Bung Khamid yang baik � Perlu saya sampaikan di sini mengenai posisi saya. Saya tidak menolak soal kemungkinan calon muda bisa terpilih pada 2009. Namun harus saya akui juga bahwa di Indonesia sistem dan kultur politiknya berbeda dgn di AS. Tradisi politik di AS, sejauh yang saya tahu partai politik memang relatif hanya memerankan dirinya semacam organisasi longgar yang meski berjangkauan nasional, namun lebih mirip semacam komite bagi promosi jabatan2 publik di AS. Konsekuensinya, mobilisasi vertikal bagi figur2 yg ada lebih banyak dipengaruhi leh sejauh mana figur2 tersebut dipopulerkan lewat lembaga2 polling dan media kamp[anye yang bertujuan membangun image (image building). Sementara tradisi kepartaian kita adalah lebih menginduk ke Eropa, di mana institusionalisasi politik melalui partai jauh lebih kuat, shg konsekuensinya adalah adalah promosi jabatan politik/publik , terutama utk lembaga kepresidenan, adalah�lewat partai politik. Nah, kenyataan yang terjadi hari ini, jalur2 ini tidak bisa serta merta merespon efek dinamika yang ditimbulkan oleh munculnya figur semacam Obama di Indonesia. Tentu sbg semangat, boleh (layak) jika kemenangan Obama dlm konvensi Partai Demokrat AS menginspirasi kia. Namun yang perlu kita sadari adalah institutional setting politik kita berbeda dgn AS. Image building scr�individual (lewat tayangan2 iklan da semacamnya), hanya menjelaskan satu asek saja dari kepemimpinan, yaitu aspek popularitas semata, namun belum mencakup aspek akseptabilitas. Belum lagi jika juga mengacu pada aspek skill dan militansi dari proses kelahiran pemimpin (di Indonesia atau tradisi politik Eropa yang mirip kita), yang mesti meniti dari bawah. Yang mengagumkan (dan membedakan) dari Obama dibandingkan banyak presiden AS sebelumnya sebenarnya bukan terutama dia muda, namun karena dia berlatar tradisi membangun politik dari bawah (grass root), yaitu sebagai community organizer di perkampungan kumuh di Chicago. Dia bukan berasal dari kelompok sosial dominan di AS (WASP/White, Anglo-Saxon, Protestan dan berasal dari keluarga elite ekonomi), karena dia Afro-American dan berasal dari keluarga biasa-biasa saja.�Inilah yang menjadi pembeda dan seharusnya MENJADI FOKUS PELAJARAN YANG KITA TARIK dari Obama. Nah figur seperti Obama ini lah yang jika lahir di Indonesia akan jauh lebih bermanfaat dan instruktif utk kita jadikan acuan. Sebab jika hanya faktor kemudaan, tentu Jeff Bush yang gubernur Florida juga bisa disebut muda sbg pemimpin AS, walau masih di level negara bagian. Maaf, kalau karena saking terfokusnya kita pada kemudaan Obama, akan terlalu banyak replikasi-replikasi yang tidak pas di negeri ini nantinya. Asal muda, pasti dianggap menjanjikan (apapun latar belakang dan track record-nya. Pertanyaan yg bisa saya selipkan di sini: apakah popularitas keartisan semata bisa menjamin kualitas, hanya karena semata-mata muda, sebagaimana ditunjukkan dalam kasus terpilihnya HADE di Jawa Barat?). Karena soal ALIH GENERASI KEPEMIMPINAN ADALAH�SEBUAH KENISCAYAAN ALAMIAH, TAPI ALIH PARADIGMA KEPEMIMPINAN ADALAH SEBUAH PILIHAN IDEOLOGIS DAN POLITIS! Sebuah pilihan yang bisa kita putuskan untuk ambil atau kita tampik/tolak. Jadi yang mau saya tekankan adalah: mari tarik pelajaran dari sebuah peristiwa politik yang bisa membantu kita MENENTUKAN APA YANG AKAN KITA PILIH, bukan menarik pelajaran untuk diharapkan bisa membantu kita menjatuhkan pilihan pada APA YANG SECARA ALAMIAH MEMANG SEBENARNYA TAK BISA KITA TOLAK, YAITU ALIH GENERASI...Ini semacam the art of political learning, sebagaimana jika kita membaca sebuah buku: pembelajar yang baik tidak akan membaca semua/seluruh halaman dari buku, namun hanya membaca mana yang memang relevan. Kiranya input dari saya ini bisa membantu mengklarifikasi masalah dari The Obama's Effect. Terimakasih
Wassalam Budiman Sudjatmiko --- On Thu, 6/19/08, khamid istakhori <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: khamid istakhori <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Spirit Obama Bisa Berimbas ke Indonesia To: [email protected] Date: Thursday, June 19, 2008, 5:00 PM bukan hanya muda atau tua, tetapi tentu saja negara ini butuh perspektif yang lebih maju dan tentu tidak memiliki "masa lalu" sejarah kelam terlibat dalam penindasan rakyatnya. kerinduan akan munculnya pemimpin yang cakap, muda dan bersih menjadi semangat yang tidak bisa diabaikan, lihat saja bagaimana dalam aksi2 penolakan BBM kemarin suara itu muncul. Saya sangat yakin, akan tiba saatnya ketika negara ini dipimpin oleh semangat muda dan� bersih. suara2 yang mengatakan penolakan terhadap elit parpol (baik tua maupun muda) karena mereka terlibat dalam praktek2 kotor politik dan terlibat dalam partai2 borjuasi. lihat betapa masifnya suara : singkirkan elit politik pro kapitalis misalnya dalam aksi2 tolak bbm kemarin. ini semacam sinyal awal, bahwa yang muda juga kalau ternyata pro kapitalis dan pemodal pasti akan ditolak rakyat. dan satu hal yang aneh, kalau budiman menolak hadirnya kemungkinan kaum muda memimpin saat ini pasti karena takut beda pendapat dengan ibu...... salam, khi dunia telah berganti rupa tuk kemenangan kita! --- On Thu, 6/19/08, Agus Hamonangan <agushamonangan@ yahoo.co. id> wrote: From: Agus Hamonangan <agushamonangan@ yahoo.co. id> Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Spirit Obama Bisa Berimbas ke Indonesia To: Forum-Pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com Date: Thursday, June 19, 2008, 6:36 AM http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 06/19/17130516/ spirit.obama. bisa.berimbas. ke.indonesia JAKARTA, KAMIS - Figur pemimpin muda untuk menjadi calon presiden Indonesia mendatang mendapat tanggapan dari sudut pandang yang berbeda. Bagi Presiden PKS, Tifatul Sembiring, spirit Barack Obama sebagai capres Amerika Serikat bisa berimbas bagi Indonesia. Namun, bagi politisi muda PDI Perjuangan, Budiman Sujatmiko, kultural Amerika belum tentu sama dengan semangat politik di Indonesia. Bagi Budiman, ada beberapa sarat utama bagi figur muda untuk menjadi pemimpin di Indonesia. Tifatul dalam pemaparannya, semangat memunculkan figur muda harus sudah disuarakan saat ini. Figur muda diyakini bisa memberi angin segar bagi sistem pemerintahan ke depan. "Keinginan harapan bagi figur muda sekarang ini, sudah ada buktinya. Kemenangan HADE (Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf) dalam Pilgub Jabar, memberi semangat muculnya figur-figur muda yang lain," kata Tifatul Sembiring dalam diskusi di Jakarta, Kamis (19/6). Ia mengklaim, di internal PKS saat ini mayoritas diisi oleh figur-figur muda yang potensial. "Semangat Barack Obama dalam Pilpres di Amerika, tentu saja menjadi spirit juga bagi Indonesia," tukas Tifatul. Namun, bagi Budiman Sujatmiko, semangat Barack Obama itu belum tentu berlaku di Indonesia. Budiman mengaku salut dengan Barack Obama yang juga diyakini, akan menjadi pemimpin negara Paman Sam ini. Politisi PDI Perjuangan ini tidak sepakat bila dikatakan Amerika harus menjadi kiblat segala-galanya, Barack Obama menjadi argumentasinya. "Amerika bukan yang secara tiba-tiba mengubah dunia. Segala sesuatunya, tidak bisa ditentukan oleh Amerika. American dream, belum tentu Indonesian dream," kata Budiman yakin. Sosok figur muda yang dibutuhkan Indonesia adalah yang bisa membentuk institusional building. Tantangannya, mampu merawat image builidng. "Amerika image builiding-nya oke. Tapi, Indonesia perlu institusional builidng," kata Budiman. "Menjadi Presiden (Indonesia) bukan karena banyak uang dan mampu membuat image, tapi harus mampu membangun jaringan-jaringan di daerah. Kalau mau jadi presiden, harus bisa memimpin yang kecil dulu. Jadi pemimpin partai nasionalnya. Salah satu kebangkrutan Indonesia adalah selalu memilih memimpin yang kaya, tapi kaya karena mencuri," tambah Budiman Sujatmiko. (Persda Network/yat) [Non-text portions of this message have been removed]
