Pangkal permasalahan adalah sistem perizinan trayek
yg 'rent seeking'.
Dengan sistem tersebut, maka secara alami terjadi sistem setoran.

Solusinya harus dari pangkal... yaitu quality licensing.

tks,
-K-





On 3/10/08, Rudy Thehamihardja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Rekan Putra
>
> Anda betul, jangan heran kalau angkutan selain yang melalui busway,
> kerjanya
> CARI PENUMPANG,
>
> Nggak peduli jalan mau macet dibelakang nya, mau disumpahin warga se kota
> Jakarta pun mereka nggak peduli.
>
> Yang ngasih makan mereka adalah keahlian mereka untuk MENCARI MUATAN,
> caranya..
>
> Bayangkan aja kalau dia pakai bus...2.5 X 11 meter . malang melintang cari
> muatan setiap perempatan atau setiap gang.
>
> Menuntut mereka taat aturan dan tidak merugikan orang lain...wah salah
> alamat
>
> Mulai dari belajar mengemudinya saja sudah melanggar aturan, tidak melalui
> pendidikan yang seharusnya dalam UU disiapkan oleh pemerintah, itu baru
> belajarnya, terus waktu mengambil SIM, bayarnya saja sudah lebih mahal
> dari
> semua pengemudi kendaraan pelat hitam dimanapun dia mengambil SIM di
> Indonesia ini.
>
> Terus selama dia mengemudi, harus mensubsidi ongkos pelajar, dimana
> barangkali anaknya sendiri tidak bisa sekolah, dituntut untuk memberikan
> pelayanan yang baik tapi harus membagi upeti kepada aparat dan preman2
> yang
> dilindungi aparat, disuruh jual jasanya dengan tarif yang murah tapi harus
> membayar pajak, retribusi, suap sebelum mendapatkan uang satu rupiah pun,
> sampai dihari pertama mereka beroperasi sebelum ada satu penumpang pun
> yang
> naik ke angkotnya mereka harus membayar retribusi kepada pembina
> nya...begitulah seterusnya kehidupan pengemudi angkutan umum atau
> pengemudi
> pemilik angkutan umum.
>
> Mensiasati semua kondisi persaingan usaha di angkutan umum....ha3...nggak
> usah disebut sudah tau deh semua..dan jangan heran kalau dalam persaingan
> saat ini bisa celurit yang ikutan berbicara.
>
> yang juga terjadi mereka sudah melakukan perawatan seperti yang kita lihat
> sekarang, bicara keselamatan..jangan heran ada lelucon..sopir angkot lebih
> diterima di surga daripada pastor.karena umat tidur bila pastor
> ceremah.tapi
> berdoa bila umat naik angkot...
>
> siasat lain.tidak ada. mereka dengan tegar menunggu kematian saja sambil
> terus beramal bagi2 pungli.karena memang tidak difasilitasi solusinya oleh
> pembina
>
> itulah kehidupan dari pemilik dan pengemudi angkot saat ini.
>
> Rudy Th

Kirim email ke