Bukan saja arus pemikiran bagi tokoh-tokoh pemenang sejarah, anak muda sekarang harus paham kronika pemikiran beberapa tokoh di bawah arus pusaran sejarah seperti : Hadji Misbach Sudisman Njoto Kartosuwirjo Ali Sadikin Soedjatmoko Dan tentunya kaum kelayaban di Paris sana Mereka adalah bagian dari Indonesia, dan kronikanya harus kita pahami jangan sampai kita jatuh di lobang sejarah yang sama seperti ketika jembatan keledai dibangun Suharto tempo waktu.
Sebuah bangsa adalah imajinasi, itu kata Ben Anderson Kata Saya : Sebuah bangsa adalah sejarah pemikiran, betul bukan Pak Tjuk? ANTON --- In [email protected], Iwan Syahril <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Untuk negara dengan tingkat kepadatan pendudukan yang sangat luar biasa, terutama di pulau Jawa, adalah sangat aneh bin ajaib jika kita tidak memiliki sarana transportasi umum yang massal, cepat, nyaman, murah dan terjamin. Karena dampak ketika ini tidak terjadi adalah makin membludaknya jumlah kendaraan di jalanan. Dengan penduduk pulau Jawa yang sedemikian padat, kita perlu pembatasan jumlah kendaraan, namun ini harus dibarengi dengan sarana trasnportasi umum massal yang dapat diandalkan tadi. Ini merupakan proyek besar, namun sudah sangat mendesak sifatnya. Busway merupakan solusi yang bagus, dan perlu ditiru di kota-kota besar lainnya. > > Mengeai ajaran-ajaran Bung Karno, saya juga sepakat kalau kita perlu mengenali pemikiran2 beliau, seperti juga kita perlu mengenali pemikiran-pemikiran tokoh lainnya seperti Bung Hatta, Bung Syahrir, Ki Hadjar Dewantara, H. Agus Salim, Buya Hamka, dsb. Kita punya banyak tokoh besar dengan pemikiran dan visi yang luar biasa, lepas dari kita sepakat atau tidak sepakat. Sayang sekali kalau terjadi pendangkalan sejarah, terutama kalau saya melihat fenomena di sekolah. Sejarah lebih bersifat hafalan dan bukan pada terbentuknya pemahaman-pemahaman terhadap berbagai realitas sejarah. Sudah saatnya anak-anak kita (dan barangkali kita semua) untuk membaca buku-buku, tulisan-tulisan, artikel-artikel, yang ditulis oleh para pendahulu kita sebagai bagian dari pembelajaran sejarah. Seperti tulisan-tulisan para aktivis Perhimpunan Indonesia di surat kabar "Indonesia Merdeka", Surat-surat RA Kartini, dan berbagai primary sources lainnya, daripada pembelajaran yang > superfisial dengan menghafal apa yang terjadi pada tanggal sekian, siapa yang terlibat, dsb, lalu pada saat ujian siapa yang kuat hafalannya maka akan mendapat nilai yang bagus. Bung Karno pernah berkata tentang JAS MERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Sebuah himbauan yang sangat relevan sampai kapan pun. > > Salam. > Iwam > > http://iwansyahril.blogspot.com > "It's not about how smart you are, but how you are smart." > (Howard Gardner)
