Pasar tradisional tidak perlu menjadi becek dan bauk. Karena di Singapore-pun
pasar tradisionalnya tidak becek dan bauk. Lha wong diarea untuk ikan-ikan dan
daging saja tidak bauk, kok?
Jadi tergantung pada...."cantelan"....eh...maksud saya tergantung pada
cara-cara mengelola pasar tradisional yang bersih dan teratur.
Semua itu tergantung dari (cantelan) "management" pengelola pasar tardisional
tersebut. Jika memang management nya mempunyai disiplin yang tinggi (tidak
hanya mengeruk uang para penjual dipasar tersebut) tetapi benar-benar mengelola
sanitasi nya; bagaimana saluran airnya dijaga dengan betul, etc. Maka
kebersihan dan "aesthetics" pasar tradisional akan tetap terjaga, dan menarik.
Jadi seperti mbak Evi Douren katakan, kita bisa pergi ke pasar dengan
berpakaian yang rapi juga. Gak hanya pakai short dan T-shirt, serta rambut
ondel-ondel and sandal jepit, bukan?
Salam,
Yuli
budi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sekarang bagaiman tanggapan masyarakat saja.
Biarkan hukum ekonomi pasar berlaku, meski dengan di proteksi segala
macem..kalao masyarakat lebih enjoy-nyaman belanja di hypermarket atau di
minimarket, ya... tentu pasar tradisional tidak bisa "bermanja" memohon terus
kekuatan pemerintah untuk menyingkirkan pasar besar.
Saya dan masyarakat tentu setuju jika lebih nyaman belanja di hypermarket.
suasana sejuk.. tidak becek..tidak ada lalat.. ada pramuniaga yg melayani
dengan ramah...tidak ada bau busuk..bisa lihat2 harga yg lain tanpa perlu
di-sewoti penjual... harga bersaing!
Ibu2 sekarang mosok harus ngikut terus jaman nenek moyang, suru belanja di
paras becek-bau-banyak lalat-daging glonggong-becek-teriak2 rame-desak
desakan-calo angkut/kuli angkut-banyak tanya& banyak lihat diomelin....
Biarkan lah para ibu rumah tangga yang belanja untuk keluarga ini bisa
menikmati belanja mereka.. udah suruh belanaj, masak,.. eh dapetnya tempat yang
kotor-jorok-bau!! apa gak kasihan..