Kata beberapa org tua saya, satu lagi kemiripan PKS dan PKI adalah kalau kita 
lihat suasana kerja di kantor masing-masing. Aktifitas di kntr2 PKS persis sama 
dengan di Menteng markas PKI dulu. Semua selalu terlihat sibuk untuk partai. 
Beda banget dengan suasana kalau kita masuk ke kantor Golkar, PDIP, Demokrat, 
dan lainnya.
 

--- Pada Rab, 24/9/08, bangkit <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Dari: bangkit <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Kenapa PRD tidak bisa seperti PKS....?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 24 September, 2008, 8:30 PM

ah, akhirnya saya punya waktu juga untuk ikutan diskusi di topik ini,
hehehe...

kang noer, saya setuju kalo ada yg bilang PKS mengikuti pola PKI
(serta partai komunis pada umumnya) yg menggunakan sistem sel dalam
perekrutan kader-nya, ini juga diakui oleh dosen saya yg ahli Cina
(Dr. I. Wibowo) bahwa PKS dan PKC itu punya banyak kesamaan, juga
dalam metode propaganda dan dakwah (eh, kalo di PKI istilahnya apa
ya?) partai yg sangat hitam-putih, lihat aja di media2 PKS seperti
sabili dan saksi. mungkin inilah kesamaan paling utama kedua partai
tersebut.

saya juga melihat keberhasilan PKS sangat banyak ditunjang oleh
ideologi Islam yg dianut, mengingat penduduk muslim sangat banyak di
indonesia. strategi mereka juga tepat ketika mengincar kaum muda
sebagai simpatisan mereka, terutama anak2 kampus. sudah umum dipahami
bahwa kaum muda memiliki militansi dan idealisme yg tinggi (itu juga
sebabnya kenapa kaum kiri di indonesia kebanyakan dari kalangan anak
muda kampus),jelas cocok menjadi motor pergerakan PKS. tapi tentu
saja, posisi elit tetap diduduki oleh para ustadz.

entah ini menurut saya saja kali ya. kalo saya bilang justru ideologi
PKS ini lebih fleksibel dibanding ideologi sosialisnya PRD. saya inget
beberapa waktu lalu ada teman saya cerita bahwa PKS saat ini sedang
menggeser ideologinya agara mampu memperluas jumlah simpatisan, untuk
mencapai target 20% jumlah suara nasional di pemilu 2009 nanti.
katanya sekarang untuk jadi simpatisan PKS nggak perlu bisa baca
al-quran atau harus Islam. dulu kan ini menjadi persyaratan ketat kalo
mau masuk dalam komunitas tarbiyah ini.

saya sendiri semasa kuliah di UI ikut terlibat di tengah2 aktivitas
kelompok muda simpatisan PKS ini melalui lembaga seperi BEM, Senat,
dll. bahkan dengan terlibat di lembaga2 formal ini struktur mereka
jadi terbentuk lebih jelas dan membuat mereka terbiasa berorganisasi.
ini berbeda dengan kaum kiri di kampus saya pada saat yg sama. karena
mereka bergerak dalam lembaga non-legal, mereka jadi cenderung mudah
terpecah.

jadi kalo mau diangkat ke level yg lebih tinggi ya menurut saya
keberhasilan PKS adalah pada strukturnya yg kokoh, sistem perekrutan
(dan karena itu juga regenerasinya) yg efektif. beda dengan organisasi
kiri (termasuk PRD) yg meskipun rekrutmennya cukup baik, tapi
regenerasinya sangat buruk menurut saya, pun secara organisasional
mereka kurang terkelola dengan baik. namun mungkin ini cuma menjawab
sedikit dari banyak faktor yg menyumbang kebesaran/kemunduran sebuah
partai.

bagi saya sendiri, PKS dengan segala kontroversinya adalah salah satu
partai terbaik dan terbersih di negara kita. sayang aja unsur2
oportunis masih ada dalam jiwa militan para petinggi2 partai. sikap
ini menyebabkan PKS sulit untuk menjaga citra bersihnya yg telah
tertanam pada 2004 lalu. maksud saya, PKS jadi ikut2an politik dagang
sapi tidak hanya di level nasional (karena keputusan mereka utk ikut
koalisi dengan kubu SBY-JK), tapi juga di level bawah ketika mereka
memajukan calon2 di pilkada. tentu saja menurut mereka tindakan
tersebut diambil untuk berkontribusi terhadap masyarakat. sayang.

seharusnya PKS tetap menjadi partai oposisi yg tidak mengincar
kekuasaan secara pragmatis. kalau ini yg dilakukan, mungkin PKS tidak
hanya akan menjadi sebuah partai yg disegani, tetapi juga akan menjadi
sebuat kekuatan perubahan yg nyata. tapi apa lacur.

untung juga sih, jadinya wacana penerapan syariah Islam tetap mentah,
hehehe...


-bangkit-
moderate center-left always



NB: oiya, temen2 saya yg kiri justru setelah lulus banyak yg kerja di
korporat asing besar, sementara yg kanan masih banyak yg
mempertahankan idealisme mereka dgn bekerja sbg guru SD atau bekerja
di percetakan/penerbitan Islami. is it means something?

Kirim email ke