Yah, Group Tonil ini sangat terkenal di Ende, karena dulu di Ende nggak ada bioskop jadilah setiap pertunjukkan tonil yang diadakan Bung Karno di gedung Paroki Immacullata dipadati pengunjung. Nama tonil ini Toneel Klub Kelimutu, sesuai dengan nama danau tiga warna yang ada di Flores sana. Bu Inggit sendiri yang kasih nama Kelimutu, soalnya Inggit yang kerap diantar Asmara Hadi (guru bahasa Inggrisnya Ratna Djuami dan nanti jadi istri Ratna Djuami anak angkat Bung Karno) sering melewatkan waktu di Kelimutu.
Awal adanya tonil ini dari rasa frustrasi Sukarno karena tidak ada lawan bicara yang imbang dengan wawasan sepadan, barulah di satu sore Sukarno bertemu dengan seorang pastor Paroki yang bernama Pater (kalau di Jawa Romo) Huijtink, SVD (SVD = Societas Verbi Divini ) dari Huijtink lah kemudian Bung Karno mendapat lawan bicara yang sepadan dan tahu banyak tentang seluk beluk perkembangan agama Katolik Roma. Hal yang paling dikagumi Bung Karno adalah masalah misionaris. Disinilah Bung Karno menarik pemikiran misionaris dengan perkembangan Islam di tanah air dimana Bung Karno mendapat lawan berpikir A Hassan pentolan Persis dan anak muda berbakat bernama Natsir. Isi Surat menyurat antara Sukarno dan A Hassan boleh dibilang sebuah sikap Sukarno terhadap Islam yang menghendaki pembaharuan walau banyak juga yang dikoreksi Natsir. Pandangan Sukarno tentang Islam dalam korespondensinya dengan A Hassan menjadi sebuah katalisator bergabungnya kaum Islam dengan kaum Nasionalis sejak perpecahan SI menuju PSII yang semangkin berjarak dengan nasionalisme Indonesia karena ada pandangan Pan Islamisme untuk menyaingi Internasionalisme Komunis. Sukarno-lah yang berhasil mencetuskan pikiran : Nasionalis-Agama-Komunisme ke dalam ruang sejarah. Kembali ke tonil tadi. Ini yang tidak banyak diketahui bangsa Indonesia bahwa Sukarno pada hakikatnya seorang manusia cerdas multidimensi bahkan seorang yang diyakini punya kemampuan melihat sejarah dengan menghancurkan halangan waktu, salah satu tonilnya 1945 merupakan ramalan jitunya tentang kemerdekaan Indonesia, Sukarno tidak dibredel naskah tonilnya karena naskah itu merupakan pesanan dari Nathan, seorang pemimpin sandiwara keliling dari Manila. Lakon yang terkenal lagi kalau nggak salah yang mirip dokter Frankestein, yang oleh Sukarno digubah dengan judul : Dokter Setan. Tokohnya bernama Dokter Marzuki. Kisah ini menceritakan tentang kebangkitan manusia dari kematian, ini sama saja dengan cerita kebangkitan bangsa Indonesia setelah mati dalam alam penjajahan. Salah satu pemain tonil ini adalah pembantu paling setia Bung Karno yang bernama Riwu. Riwu inilah yang menemani keluarga Bung Karno dalam pembuangan-pembuangan berikutnya termasuk ke Bengkulu. Ada juga anjing Bung Karno yang dinamai : Ketuk satu, Ketuk dua. Riwu adalah salah satu orang yang didekat Bung Karno pada saat Proklamasi 1945 dibacakan. Saat upacara dia menangis tersedu-sedu kemudian melangkah ke arah dapur lalu dia ditegur seseorang "ada apa kamu nangis?" Riwu bilang "Mustinya yang ada disamping Bung Karno itu Ibu Inggit bukan Fatmah..." Riwu, begitu juga dengan dua anak angkat Bung Karno Ratna Djuami dan Kartika tidak setuju kalau Bung Karno menikahi Siti Fatmah (yang oleh Bung Karno dinamai Fatmawati) namun alasan Bung Karno kuat, dia tidak punya anak. Persoalan nikahnya Bung Karno dengan Fatmah juga merupakan kejadian sejarah karena yang terlibat adalah tokoh-tokoh penting seperti Hatta, Mas Mansoer, AK Gani dll. Hatta sendiri yang menyusun skema keuangan setelah perceraian Sukarno-Inggit. Sukarno tak pernah melupakan Inggit, setiap ke Bandung rumah pertama yang ia kunjungi adalah rumah Inggit. Ada cerita Bung Karno dan Inggit mengenalkan bibit tanaman dari Jawa ke raja Ende, sang Raja tertarik namun bibit yang ditanam Raja tidak tumbuh dengan baik, lalu sang Raja menuduh macam-macam, barulah ketika Bung Karno dan Inggit menerangkan cara bertani yang benar bibit tanaman itu tumbuh dengan baik. Dari Sang Raja ini kemudian Bung Karno diperkenalkan dengan link Raja-Raja se Pulau Nusa Tenggara Timur yang saat itu bergabung dalam gerakan Timor Verbond untuk mewujudkan Negara Timor Raya lepas dari Portugis dan Belanda. namun setelah kedatangan Bung Karno ke Flores para intelektual Timor Verbond termasuk dewan raja terpengaruh oleh semangat nasionalisme Sukarno, dan memutuskan untuk bergabung ke dalam Partai Indonesia Raya (Parindra) inilah yang harus dipelajari anak muda Timor alasan kenapa mereka bersatu dalam alam Indonesia, selain itu tidak boleh dilupakan pohon sukun tempat Bung Karno merenungkan Pancasila. Timtim sendiri sekarang terlihat kacau bukan, setelah lepas dari Indonesia? -walaupun secara pelik Timtim adalah proyek Suharto- Bung Karno menekankan pada gerakan Timor Verbond bahwa persatuan di wilayah Nusantara sangat penting agar Indonesia Raya jangan terpecah- pecah dan jadi mainan asing. Yang perlu dicatat saat awal Sukarno sering berkunjung ke Gereja Katolik Sukarno diajak ke sebuah sekolah dasar, di SD ada seorang anak bernyanyi untuk Bung Karno anak SD itu bernama Frans Seda, kelak menjadi salah satu menteri di jaman Bung Karno. ANTON --- In [email protected], Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Judul dan penerbitnya pak Haniwar ? > > Selama di Ende bung Karno memiliki suatu Group Tonil yang kebanykannya pemuda/i Muslim di Ende. Groupnya ini didukung oleh para pastor di Ende yang menyediakan segala kebutuhan Tonil serta gedung pertunjukan khusus. Buku buku bacaan juga biasa beliau dapatkan dari mereka yang selalu menjadi teman diskusinya. Selain tema agama, tema lain adalah ajaran sosial gereja (katolik) yang ada dalam sederetan ensiklik gereja sejak tahun 1891 ensiklik Rerum Novarum dari Paus Leo XIII (tentang Keadaan Kaum Buruh), yang umumnya merupakan kritik serta arahan Paus atas "sadisnya" kapitalisme. Ketika Bung Karno di Ende tahun 1934, Paus Pius X baru (1931) mengeluarkan Ensiklik Quadragesimo Anno yang berisikan Pembangunan Ulang Tata Sosial Dunia, dan menjadi bahan diskusi yang hangat. > > Ketika menjadi Presiden dan kembali mengunjungi Ende di tahun 1954, salah seorang teman diskusi beliau dipeluknya dan ditanya: apa ada keinginan Pater yang dapat saya bantu. Saya kini adalah Presiden RI. Dijawab, saya ingin menjadi warga negara Indonesia. Langsung dijawab beliau: Saat ini juga saya nyatakan kamu adalah warga negara Indonesia. > > Rumah tinggal beliau di Ende selama beberapa puluh tahun, diambil alih oleh keluarga pemiliknya. Almarhum ayah saya, sebagai pegawai Depdikbud waktu itu yang mendekati keluarga tersebut agar rela menyerahkan rumah itu untuk dijadikan museum oleh pemerintah. Saya beberapa kali bersama almarhum masuk ke rumah tersebut sebelum dijadikan museum. Kini sudah dijadikan museum. > > Salam, Irry.
