betul mas anarkisme itu hanya riak, kedalamnya memang rakyat makin susah dan terancam kehidupannya. bbm harus turun, tetap semangat aja mahasiswa indonesia. � salam kenal semuanya
--- On Wed, 6/25/08, Barnabas Rahawarin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Barnabas Rahawarin <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Mahasiswa demo kok ngerusak? (.. Punya Sedikit Pilihan...) To: [email protected] Date: Wednesday, June 25, 2008, 1:34 PM Dear All, Meskipun tidak membenarkan tindakan anarkhisme dari mahasiswa dan pula tidak berniat memberi excuse, mahasiswa kemaren berdemo dengan beberapa alasan yang - bagi mahasiswa proporsional - untuk demo 'attraktif'. Alasan pertama (makro) adalah BBM yang dinaikkan pemerintah 30%. Kemudian, berlipat menjadi reaksi terhadap polisi yang mengkriminalkan Maftuh dan kawan-kawan. Menyatakan Mafturh meninggal karena mederita AIDS, seluruh mengakumulasi kemarahan Mahasiswa. Waktu sedang tidak tepat, baik bagi mahasiswa maupun polisi, karena kondisi politik yang tak menentu. Di gedung DPR tarik menarik antara Hak Angket dan Interpelasi, yang bahkan berhubungan dengan BBM, seperti didengar dari luar gedung beberapa hari sebelumnya, Hak Angket DPR hendak dikalahkan dengan Interpelasi. Hanya Tuhan dan Dewan terhormat tahu, mengapa kemaren Hak Angket dimenangkan. Entahkah asap ban yang terbakar di seputar gedung DPR yang turut memaksa Hak Angket itu? Entahlah... Tapi, mahasiswa seperti pengalaman para pejabat yang pernah kuliah, kenaikan BBM dapat berarti "To Be or Not To Be" menjadi mahasiswa. Yang selanjutnya berarti masa depan berpotensial suram, setidaknya impian menjadi sarjana memudar atau untuk sebagian mutlak sirna. Mereka senantiasa pesimis dengan itikad baik-baik saja dari pemerintah soal dukungan dana bagi mahasiswa. Sebuah negeri yang komitmen sosial teramat rendah. Bandingannya, jangankan membantu mahasiswa, dana untuk korban Tsunami saja bisa raib. Mahasiswa, sejak bapak-bapak pejabat doeloe kuliah hingga mereka sekarang... masalahnya sama: uang kuliah TAK PERNAH CUKUP. Biaya pendidikan super mahal... dan, lapangan kerja yang ada adalah "Siap nganggur! Dengan atau (celaka) tanpa sarjana...) Mahasiswa, seperti peristiwa MALARI, mereka punya sedikit pilihan... Dan, merusak BUKAN TUJUAN MAHASISWA, senantiasa "KETULIAN DAN KEEGOISAN" semua lapisan, memberi satu pilihan kepada MAHASISWA: "to be or not to be!" Anarkhisme memang menjadi musuh bersama. Maka, jangan membiarkan sebab yang proporsional untuk mengundang hadirnya. Mengapa Hak Angket tidak muncul sebelum anarkhisme muncul? Sebelum menangkap mahasiswa, "Mengapa Polisi belum mengklarifikasi tanggung-jawab penyerangan di UNAS?" Lau, "Atas pesanan siapa petugas medis menyatakan Maftuf menderita HIV?" Kepada teman dekat saya, saya menyatakan keprihatinan pada semua kontribusi Pejabat Publik pada munculnya demo yang berakhir "attractif" itu. Tapi, sungguh sampai pada membakar mobil pelat merah, juga telah berada di lampu kuning seperti menjelang kerusuhan Mei 1998. Itulah kekuatiran kemaren. Jika, kita tidak "MENGOBATI" sakit hati mahasiswa, sementara terus egois dan tuli terhadap beban ekonomi masyarakat, kita berjalan dalam kegelapan berikutnya. Hanya (Petinggi) Polisi yang dapat membuat episode-episode mana yang akan dilewati. Kasihan petugas polisi di lapangan dan mahasiswa yang berprinsip "If we get fail, we take all the risks!" Mereka akan pulang tanpa biaya tambahan. Sementara, besoknya kita menghitung 25 orang terkaya Indonesia... wassalam, berthy b rahawarin
