Film ini sarat dengan permasalahan social. Mulai dari pengelolaan sumberdaya alam yang justru meninggalkan kerusakan lingkungan dan ketimpangan social, (PN Timah), akses orang miskin pada pelayanan pemerintah teruma pendidikan. Permasalahan tersebut masih relevan dibanyak bagian Indonesia hingga saat ini. Idealisme yang anda katakan untuk tetap mempertahankan sekolah meski muridnya hanya 10 orang terkait dengan sejarah pelakunya terutama sang paman dan ibu guru Mus (Ayahnya pendiri sekolah tersebut). Namun sudah banyak program perbaikan untuk mengatasi permasalahan social tersbut dilakukan saat ini seperti kita tahu untuk perusahaan tambang ada yang disebut dengan Corporate Social Responsibility, Ada program anak asuh, BLT dll. Masalahnya adalah mekanisme pelayanan yang bagaimana yang mampu menjawab kebutuhan mereka-mereka yang seharusnya membutuhkan (fakir miskin dan anak terlantar) yang tepat waktu, tepat sasaran dan mudah dilakukan? Bukan justru menambah bebean mereka terutama dari segi administrasi dan birokrasi? Justru kedua hal ini sangat mahal di Negara tercinta ini. Administrasi dan birokrasi yang kuasa dan menentukan hitam/putih sesuatu dan juga membutuhkan tambahan biaya? Dengan demikian akan mengurangi beban orang-orang seperti Lintang dan teman-temannya? Saya melihat hanya kelembagaan yang ada didesa dengan memberikan porsi kewenangan dan anggaran yang memadai dari kelembagan diatasnya. Hanya saja meski otonomi daerah sudah dijalankan sejak tahun 1999, perubahan untuk semakin memantapkan peran dan fungsi kelembagaan di desa belum optimal.
Terima kasih, Tumpal P. saragi _____ From: davidl1n [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, October 02, 2008 11:06 PM To: [email protected] Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Laskar Pelangi Saya sempat nonton film ini kemarin. Rasanya sulit sekali mencapai idealisme seperti apa yang diceritakan dalam film Laskar Pelangi tersebut. Ada guru yang mati matian bahkan sampai mati memperjuangkan agar sekolah Muhammadiyah tersebut berdiri dan tidak ditutup. Lintang seorang anak berbakat yang harus meninggalkan sekolahnya karena ayahnya meninggal karena melaut, dan dia harus meneruskan peran orang tuanya untuk membesarkan adik-adiknya. Seandainya Lintang ada di kota besar / Jakarta dan ada dermawan yang menyekolahkannya serta membantu adik-adiknya, saya rasa saat ini dia sudah menjadi orang yang sangat sukses. Berapa banyak Lintang - Lintang di pelosok negeri ini yang mempunyai nasib yang sama ... sangat disayangkan. Jadi sebenarnya banyak ak-anak berbakat di negeri ini tetapi tidak mendapatkan kesempatan. Perlu ditonton oleh anak-anak yang terfasilitasi sekolahnya dengan baik agar mereka lebih sungguh- sungguh ... karena banyak orang yang kurang beruntung seperti Lintang ... salam, david
