http://kompas.com/read/xml/2008/11/07/17273330/dpr.seperti.anak.sma.tawuran.
JAKARTA, JUMAT - Sebuah analogi diungkapkan pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Indonusa Esa Unggul, Irman Putra Sidin, untuk menggambarkan lembaga wakil rakyat. Ia mengatakan, selama ini DPR bak anak SMA tawuran. Tak pernah berani maju sendiri. Tapi selalu 'teriak' beramai-ramai. Hal ini diungkapkan Irman saat menanggapi rencana pengajuan judicial review yang akan diajukan sejumlah partai terkait ketentuan syarat persentase mengusulkan capres, 20 persen kursi di DPR atau 25 persen perolehan suara nasional. Sebenarnya, menurut Irman, semua partai baik partai besar maupun partai kecil dirugikan dengan ketentuan tersebut. "Tapi DPR itu kan isinya parpol-parpol yang selama ini kayak anak SMA tawuran. Enggak berani maju sendiri, beraninya ribut, teriak rame-rame," kata Irman di Gedung DPR, Jumat (7/11). Oleh karena itu, menurutnya, salah jika publik mempersepsikan DPR kuat. Wacana bahwa syarat persentase yang tinggi akan menciptakan koalisi yang kuat sejak awal pengusungan capres, menurutnya tak relevan sebagai alasan menciptakan posisi presiden yang kuat. Besarnya dukungan koalisi parpol di parlemen tak akan menjamin hal itu terwujud. "Bedakan antara sistem presidensiil yang dikuatkan dengan presiden yang dikuatkan. Menurut saya, ide gila menciptakan koalisi permanen. Kalau koalisi politik ya, tapi tidak koalisi permanen," ujarnya. Bahkan, ia memprediksi, partai besar akan ikut 'ribut' jika pada pemilu legislatif nanti tak ada yang berhasil mencapai 20 persen kursi di DPR atau 25 persen perolehan suara dan akhirnya tak bisa melenggang sendiri mengusung capresnya. "Sekarang, dia (partai-partai besar) merasa diatas angin bisa mencapai 20 persen. Lihat saja nanti, kalau tidak sampai, sengak (belagu) enggak?," kata Irman. Inggried Dwi Wedhaswary Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network
