno di
> pembuangan, yang duduk di meja sederhana dengan pakaian piyama sedang
> membaca atau menulis sambil memandang keteluk. Itu lebih historis bagi
> tempat tersebut ketimbang patung saat ini
> yang dibangun oleh Pemda yang tidak memiliki sense of history.
>
> Sekali lagi. Kita merindukan orang seperti beliau, Hatta, Tan malaka dll.
>
> Salam, Irry.

Kirim email ke