Saya sempat nonton film ini kemarin. Rasanya sulit sekali mencapai 
idealisme seperti apa yang diceritakan dalam film Laskar Pelangi 
tersebut. 

Ada guru yang mati matian bahkan sampai mati memperjuangkan agar 
sekolah Muhammadiyah tersebut berdiri dan tidak ditutup. Lintang 
seorang anak berbakat yang harus meninggalkan sekolahnya karena 
ayahnya meninggal karena melaut, dan dia harus meneruskan peran 
orang tuanya untuk membesarkan adik-adiknya. Seandainya Lintang ada 
di kota besar / Jakarta dan ada dermawan yang menyekolahkannya serta 
membantu adik-adiknya, saya rasa saat ini dia sudah menjadi orang 
yang sangat sukses. Berapa banyak Lintang - Lintang di pelosok 
negeri ini yang mempunyai nasib yang sama ... sangat disayangkan.

Jadi sebenarnya banyak ak-anak berbakat di negeri ini tetapi tidak 
mendapatkan kesempatan. Perlu ditonton oleh anak-anak yang 
terfasilitasi sekolahnya dengan baik agar mereka lebih sungguh-
sungguh ... karena banyak orang yang kurang beruntung seperti 
Lintang ...

salam,
david

--- In [email protected], Martin Peranginangin 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dalam mengisi suasana liburan Idul Fitri, saya ajak keluarga 
nonton film-nya Riri Riza yang diangkat dari novel Hirata, Laskar 
Pelangi di XXI Bekasi. Saya apresiasi thd karya seni anak muda 
Indonesia yang mungkin mampu memompa roh nasionalisme bagi anak 
bangsa. Inti persoalan adalah bagaimana kita mampu selalu memberi 
lebih banyak daripada menerima (menutut) lebih banyak. Thema cerita 
biasa saja namun enak dan 'perlu' ditonton, terlebih ditengah 
dinamika bangsa yang makin tergerus erosi rasa nasionalisme. 
>  
> Salam,
> Martin L Peranginangin
> www.ruangsuara.blogspot.com
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke