Rekan-Rekan FPK, Lebih tepatnya bukan menyesali utang subprime mortgage tetapi menyesali mengapa the Fed menaikkan suku bunga hingga 5,25% pada Agustus 2007.
Pemimpin negara seluruh dunia mendesak Congress AS untuk menunjukkan tanggung jawabnya dengan meloloskan bailout plan bahkan ada anggota Congress dari Ohio (Partai Republik) yang mengusulkan agar diterapkan Hukum Darurat Militer (Martial Law) bila bailout plan itu tidak juga disetujui. Setelah kita tertipu dengan Free Market ala AS, mungkin kita juga akan tertipu dengan Demokrasi ala AS. Hidup Jendral Tapioca :) Berita lengkapnya di: http://www.reuters.com/article/newsOne/idUSTRE4912JS20081003 Adanya kekhawatiran bahwa walaupun bailout plan ini lolos, tidak akan menghindarkan AS dan Eropa dari resesi. 70% pertumbuhan ekonomi AS didapat dari Consumer Spending. Nah, kalau market ini kolaps, berapa persen kontribusi ekspor non migas Indonesia ke AS+Eropa terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia? Skala krisis Wall Street kali ini tidak bisa dibandingkan dengan 9/11 dan Enron. Krisis ini setara dengan Great Depression 1929 atau bahkan lebih parah. Bahkan PM Perancis Francois Fillon bahwa DUNIA di ambang kiamat. Best Regards, Rudyanto Mari Hemat BBM, Ayo Nebeng! --- In [email protected], "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Oleh DANDOSSI MATRAM > http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/03/02220299/ subprime.mortgage.dan.bailout.selanjutnya... > > > > Sungguh sulit dipercaya bahwa pembiayaan kredit properti yang tidak > hati-hati bisa meluluhlantakkan ekonomi negara adidaya semacam Amerika > Serikat. Seluruh lapisan masyarakat di Amerika dan dunia saat ini > menyesali investasi di surat utang subprime mortgage yang telah > menyapu bersih modal mereka. > > Subprime mortgage (SM) merupakan kredit perumahan yang skema > pinjamannya telah dimodifikasi sehingga mempermudah kepemilikan rumah > oleh orang miskin yang sebenarnya tidak layak mendapat kredit. Tingkat > bunga The Fed, sepanjang tahun 2002-2004 yang hanya sekitar 1-1,75 > persen, membuat bisnis SM dan perumahan booming. Tingginya bunga > pinjaman SM (pada saat bunga deposito rendah) menarik investor kelas > kakap dunia (bank, reksadana, dana pensiun, asuransi) membeli surat > utang yang diterbitkan perusahaan SM. > > Ketika The Fed, mulai Juni 2004, bertahap menaikkan bunga hingga > mencapai 5,25 persen pada Agustus 2007, kredit perumahan mulai > bermasalah akibat banyaknya nasabah yang gagal bayar. Dampaknya, > banyak perusahaan penerbit SM rugi besar karena nasabahnya gagal bayar > dan perusahaan SM tidak mampu membayar utang karena tidak dibayar > nasabahnya. Terjadi banyak penyitaan rumah (1 dari 10 rumah di > Cleveland, AS, dalam kondisi tersita). Pasar properti berubah menjadi > seller market akibat banyak yang ingin menjual propertinya sehingga > harga properti turun 10 persen. > > Investor institusi keuangan yang membeli surat utang SM rugi besar > karena surat utangnya hanya bernilai sekitar 20 persen. Akibatnya, > harga saham atau nilai aktiva bersih dari investor yang memiliki SM > jatuh dan membuat investor rugi besar. > > Butuh likuiditas > > Sialnya, kebutuhan likuiditas juga mendesak. Selain tiadanya capital > gain dan penerimaan cash inflow dari kupon bunga SM yang gagal bayar, > juga ada kebutuhan dana tunai karena sebagian investor yang mencairkan > investasinya. Parahnya, pada saat bersamaan semua pihak butuh > likuiditas, yang berakibat terjadinya credit crunch (kelangkaan > likuiditas). > > Akibatnya, untuk menutupi kebutuhan likuiditas, mayoritas investor > terpaksa menjual portofolionya, termasuk sahamnya, secara > besar-besaran, di seluruh dunia yang mengakibatkan terempasnya pasar > modal dunia. > > Akhirnya, Pemerintah Amerika Serikat (AS) turun tangan sepenuhnya > mengatasi masalah yang ditimbulkannya sendiri. Dana 700 miliar dollar > AS, secara bertahap, akan digelontorkan ke pasar untuk membeli surat > utang SM yang bermasalah, yang telah membuat ekonomi AS babak belur. > > â�Bailoutâ� dijegal > > Rencana bailout, walau telah mendapatkan keputusan Senat, ternyata > terjegal oleh keputusan House of Representative. Bursa global yang > sudah bereaksi positif saat rencana diajukan kembali terkapar. Khusus > Wall Street, indeks jatuh dengan angka yang ajaib. Indeks jatuh 777,7 > point sebagai respons atas penolakan bailout senilai 700 miliar dollar > AS tersebut. Mengindikasikan sedemikian parahnya krisis yang tengah > terjadi di AS. > > Saat ini, rencana bailout kedua segera diajukan kembali, dengan revisi > tambahan usulan kenaikan penjaminan deposan dari 100.000 dollar AS > menjadi 250.000 dollar AS untuk menenangkan deposan yang panik. Serta > membebaskan Federal Deposit Insurance Corp meminjam tanpa batas kepada > Departemen Keuangan saat membutuhkan dana. > > Pertanyaannya, bila bailout ini disetujui, apakah kita bisa berharap > krisis ekonomi global akan cepat pulih kembali? Ada baiknya kita lihat > bagaimana bailout ala Amerika Serikat ini dilakukan. > > â�Bailoutâ� untuk surat utang > > Bailout dilakukan dalam bentuk pemerintah akan membeli surat utang SM > yang macet, yang dipegang oleh investorâ"yang merupakan investor > institusi keuangan, seperti bank, reksadana, dana pensiun, dan > asuransi. Harga pembelian surat utang adalah harga pasar, yang saat > ini jauh di bawah nominal. Dana bailout diperoleh dari penerbitan > surat utang pemerintah di pasar uang. Setiap perusahaan yang menjual > surat utang ke pemerintah terikat ketentuan tentang pembatasan gaji > top eksekutif. > > Dengan skema bailout yang seperti ini, manfaat utama yang bisa > terlihat hanyalah berkurangnya tekanan penjualan portofolio, khususnya > saham, secara global karena nantinya, dengan bailout, kebutuhan > likuiditas, selain dari saham, bisa dipenuhi juga dari penjualan surat > utang SM kepada pemerintah. > > Namun, skema ini tidak akan mencegah kerugian yang diderita investor > karena, dengan prinsip akuntansi marked to market, kerugian tetap > harus diakui dalam pembukuan investor yang memiliki surat utang SM > yang bermasalah. Kerugian yang besar tetap berpotensi menggerus modal > yang mengakibatkan insolvensi, yang bermasalah pada ekuitas yang > negatif bila tidak dilakukan injeksi modal baru. > > Investor sendiri diragukan akan bersedia menjual surat utang mereka ke > pemerintah dengan harga pasar. Mereka pasti akan berusaha keras > mencari alternatif pendanaan lainnya daripada merealisasikan kerugian > yang sangat besar dalam buku mereka. > > Pemilik rumah tampaknya juga tidak mendapat manfaat banyak dari > bailout ini karena kewajiban cicilan dengan bunga pasar tetap berlaku. > Keringanan paling berbentuk kelonggaran dalam kriteria penyitaan oleh > kreditor bila peminjam tidak mampu membayar kewajibannya. > > Perusahaan penerbit SM juga tidak diberikan perhatian dalam bailout > ini. Padahal, masalah utama krisis ini adalah nasabahnya yang gagal > bayar, pasar properti yang over supply, serta nilai properti yang > anjlok sehingga mereka tidak sanggup membayar kewajibannya kepada > investor keuangan. > > Skema bailout ini agak diragukan efektivitasnya dan manfaatnya bagi > pemulihan ekonomi Amerika Serikat. Bayangkan ketika investor bertahan > tidak menjual surat utangnya, atau pemilik rumah tetap tidak sanggup > membayar kewajibannya dan penerbit surat utang tidak sanggup membayar. > > Skema bailout ini berbeda sekali dengan saat Pemerintah Indonesia > mem-bailout bank yang bermasalah. Saat itu, pemerintah mem-bailout > dengan cara mengambil alih kepemilikan saham bank yang bermasalah > melalui rekapitalisasi bank kemudian menjual sahamnya secara tender > (yang sayangnya penjualannya terlalu dini dengan harga murah dan > berorientasi ke investor asing). > > Hindari intervensi > > Kalau bailout ala AS, hanya untuk surat utang saja. Mungkin, prinsip > kapitalisme dan liberalisme membuat bailout kepemilikan (saham) oleh > pemerintah, yang bersifat intervensi, menjadi sesuatu yang dihindarkan > di Amerika Serikat. Padahal, Inggris dengan cepat menasionalisasikan > bank kedua terbesar di Inggris, Bradford & Bingley, juga Northern > Rockâs yang bermasalah gara-gara subprime mortgage ini. Begitu pula > dengan Fortis yang sebagian sahamnya diambil alih Pemerintah Belgia > dan Belanda. > > Tidak heran, ketika proposal bailout ini disetujui Kongres pada hari > Minggu, pada perdagangan saham hari Seninnya, indeks global mengalami > penurunan. Bisa jadi penurunan tersebut merupakan respons negatif > terhadap usulan bailout yang memang tidak menyembuhkan penyakitnya > secara tuntas. > > Oleh karena itu, dengan skema bailout ini, janganlah kita terlalu > berharap bahwa bailout ini akan tuntas menyelesaikan krisis ekonomi > Amerika Serikat dan global dalam waktu 1-2 tahun ke depan. > > Dampak terhadap Indonesia > > Krisis SM sangat merugikan investor keuangan dunia yang juga > berinvestasi di pasar modal dan uang Indonesia. Pukulan terbesar > memang di pasar modal mengingat saham merupakan instrumen likuid, > begitu pula deposito. Kebutuhan likuiditas yang tinggi membuat mereka > keluar dari pasar keuangan Indonesia. > > Untuk surat utang negara (SUN), tekanan tidak terlalu parah karena > merupakan instrumen jangka panjang yang bebas risiko yang dimungkinkan > â�disekolahkanâ� dalam bentuk REPO. Selain itu, pasar > sekunder yang ada > belum memungkinkan investor asing keluar secara instan dalam jumlah besar. > > Penerbitan SUN baru untuk sementara waktu akan terganggu dengan masih > akan absennya investor asing. > > Tidak terlalu terpengaruh > > Ekspor beberapa produk mungkin terganggu karena menurunnya permintaan. > Namun, dengan pertumbuhan pasar domestik yang pesat, bisa > meminimalisasi dampak penurunan pasar ekspor secara agregat. Dengan > pasar domestik yang kuat, pendanaan dalam negeri yang likuid, serta > pertumbuhan ekonomi yang terus tumbuh, seharusnya Indonesia tidak > terlalu terpengaruh krisis yang terjadi di Amerika Serikat. Bahkan, > krisis ini sebenarnya merupakan peluang Indonesia menyelinap lebih gesit. > > Sejarah juga mencatat bahwa, pascakrisis moneter di Indonesia, setiap > terjadi krisis di Amerika Serikat (9/11, Enron, SM), Indonesia berada > pada posisi yang lebih baik atau malah diuntungkan. Buktinya, nilai > kurs rupiah dalam jangka panjang malah relatif stabil atau menguat. > > DANDOSSI MATRAM, Pengamat Pasar Modal >
