Sukhoi Rusia Terkendala, AS Tawarkan F-16 http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.26.02032368&channel=2&mn=12&idx=12
Jakarta, Kompas - Pemerintah Amerika Serikat menawarkan peningkatan kemampuan empat pesawat F-16 buatan tahun 1970-an dan enam pesawat F-16 produksi 1990-an kepada Indonesia. Tawaran AS itu disampaikan saat Indonesia kesulitan membeli enam pesawat Sukhoi untuk menambah empat pesawat buatan Rusia itu. Tawaran pesawat F-16 itu disampaikan Menteri Pertahanan AS Robert Gates saat melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (25/2). Presiden didampingi Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono. "Kami bicarakan bagaimana AS bisa berkontribusi untuk upaya yang sedang berjalan dalam reformasi TNI dan membangun kapasitasnya terutama di wilayah udara dan perairan, baik dengan pelatihan dan peralatan," ujar Gates dalam jumpa pers bersama Juwono. Gates mengemukakan, AS siap membantu dengan cara apa pun sesuai kemampuan yang dapat dilakukan. Hubungan AS dengan Indonesia, ujarnya, berjalan sangat baik dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia menyambut tawaran itu untuk membangun kesetaraan kekuatan udara Indonesia dengan negara tetangga. Dalam waktu dekat, dua pesawat F-16 tahun 1970-an akan diperbaiki agar bisa terbang. Setelah itu, direncanakan pembelian F-16 tahun 1990-an atau yang usianya tidak lebih dari 15 tahun. "Kita tidak ingin membangun tiga atau empat skuadron F-16 karena tidak ada duitnya," ujar Juwono. Harga peningkatan kemampuan satu pesawat F-16 tahun 1970-an sekitar 30 juta dollar AS. Untuk tawaran itu, Indonesia menerima bantuan 16 juta dollar AS dari AS. Pengembalian akan dilakukan dengan mekanisme foreign military sales (FMS) dalam rentang waktu lima tahun. AS mengetahui Indonesia sedang berupaya memenuhi satu skuadron pesawat Sukhoi. AS tidak keberatan RI membeli pesawat tempur Rusia. "Karena kekisruhan penganggaran di Rusia, upaya pengadaan enam Sukhoi terkendala," kata Juwono. Sementara dalam pidatonya di hadapan Indonesian Council on World Affairs, Gates mengatakan, militer Indonesia belakangan ini menjadi lebih bermutu, profesional, dan lebih nyaman berada di bawah kepemimpinan sipil. Dalam acara itu hadir antara lain Gubernur Lemhanas Muladi dan mantan Duta Besar RI untuk PBB Makarim Wibisono. Jangan dikte Indonesia Secara terpisah, sejumlah anggota Komisi I DPR mengatakan, pemerintah, khususnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, diminta untuk tidak terjebak mengikuti skenario atau rencana Pemerintah AS walaupun mereka menjanjikan sejumlah bantuan terutama terkait persenjataan atau bidang pertahanan. Peringatan dari sejumlah anggota Komisi I itu disampaikan di sela-sela rapat dengar pendapat dengan tiga menteri beserta jajarannya, yaitu Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta. "Kita jangan pernah terperosok janji-janji AS, yang di baliknya bukan tidak mungkin menyembunyikan perangkap. Pemerintah harus tunjukkan dirinya punya kebebasan menentukan senjata dari negara mana saja kita akan membeli senjata," ujar Happy Bone Zulkarnaen dari Fraksi Partai Golkar. Yuddy Chrisnandi juga mengharapkan kedatangan Gates harus mendatangkan manfaat bagi kerja sama pertahanan kedua negara. (INU/dwa/joe)
