> that's it. you can break the law, man. or we'll lose the moment.
> saat ini kami hanya bisa mengeluh, bahwa episode ini akan berlalu
> seperti skenario. setelah pertunjukan usai, kami akan berganti
> menjadi meratap, kenapa kesempatan yg tersedia tidak kita
> gunakan. tak ada perubahan , tak ada perbaikan, tak ada yg berganti.
> tegakah kau saksikan kami seperti ini ?
>
>
> ----- Original Message -----
> From: "Budiman Sudjatmiko" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>
> Sent: Saturday, June 21, 2008 01:02
> Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Spirit Obama Bisa Berimbas ke
> Indonesia
>
>
> Bung Khamid yang baik
> �
> Perlu saya sampaikan di sini mengenai posisi saya. Saya tidak menolak soal
> kemungkinan calon muda bisa terpilih pada 2009. Namun harus saya akui juga
> bahwa di Indonesia sistem dan kultur politiknya berbeda dgn di AS. Tradisi
> politik di AS, sejauh yang saya tahu partai politik memang relatif hanya
> memerankan dirinya semacam organisasi longgar yang meski berjangkauan
> nasional, namun lebih mirip semacam komite bagi promosi jabatan2 publik di
> AS. Konsekuensinya, mobilisasi vertikal bagi figur2 yg ada lebih banyak
> dipengaruhi leh sejauh mana figur2 tersebut dipopulerkan lewat lembaga2
> polling dan media kamp[anye yang bertujuan membangun image (image
> building). Sementara tradisi kepartaian kita adalah lebih menginduk ke
> Eropa, di mana institusionalisasi politik melalui partai jauh lebih kuat,
> shg konsekuensinya adalah adalah promosi jabatan politik/publik , terutama
> utk lembaga kepresidenan, adalah�lewat partai politik. Nah, kenyataan
> yang terjadi hari ini,
> jalur2 ini tidak bisa serta merta merespon efek dinamika yang ditimbulkan
> oleh munculnya figur semacam Obama di Indonesia. Tentu sbg semangat, boleh
> (layak) jika kemenangan Obama dlm konvensi Partai Demokrat AS
> menginspirasi kia. Namun yang perlu kita sadari adalah institutional
> setting politik kita berbeda dgn AS.
> Image building scr�individual (lewat tayangan2 iklan da semacamnya),
> hanya menjelaskan satu asek saja dari kepemimpinan, yaitu aspek
> popularitas semata, namun belum mencakup aspek akseptabilitas. Belum lagi
> jika juga mengacu pada aspek skill dan militansi dari proses kelahiran
> pemimpin (di Indonesia atau tradisi politik Eropa yang mirip kita), yang
> mesti meniti dari bawah.
> Yang mengagumkan (dan membedakan) dari Obama dibandingkan banyak presiden
> AS sebelumnya sebenarnya bukan terutama dia muda, namun karena dia
> berlatar tradisi membangun politik dari bawah (grass root), yaitu sebagai
> community organizer di perkampungan kumuh di Chicago. Dia bukan berasal
> dari kelompok sosial dominan di AS (WASP/White, Anglo-Saxon, Protestan dan
> berasal dari keluarga elite ekonomi), karena dia Afro-American dan berasal
> dari keluarga biasa-biasa saja.�Inilah yang menjadi pembeda dan
> seharusnya MENJADI FOKUS PELAJARAN YANG KITA TARIK dari Obama. Nah figur
> seperti Obama ini lah yang jika lahir di Indonesia akan jauh lebih
> bermanfaat dan instruktif utk kita jadikan acuan. Sebab jika hanya faktor
> kemudaan, tentu
> Jeff Bush yang gubernur Florida juga bisa disebut muda sbg pemimpin AS,
> walau masih di level negara bagian.
> Maaf, kalau karena saking terfokusnya kita pada kemudaan Obama, akan
> terlalu banyak replikasi-replikasi yang tidak pas di negeri ini nantinya.
> Asal muda, pasti dianggap menjanjikan (apapun latar belakang dan track
> record-nya. Pertanyaan yg bisa saya selipkan di sini: apakah popularitas
> keartisan semata bisa menjamin kualitas, hanya karena semata-mata muda,
> sebagaimana ditunjukkan dalam kasus terpilihnya HADE di Jawa Barat?).
> Karena soal ALIH GENERASI KEPEMIMPINAN ADALAH�SEBUAH KENISCAYAAN
> ALAMIAH, TAPI ALIH PARADIGMA KEPEMIMPINAN ADALAH SEBUAH PILIHAN IDEOLOGIS
> DAN POLITIS! Sebuah pilihan yang bisa kita putuskan untuk ambil atau kita
> tampik/tolak. Jadi yang mau saya tekankan adalah: mari tarik pelajaran
> dari sebuah peristiwa politik yang bisa membantu kita MENENTUKAN APA YANG
> AKAN KITA PILIH, bukan menarik pelajaran untuk diharapkan bisa membantu
> kita menjatuhkan pilihan pada APA YANG SECARA ALAMIAH MEMANG SEBENARNYA
> TAK BISA KITA TOLAK, YAITU ALIH
> GENERASI...Ini semacam the art of political learning, sebagaimana jika
> kita membaca sebuah buku: pembelajar yang baik tidak akan membaca
> semua/seluruh halaman dari buku, namun hanya membaca mana yang memang
> relevan. Kiranya input dari saya ini bisa membantu mengklarifikasi masalah
> dari The Obama's Effect. Terimakasih
>
> Wassalam
>
> Budiman Sudjatmiko