Ketokohan OBAMA bukan URUSAN USIA

Jika hanya menilik Obama dari usianya, memang betul
dia masih muda. Tetapi di Amrek, muda atau tua bukan
lagi issue penting dalam seleksi kepemimpinan. 

Sukses Obama (menurut opini Amrek) menjadi calon kuat
Partai Demokrat karena dia diantarkan oleh (kebijakan
perang) Bush. Bush sukses memenuhi ruang publik Amrek
yang kecut dan limbung ketika peristiwa 11 September
2001 terjadi. Ekonomi dan industri yang kuat kok engga
bisa dilindungi Presiden dan orang-orang gajian
lainnya?, demikian kira-kira opini publik Amrek di
tahun 2001. Jangan-jangan Presiden tidak hebat nih?
Makanya 3 hari setelah Peristiwa 11 September 2001
lihat ke mana pertama sekali perginya  Mr Bush? Ke
Beijing lho. Artinya, dia mau bilang di Beijing dan
seluruh musuh potensial Amrek yang melihat di TV: "Gue
(pribadi) lagi pusing nih", dan kemudian disusul:"Elu
pade diam aja, gua mau bekerja keras ngejar teroris". 

Dan kisah-kisah berikutnya adalah gelar perang paling
dahsyat oleh Amrek setelah Perang Vietnam. Debu perang
ke mana-mana, korban berjatuhan. Hasilnya, Amrek
bercokol di Irak, dan berpotensi dapat menyerbu negara
lain di sekitar sana yang menentang Amrek. Kesimpulan:
Ancaman dukungan, atau adanya pihak yang akan
mengambil manfaat dari meluasnya terorisme sudah dapat
ditangkal. 

Namun, penangkalan ini di mata publik Amrek janganlah
berlebihan. Carter berucap dari sisi lain, bilang
bahwa Israel punya peluru kendali 100an dengan hulu
ledak Nuklir. Ada kata lain yang mau diungkapkan
Carter. Pertama, Israel juga bisa menyulut
instabilitas di Timur Tengah. Kata lain yang kedua,
sebaliknya,  kalau ada apa-apa, menurut Carter, biar
saja Israel yang kerja keras di situ.

Apa hubungannya dengan Obama? Simpel, publik Amrek
ingin serdadu mereka pulang dari Irak. Sebagian besar,
terutama rakyat yang pro elite Demokrat, yang umumnya
kalangan menengah, ingin agar bisnis liar di Irak dan
korupsi jangan menggerogoti elite bangsa. (Coba, ke
mana ekspor minyak Irak?, berapa alokasi dana yang
dibuat pemerintah yang sulit dicek pembukuannya?)
Jadi, Obama dianggap paling elegan membawa pulang
serdadu Amrek dari Timur Tengah, dan sekaligus,
kepiawaiannya berdiplomasi, kemudian menggantinya
dengan otoritas diplomatik yang kuat, namun biayanya
rendah. 

Nah, apa kaitannya dengan kita? Elite kita belum
sematang elit Amrek. Elite Amrek rata-rata satu bahasa
jika sudah soal eksistensi Amrek. Mereka forward
looking, melihat ke depan. Presiden yang lama sudah
selesaikan tugasnya dengan baik. Nah, diperlukan
presiden baru yang mempunyai tugas lain. Soal siapa
orangnya, itu tidak menentukan, yang penting bisa
nyanyi apa tidak?

Unsur sentimen di Amerika bukanlah soal Muslim dan Non
Muslim. Harap dimaklumi, Muslim Amerika juga pembela
Amerika sejati. Mereka menyintai pluralitas yang ada
di sana, dan kenikmati kebebebasan memperjuangkannya.
Nah, yang hebat dari mereka, sekali lagi adalah cara 
melihat ke depan, forward looking mereka itu lho. 


Nah, kalau mau 'ngeh' spirit Obama yang dapat
dikatakan berimbas ke Indonesia ialah jika ada dari
60an partai politik yang berani mendudukkan tokoh
berasal dari kalangan minoritas etnis atau agama ke
posisi puncak (calon presiden). Saya duga nanti bahwa
95 % calon presiden akan berasal dari satu suku, kalau
bukan dari satu agama tertentu saja. Publik kita tidak
perduli lagu yang dilantunkan, tetapi penyanyi bo!

 


--- Budiman Sudjatmiko <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Bung Khamid yang baik
> �
> Perlu saya sampaikan di sini mengenai posisi saya.
> Saya tidak menolak soal kemungkinan calon muda bisa
> terpilih pada 2009. Namun harus saya akui juga bahwa
> di Indonesia sistem dan kultur politiknya berbeda
> dgn di AS. Tradisi politik di AS, sejauh yang saya
> tahu partai politik memang relatif hanya memerankan
> dirinya semacam organisasi longgar yang meski
> berjangkauan nasional, namun lebih mirip semacam
> komite bagi promosi jabatan2 publik di AS.
> Konsekuensinya, mobilisasi vertikal bagi figur2 yg
> ada lebih banyak dipengaruhi leh sejauh mana figur2
> tersebut dipopulerkan lewat lembaga2 polling dan
> media kamp[anye yang bertujuan membangun image
> (image building). Sementara tradisi kepartaian kita
> adalah lebih menginduk ke Eropa, di mana
> institusionalisasi politik melalui partai jauh lebih
> kuat, shg konsekuensinya adalah adalah promosi
> jabatan politik/publik , terutama utk lembaga
> kepresidenan, adalah�lewat partai politik. Nah,
> kenyataan yang terjadi hari ini,
>  jalur2 ini tidak bisa serta merta merespon efek
> dinamika yang ditimbulkan oleh munculnya figur
> semacam Obama di Indonesia. Tentu sbg semangat,
> boleh (layak) jika kemenangan Obama dlm konvensi
> Partai Demokrat AS menginspirasi kia. Namun yang
> perlu kita sadari adalah institutional setting
> politik kita berbeda dgn AS.
> Image building scr�individual (lewat tayangan2
> iklan da semacamnya), hanya menjelaskan satu asek
> saja dari kepemimpinan, yaitu aspek popularitas
> semata, namun belum mencakup aspek akseptabilitas.
> Belum lagi jika juga mengacu pada aspek skill dan
> militansi dari proses kelahiran pemimpin (di
> Indonesia atau tradisi politik Eropa yang mirip
> kita), yang mesti meniti dari bawah.
> Yang mengagumkan (dan membedakan) dari Obama
> dibandingkan banyak presiden AS sebelumnya
> sebenarnya bukan terutama dia muda, namun karena dia
> berlatar tradisi membangun politik dari bawah (grass
> root), yaitu sebagai community organizer di
> perkampungan kumuh di Chicago. Dia bukan berasal
> dari kelompok sosial dominan di AS (WASP/White,
> Anglo-Saxon, Protestan dan berasal dari keluarga
> elite ekonomi), karena dia Afro-American dan berasal
> dari keluarga biasa-biasa saja.�Inilah yang
> menjadi pembeda dan seharusnya MENJADI FOKUS
> PELAJARAN YANG KITA TARIK dari Obama. Nah figur
> seperti Obama ini lah yang jika lahir di Indonesia
> akan jauh lebih bermanfaat dan instruktif utk kita
> jadikan acuan. Sebab jika hanya faktor kemudaan,
> tentu
> Jeff Bush yang gubernur Florida juga bisa disebut
> muda sbg pemimpin AS, walau masih di level negara
> bagian.
> Maaf, kalau karena saking terfokusnya kita pada
> kemudaan Obama, akan terlalu banyak
> replikasi-replikasi yang tidak pas di negeri ini
> nantinya. Asal muda, pasti dianggap menjanjikan
> (apapun latar belakang dan track record-nya.
> Pertanyaan yg bisa saya selipkan di sini: apakah
> popularitas keartisan semata bisa menjamin kualitas,
> hanya karena semata-mata muda, sebagaimana
> ditunjukkan dalam kasus terpilihnya HADE di Jawa
> Barat?). Karena soal ALIH GENERASI KEPEMIMPINAN
> ADALAH�SEBUAH KENISCAYAAN ALAMIAH, TAPI ALIH
> PARADIGMA KEPEMIMPINAN ADALAH SEBUAH PILIHAN
> IDEOLOGIS DAN POLITIS! Sebuah pilihan yang bisa kita
> putuskan untuk ambil atau kita tampik/tolak. Jadi
> yang mau saya tekankan adalah: mari tarik pelajaran
> dari sebuah peristiwa politik yang bisa membantu
> kita MENENTUKAN APA YANG AKAN KITA PILIH, bukan
> menarik pelajaran untuk diharapkan bisa membantu
> kita menjatuhkan pilihan pada APA YANG SECARA
> ALAMIAH MEMANG SEBENARNYA TAK BISA KITA TOLAK, YAITU
> ALIH
>  GENERASI...Ini semacam the art of political
> learning, sebagaimana jika kita membaca sebuah buku:
> pembelajar yang baik tidak akan membaca
> semua/seluruh halaman dari buku, namun hanya membaca
> mana yang memang relevan. Kiranya input dari saya
> ini bisa membantu mengklarifikasi masalah dari The
> Obama's Effect. Terimakasih
> 
> Wassalam
> 
> Budiman Sudjatmiko

Kirim email ke