Bu Lily, Saya juga kerap belanja di Pasar Panorama Lembang (tradisional). Bersama istri dan anak. Anak kami kelihatan senang dengan suasana pasar biarpun kalau musim hujan spt sekarang becek. Di sebelah barat pasar itu ada Yomart, Alfamart, dan Indomart. Biasanya saya parkir di salah satu toko tersebut, lalu menyeberang ke pasar, ke jongko langganan kami.:)
Berbelanja di pasar tradisional, termasuk merasakan becek2nya, memberikan suasana yg berbeda. Saya arsitek, jadi itu merupakan pengalaman menarik. Ada cahaya yg masuk dari celah2 atap pasar yg menimbulkan pemandangan fotografis yg menarik, ada bau, ada suara mesin pompa air penyegar kolam penjual ikan, dll. Tawar menawar juga hal yang menarik. Untuk produk segar sepengetahuan saya, pasar tradisional lebih murah. Saya juga petani, jadi pengetahuan harga2 terkini dari komoditas juga penting bagi saya. [Tentang ini, mungkin akan kita bahas pada diskusi terpisah. Pedagang pasar tradisional masih jauh lebih beruntung daripada petani. Petani jarang menikmati keuntungan ketika harga sedang baik--tengkulak yg untung besar dan pedagang juga masih untung--dan menjadi satu2nya yang merugi ketika harga ambrol. Saya kira pengertian resmi Fair Trade berhubungan dengan ketidakadilan ini, bukan persaingan antara hypermarket dan pasar tradisional. Diskusi menyoal Fair Trade, siapa takut?] Kami senang berbelanja di pasar tradisional. Ke toko besoar (Hypermarket hehe bercanda, soalnya sampai sekarang saya belum punya usul padanan bahasa Indonesia) hanya kalau ada promosi beli 2 dapat 3, untuk lampin dan beberapa produk2 pabrikan, spt Cocacola kesukaan saya :). Memang kerap muncul peringatan di kepala: kalau beli ke toko besoar, uangnya kebanyakan lari ke orang kaya, kalau beli di jongko, uangnya bisa digunakan keluarga Pak Marbun, pejongko sayur kecil, utk makan dan syukur2 sekolah anaknya. Itu yg membuat kami sebisa mungkin belanja di pasar tradisional ketimbang di toko besoar. Keculai sedang kehabisan uang tunai, jadi ke toko besoar karena bisa berutang pakai kartu hehe. Jadi, sambil Pak Haniwar dkk menyuarakan dan mengupayakan agar pedagang2 di pasar tradisional dilindungi dari terkaman raksasa2 toko besoar, saya cuma bisa berbisik: mari belanja di pasar tradisional juga. Dan nikmati sensasinya.... :) Saya perhatikan ada beberapa kejadian yg tidak lazim. Kalau ada mahasiswa sosiologi (?) yg berminat meneliti akan baik sekali. - Satu ketika di Yomart jual mangga Rp 2900/kg, banyak jongko di seberangnya menjual Rp 10.000/3 kg. Tidak ada keributan. Mungkin karena jumlah mangga yg dijual di Yomart nggak banyak dibandingkan yang di jongko. - Pada lain kejadian, misalnya ketika datang serbuan lengkeng dari Thailand, para pejongko yg hanya sanggup menjual lengkeng yg sejenis seharga Rp 11.000 per kg, akhirnya ber-bondong2 menyerbu Yomart yg menjual Rp 7450/kg utk dijual kembali di pasar. - Saya perhatikan cukup banyak warga miskin yg enggan masuk ke toko2 semacam Yomart. Mungkin di benak mereka sudah tertanam pasti lebih mahal. Padahal merekalah yg seharusnya menikmati selisih harga itu. (Termasuk selisih harga yg diperoleh oleh pemilik kartu kredit yg ditawarkan ketika belanja di toko2 besoar.) Ketidakcermatan pengaturan keuangan juga kerap terjadi pada mereka. Di pasar Lembang tiap hari banyak berseliweran anak2 menjual plastik kresek 500-an. Dan laku, karena entah kenapa kok banyak orang tidak siapkan tas ketika berbelanja. Ada banyak lagi kejadian, tapi tulisan ini rasanya sudah terlalu panjang. horas! erwin "Jasmine" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Se-kali2 belanja di pasar traditional, merupakan suatu pengalaman yang > menyenangkan. Bisa melihat langsung segala macam sayuran yang > warna-warni, segar2 dan juga yang lain2nya. Asal jangan kesiangan pergi > ke pasar traditional nya, bisa melihat yang serba segar. > > Lily
