Sejujurnya saya lebih respeks kepada lembaga Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI). Idealisme para Anggota DPD RI untuk kepentingan daerahnya maupun nasional sudah teruji. Jika saja masyarakat Indonesia medukung lembaga DPD RI sepenuh hati, maka check and ballace untuk kekuasaan legislatif dan eksekutif akan lebih baik lagi.
Di negara-negara maju sistem penguatan "DPD" (Senator) oleh masyarakat luas sangat fantastis. Sehingga yang diuntungkan kembali adalah masyarakatnya sendiri. Kalau ada yang masih "tawuran ala SMA" karena ingin tampak ototnya kuat maka tentunya kita lebih respek pada yang pasca "Gita Cinta dari SMA." Berfikirnya secara dewasa dan lebih berani walaupun mereka perorangan. Salam, Ruslan Andy Chandra ________________________________ Dari: maria mustika <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kamis, 4 Desember, 2008 13:22:18 Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] DPR Seperti Anak SMA Tawuran wah sudah naik kelas toh..duku anak TK sekarang sudah SMA? Wah gak terasa sudah besar yach ;) ____________ _________ _________ __ From: Agus Hamonangan <agushamonangan@ yahoo.co. id> To: Forum-Pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com Sent: Saturday, November 8, 2008 2:34:35 PM Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] DPR Seperti Anak SMA Tawuran http://kompas. com/read/ xml/2008/ 11/07/17273330/ dpr.seperti. anak.sma. tawuran. JAKARTA, JUMAT - Sebuah analogi diungkapkan pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Indonusa Esa Unggul, Irman Putra Sidin, untuk menggambarkan lembaga wakil rakyat. Ia mengatakan, selama ini DPR bak anak SMA tawuran. Tak pernah berani maju sendiri. Tapi selalu 'teriak' beramai-ramai. Hal ini diungkapkan Irman saat menanggapi rencana pengajuan judicial review yang akan diajukan sejumlah partai terkait ketentuan syarat persentase mengusulkan capres, 20 persen kursi di DPR atau 25 persen perolehan suara nasional. Sebenarnya, menurut Irman, semua partai baik partai besar maupun partai kecil dirugikan dengan ketentuan tersebut. "Tapi DPR itu kan isinya parpol-parpol yang selama ini kayak anak SMA tawuran. Enggak berani maju sendiri, beraninya ribut, teriak rame-rame," kata Irman di Gedung DPR, Jumat (7/11). Oleh karena itu, menurutnya, salah jika publik mempersepsikan DPR kuat. Wacana bahwa syarat persentase yang tinggi akan menciptakan koalisi yang kuat sejak awal pengusungan capres, menurutnya tak relevan sebagai alasan menciptakan posisi presiden yang kuat. Besarnya dukungan koalisi parpol di parlemen tak akan menjamin hal itu terwujud. "Bedakan antara sistem presidensiil yang dikuatkan dengan presiden yang dikuatkan. Menurut saya, ide gila menciptakan koalisi permanen. Kalau koalisi politik ya, tapi tidak koalisi permanen," ujarnya. Bahkan, ia memprediksi, partai besar akan ikut 'ribut' jika pada pemilu legislatif nanti tak ada yang berhasil mencapai 20 persen kursi di DPR atau 25 persen perolehan suara dan akhirnya tak bisa melenggang sendiri mengusung capresnya. "Sekarang, dia (partai-partai besar) merasa diatas angin bisa mencapai 20 persen. Lihat saja nanti, kalau tidak sampai, sengak (belagu) enggak?," kata Irman. Inggried Dwi Wedhaswary Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network [Non-text portions of this message have been removed] Apa dia selingkuh? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. http://id.answers.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
