Hehehe sekedar menambahkan saja, jangan mahasiswa kuatir akan masa depan 
mereka, saya dan orang tua mereka juga sangat2 khawatir peristiwa 98 terulang 
kembali karena disulut aksi2 demo seperti itu dan menyebabkan ekonomi kembali 
terpuruk dan menyebabkan krisis babak kedua yang bisa jadi lebih buruk lagi.

Eric Soesilo
[EMAIL PROTECTED]

Sent from my BlackBerry�
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Barnabas Rahawarin <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Tue, 24 Jun 2008 23:34:41
To: <[email protected]>
Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Mahasiswa demo kok ngerusak? (.. Punya 
Sedikit Pilihan...)


Dear All,

  Meskipun tidak membenarkan tindakan anarkhisme dari mahasiswa dan pula tidak 
berniat memberi excuse, mahasiswa kemaren berdemo dengan beberapa alasan yang - 
bagi mahasiswa proporsional - untuk demo 'attraktif'. Alasan pertama (makro) 
adalah BBM yang dinaikkan pemerintah 30%. Kemudian, berlipat menjadi reaksi 
terhadap polisi yang mengkriminalkan Maftuh dan kawan-kawan. Menyatakan Mafturh 
meninggal karena mederita AIDS, seluruh mengakumulasi kemarahan Mahasiswa.

  Waktu sedang tidak tepat, baik bagi mahasiswa maupun polisi, karena kondisi 
politik yang tak menentu. Di gedung DPR tarik menarik antara Hak Angket dan 
Interpelasi, yang bahkan berhubungan dengan BBM, seperti didengar dari luar 
gedung beberapa hari sebelumnya, Hak Angket DPR hendak dikalahkan dengan 
Interpelasi. Hanya Tuhan dan Dewan terhormat tahu, mengapa kemaren Hak Angket 
dimenangkan. Entahkah asap ban yang terbakar di seputar gedung DPR yang turut 
memaksa Hak Angket itu? Entahlah...

  Tapi, mahasiswa seperti pengalaman para pejabat yang pernah kuliah, kenaikan 
BBM dapat berarti "To Be or Not To Be" menjadi mahasiswa. Yang selanjutnya 
berarti masa depan berpotensial suram, setidaknya impian menjadi sarjana 
memudar atau untuk sebagian mutlak sirna. Mereka senantiasa pesimis dengan 
itikad baik-baik saja dari pemerintah soal dukungan dana bagi mahasiswa. Sebuah 
negeri yang komitmen sosial teramat rendah. Bandingannya, jangankan membantu 
mahasiswa, dana untuk korban Tsunami saja bisa raib. Mahasiswa, sejak 
bapak-bapak pejabat doeloe kuliah hingga mereka sekarang... masalahnya sama: 
uang kuliah TAK PERNAH CUKUP. Biaya pendidikan super mahal... dan, lapangan 
kerja yang ada adalah "Siap nganggur! Dengan atau (celaka) tanpa sarjana...)
  Mahasiswa, seperti peristiwa MALARI, mereka punya sedikit pilihan... Dan, 
merusak BUKAN TUJUAN MAHASISWA, senantiasa "KETULIAN DAN KEEGOISAN" semua 
lapisan, memberi satu pilihan kepada MAHASISWA: "to be or not to be!"

  Anarkhisme memang menjadi musuh bersama. Maka, jangan membiarkan sebab yang 
proporsional untuk mengundang hadirnya. Mengapa Hak Angket tidak muncul sebelum 
anarkhisme muncul? Sebelum menangkap mahasiswa, "Mengapa Polisi belum 
mengklarifikasi tanggung-jawab penyerangan di UNAS?" Lau, "Atas pesanan siapa 
petugas medis menyatakan Maftuf menderita HIV?"

  Kepada teman dekat saya, saya menyatakan keprihatinan pada semua kontribusi 
Pejabat Publik pada munculnya demo yang berakhir "attractif" itu. Tapi, sungguh 
sampai pada membakar mobil pelat merah, juga telah berada di lampu kuning 
seperti menjelang kerusuhan Mei 1998. Itulah kekuatiran kemaren. Jika, kita 
tidak "MENGOBATI" sakit hati mahasiswa, sementara terus egois dan tuli terhadap 
beban ekonomi masyarakat,  kita berjalan dalam kegelapan berikutnya.

  Hanya (Petinggi) Polisi yang dapat membuat episode-episode mana yang akan 
dilewati. Kasihan petugas polisi di lapangan dan mahasiswa yang berprinsip "If 
we get fail, we take all the risks!" Mereka akan pulang tanpa biaya tambahan. 
Sementara, besoknya kita menghitung 25 orang terkaya Indonesia...

  wassalam,

  berthy b rahawarin

Kirim email ke