mereka memang dididik untuk menajdi gerombolan, sejak dari kampung atau desa 
sampai dengan sma dan mahasiswa; individualitasnya tidak pernah muncul. maka 
ketika menjadi anggota dpr, seperti juga dalam berkorupsi mereka berjemaah, 
maka dalam menyatakan pendapat juga secara gerombolan. itu artinya mereka ingin 
menghapus jejak dan tanggung jawab; dengan kata lain, sebenarnya mereka kuliti 
tukang stempel.
hhd.
--- On Fri, 11/7/08, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] DPR Seperti Anak SMA Tawuran
To: [email protected]
Date: Friday, November 7, 2008, 11:34 PM










    
            http://kompas. com/read/ xml/2008/ 11/07/17273330/ dpr.seperti. 
anak.sma. tawuran.



JAKARTA, JUMAT - Sebuah analogi diungkapkan pakar Hukum Tata Negara

dari Universitas Indonusa Esa Unggul, Irman Putra Sidin, untuk

menggambarkan lembaga wakil rakyat. Ia mengatakan, selama ini DPR bak

anak SMA tawuran. Tak pernah berani maju sendiri. Tapi selalu 'teriak'

beramai-ramai.



Hal ini diungkapkan Irman saat menanggapi rencana pengajuan judicial

review yang akan diajukan sejumlah partai terkait ketentuan syarat

persentase mengusulkan capres, 20 persen kursi di DPR atau 25 persen

perolehan suara nasional. Sebenarnya, menurut Irman, semua partai baik

partai besar maupun partai kecil dirugikan dengan ketentuan tersebut.



"Tapi DPR itu kan isinya parpol-parpol yang selama ini kayak anak SMA

tawuran. Enggak berani maju sendiri, beraninya ribut, teriak

rame-rame," kata Irman di Gedung DPR, Jumat (7/11).



Oleh karena itu, menurutnya, salah jika publik mempersepsikan DPR

kuat. Wacana bahwa syarat persentase yang tinggi akan menciptakan

koalisi yang kuat sejak awal pengusungan capres, menurutnya tak

relevan sebagai alasan menciptakan posisi presiden yang kuat. Besarnya

dukungan koalisi parpol di parlemen tak akan menjamin hal itu terwujud.



"Bedakan antara sistem presidensiil yang dikuatkan dengan presiden

yang dikuatkan. Menurut saya, ide gila menciptakan koalisi permanen.

Kalau koalisi politik ya, tapi tidak koalisi permanen," ujarnya.



Bahkan, ia memprediksi, partai besar akan ikut 'ribut' jika pada

pemilu legislatif nanti tak ada yang berhasil mencapai 20 persen kursi

di DPR atau 25 persen perolehan suara dan akhirnya tak bisa melenggang

sendiri mengusung capresnya. "Sekarang, dia (partai-partai besar)

merasa diatas angin bisa mencapai 20 persen. Lihat saja nanti, kalau

tidak sampai, sengak (belagu) enggak?," kata Irman.



Inggried Dwi Wedhaswary



Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network 




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke