*Moderator yang baik, perkenankan saya memposting artikel berikut. Dikirim
oleh seorang kawan, walaupun sudah lama, tapi saya kira masih relevan dengan
kondisi krisis sekarang ini.*

-----------------------------

*Proyek LNG Tangguh: Potensi Kesejahteraan atau Malapetaka Bagi Pemilik Hak
Ulayat di Bintuni serta Masyarakat Adat Papua?*

*Ditulis oleh: Hans Gebze [EMAIL PROTECTED]  atau [EMAIL PROTECTED]
]*

Heboh LNG Tangguh yang melibatkan elit politik nasional Indonesia dan
gerbong politik mereka, bukanlah sesuatu yang aneh bin ajaib bagi rakyat,
sudah berulang kali perebutan remah-remah ekonomi dari berbagai mega proyek
yang melibatkan investor besar luar negeri -- tentu saja dengan dana
investasi milyaran dollar AS -- dipertontonkan dengan terbuka maupun
dibelakang layar [tersembunyi] oleh para pemimpin politik Indonesia.

Pertarungan terbuka diberbagai media oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan
mantan presiden Megawati Soekarnoputri pada bulan Agustus dan September lalu
adalah sebuah drama politik yang sangat menghebohkan bagi public. Banyak
orang dibuat tersentak, kaget, marah dan tak mempercayai ending memalukan
dan menyedihkan dari proses penjualan LNG Tangguh yang telah diketahui
akhirnya merugi.

Terlepas dari apakah ini merupakan manuver politik Jusuf Kalla untuk
mendongkrak suara Golkar dan dirinya sebagai Capres atau Cawapres pada
pemilu 2009 yang akan datang, kita tentu dibuat kaget oleh kemunculan berita
ini.

Mengapa tidak? Mega proyek bernilai US$ 5 milyar dollar tersebut terbelit
nilai kontrak yang merugikan secara financial, jika dihitung secara logis
maka akan ditemui angka US$ 3 milyar kerugian per tahun dari kontrak jangka
panjang selama 25 tahun, jika dijumlah secara keseluruhan maka total
kerugian mencapai US$ 75 milyar dollar.

Wahai! Inilah dia biang keributan yang menghebohkan itu, jika dihitung dalam
rupiah maka kita akan melihat jumlah US$ 75 milyar dollar tadi menjadi 700
trilyun rupiah, angka ini melampaui APBN NKRI untuk beberapa tahun kedepan,
dan bukanlah angka yang kecil bagi negara seukuran Indonesia yang ekonominya
morat-marit sejak krisis moneter 1997 lalu.

Angka 700 trilyun rupiah tersebut juga, jika dibagi secara gratis kepada
rakyat Indonesia seluruhnya, maka Anda dan saya akan mendapat masing-masing
3 juta rupiah, nilai tersebut seratus kali lipat jumlahnya dari jatah BLT
yang dibagikan pemerintah RI kepada rakyat miskin!

Korupsi politik adalah mental dari budaya sebuah bangsa, demikianlah asumsi
psikologis yang muncul dalam benak public yang menyaksikan berbabagi acrobat
politik para elit terkait skandal LNG Tangguh. Sangat banyak reklame korupsi
politik yang berulang kali dipertontonkan para elit politik Indonesia dan
kisruh politik LNG Tangguh adalah salah satu reklame korupsi politik yang
secara gamblang diperlihatkan kepada public.

Budaya dan praktik korupsi dimunculkan kembali dalam kasus LNG Tangguh oleh
para elit politik yang tidak bertanggung jawab dan telah menimbulkan petaka.
Negara rugi! Rakyat menderita! Apalagi masyarakat adat Papua di Bintuni
Papua, merekalah korban sejarah yang berulang di Tanah berdarah-darah ini!

Jika tidak hati-hati maka proses kehancuran sudah pasti dihasilkan dan
kerugianlah yang diperoleh, dan sekali lagi, rakyatlah yang dirugikan,
terutama masyarakat adat Papua di Teluk Bintuni.

Marilah kita simak sejenak cerita dibalik bentrok politik antara wakil
presiden Jusuf Kalla dan mantan presiden Megawati Soekarnoputri.

Bermula dari proses kontrak LNG Tangguh yang pada awalnya dilakukan pada
tahun 2001 tetapi gagal, waktu itu produk gas alam cair dari LNG Tangguh
hendak dijual melalui jalur Terminal Import LNG di Guandong, China, dan
Terminal Import LNG di Tatan, Taiwan, tetapi usaha ini gagal karena tidak
tercapainya kesepakatan harga dengan para pembeli [konsumen]. Indonesia
gagal memenangi tender!

Pasar pada waktu itu dalam kondisi buyer's market, artinya pasar dikuasai
pembeli dengan demikian mereka yang menentukan harga sebuah komoditas, dalam
kasus LNG Tangguh misalnya, mereka jugalah yang menentukan syarat-syarat
kontrak pembelian, selain itu factor lain yang menentukan kegagalan itu
adalah karena konflik kepentingan yang mendasari penjualan gas Tangguh,
yaitu oleh BP sebagai operator utama yang pada waktu negosiasi kontrak
dilakukan, memberikan peluang kepada ANSW [Australian North West Self] LNG
-- anak perusahaan lain dari BP di Australia – untuk memenangkan tender di
Guandong, China, dan selain itu China National Offshore Oil Corporation
sebagai pembeli sekaligus rekanan pemilik saham di proyek LNG Tangguh juga
memiliki peran sehingga kontrak pertama gagal dilakukan.

Murahnya harga minyak mentah dunia pada saat itu, menyebabkan banyak
konsumen energy tidak berminat terhadap LNG sebagai energy primer
alternative, sehingga LNG Tangguh dijual sangat murah, walau demikian
pemerintah RI dan investor LNG Tangguh tetap melakukan upaya kontrak
penjualan.

Pada tanggal 6 September 2002, kontrak eksport LNG Tangguh ke Fujian
[China], akhirnya disepakati antara pemerintah RI [Megawati Soekarnoputri
sebagai presiden] dengan pemerintah China pada waktu itu. Kontrak itu
menyebutkan harga jual LNG Tangguh US$ 2, 66 dollar per MMBTU, harga
tersebut flat selama 25 tahun tanpa terpengaruh fluktuasi harga minyak dunia
dan kontrak ini berlaku untuk penjualan 2,6 juta ton gas per tahun kepada
pihak China. Jumlah total penjualan gas dari LNG Tangguh kepada konsumen
adalah sebesar 7,5 juta ton, jumlah ini sudah termasuk kontrak dengan pihak
China.

Akan tetapi karena naiknya harga minyak dunia, maka pada tahun 2006 kontrak
eksport LNG Tangguh dinegosiasi ulang sehingga kesepakatan harga menjadi US$
3, 35 Dollar per MMBTU.

Dua kontrak eksport LNG Tangguh ini terjadi pada saat harga minyak dunia
berkisar antara US$ 40 dollar hingga US$ 60 dollar per barel. Kini harga
minyak dunia telah melampaui US$ 120 dollar per barel. Sebagai perbandingan,
disaat harga minyak mentah dunia telah mencapai US$ 120 dollar per barel,
maka kini harga LNG Arun dan LNG Badak mencapai nilai jual US$ 20 dollar per
barel, mengapa LNG Tangguh tetap US$ 3,35 dollar per barel? Mengapa pula
harga jual LNG Tangguh per MMBTU lebih rendah dari harga jual gas di
Indonesia sendiri yang berharga US$ 4 – 5 dollar per MMBTU? Lebih konyol
lagi, nilai jual LNG Tangguh per MMBTU bahkan lebih rendah dari harga tabung
gas 3 kilo gram yang dibagikan kepada rakyat miskin beberapa bulan lalu.

Jika Kontrak LNG Tangguh tidak berlaku tetap atau tidak flat selama 25 tahun
-- artinya harga LNG akan berubah seturut fluktuasi harga minyak dunia --
maka barang tentu proses penjualan LNG Tangguh akan sangat menguntungkan
akibat semakin mahalnya harga minyak dunia, tetapi hal ini tidak terjadi,
karena ketentuan dalam kontrak menyebutkan harga LNG Tangguh flat atau tetap
untuk jangka waktu 25 tahun sehingga potensi kerugian diperkirakan mencapai
US$ 3 milyar per tahun, jika dijumlah selama 25 tahun akan menjadi US$ 75
milyar atau mendekati angka 700 trilyun rupiah, sebuah angka yang fantastis
dan inilah yang menjadi biang keributan Jusuf Kalla dan Megawati
Soekarnoputri serta berbagai kalangan di Indonesia dan hal ini tentu saja
membuat panic masyarakat di Tanah Papua.

Secara praktis, Proyek LNG Tangguh sudah mulai berproduksi pada akhir tahun
2008 dan memulai eksport penjualan gas alam [LNG] pada tahun 2009. Akan
tetapi sebelum semua proses produksi dimulai oleh LNG Tangguh dan memulai
eksport hasil produksinya, pemerintah RI telah terperangkap kedalam kerugian
material akibat salah atur dan mismanajemen pemerintahan berkuasa yang telah
membuat kontrak sebelumnya dengan pihak konsumen [pemerintah China].

Dengan melihat kencenderungan pasar dimana harga minyak dunia terus naik
hingga kini berada pada level US$ 120 dollar per barel, sudah barang tentu
para pengguna energy utama dunia mencoba mengalihkan pembelian energy primer
lain selain minyak yaitu Liquid Natural Gas [LNG] untuk memenuhi kebutuhan
dasar energy domestik mereka, tetapi kontrak telah diteken dan kerugian
akibatnya telah tercium baunya bagai bangkai busuk!

Inilah sebuah tragedy Yunani, yaitu sebuah tragedy dimana para pelaku
memainkan sebuah lakon drama diatas pentas serta mengendalikan akhir sebuah
cerita dalam drama tersebut bagi kepentingan mereka sendiri, dalam kasus LNG
Tangguh, akhir ceritanya jelas: *kita dirugikan!*

Lalu bagaimana dengan nasib dan masa depan masyarakat adat di Tanah Papua
terutama pemilik hak ulayat di Teluk Bintuni? Tentu saja ini merupakan
pertanyaan mendasar yang harus dijawab secara obyektif, komprehensif dan
terukur bagi rasa keadilan yang tentu saja sangat dinantikan masyarakat adat
Papua di Teluk Bintuni dan Tanah Papua pada umumnya.

*Sentra Ekonomi Baru di Tanah Papua*

Dengan jumlah kandungan gas yang diperkirakan mencapai 14,4 Trilyun Kaki
Kubik, Proyek LNG Tangguh tentu saja telah menjadi bonanza ekonomi baru di
Tanah Papua selain Freeport Indonesia yang sejak tahun 1967 telah memulai
operasi penambangannya di daerah Timika, Papua.

Kehadiran raksasa tambang British Petrolieum [BP] yang berkantor pusat di
London, Inggris, telah menggairahkan geliat ekonomi disekitar Teluk Bintuni,
Tanah Papua.

Mega proyek LNG Tangguh memiliki tiga [3] blok eksploitasi gas alam cair,
yaitu Blok Berau, Blok Weriagar dan Blok Muturi serta beberapa blok lain
yang masih dalam tahap eksplorasi, yaitu: Vorwata, Roabiba, Ofaweri, Wos dan
Ubadiri.

Selain itu, mega Proyek LNG Tangguh terbilang merupakan proyek gas alam cair
terbesar yang pernah ada di Indonesia dan tentu akan menjadi kampiun dalam
penghasilan gas alam cair untuk masa-masa yang akan datang.

British Petrolieum [BP] Indonesia merupakan operator utama dengan jumlah
saham yang dimiliki sebesar 37.16% sementara investor lain yang dilibatkan
dalam mega proyek ini adalah:

·       CNOOC Muturi Limited dan CNOOC Weriagar Overseas Limited [keduanya
dimiliki oleh China National Offshore Oil Corporation] dengan jumlah saham
sebesar 16.96%**

·          MI Berau B.V [dimiliki oleh Mitsubishi Corporation dan INPEX
Corporation] dengan jumlah saham 16.30%**

·     Nippon Oil Exploration [Berau] Limited [dimiliki oleh Nippon Oil
Exploration Limited dan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation]
dengan jumlah saham 12.23% **

·         KG Berau / KG Weriagar [dimiliki oleh Kanematsu Corporation,
Overseas Petroleum Corporation, anak perusahaan dari Mitsui & Co. Ltd., dan
Japan Oil, Gas and Metals National Corporation] dengan jumlah saham 10.0%**

·         LNG Japan Corporation [dimiliki oleh Sumitomo Corporation dan
Sojitz Corporation] dengan jumlah saham sebesar 7.35%**

Selain itu, BP Indonesia sebagai operator utama mega proyek LNG Tangguh juga
melibatkan rekanan komersil dalam menjalankan proyeknya. Para pihak yang
terlibat sebagai rekanan komersilnya adalah General Electric yang akan
menyediakan turbin dan kompresor utama yang akan mengalirkan gas ke LNG yang
akan diproduksi didaratan selatan Bintuni dan seterusnya dieksport ke
terminal-terminal import LNG di Fujian - China, Korea Selatan, Jepang,
Amerika Serikat dan Meksiko.

Rekanan komersil lain adalah Saipem yang akan melakukan konstruksi lepas
pantai dan bawah laut bagi Proyek LNG Tangguh, dan juga untuk membangun
infrastruktur proyek senilai US$ 5 milyar dollar ini, BP juga memberikan
tender proyek untuk pembangunan fasilitas darat bagi LNG Tangguh kepada
konsorsium KBR [melalui anak perusahaan Brown & Root Indonesia, JGC
Corporation dan PT. Pertafenniki], secara bersama-sama mereka dikenal
sebagai konsorsium KJP.

Geliat ekonomi di Teluk Bintuni akibat kehadiran mega proyek LNG Tangguh,
telah manjadikan wilayah ini sebagai suatu barometer pasar yang terbuka
dimana terjadi mobilisasi tenaga kerja [buruh] dan juga orang-orang lain
dengan berbagai institusi ekonomi yang dimiliki untuk mulai melakukan
upaya-upaya ekonomis dan mencari keuntungan akibat penemuan gas alam cair
[LNG] didaerah ini.

Diawal eksplorasi dan pembangunan sarana industry ini, proyek LNG Tangguh
memicu pertumbuhan tenaga kerja yang besar, kurang lebih tiga ribu [3000]
buruh telah dipekerjakan, seiring berjalannya waktu dengan tersedianya
prasarana penunjang dan infrastruktur yang memadai, Bintuni akan menjadi
pintu masuk bagi orang-orang yang hendak mencari peruntungan hidup di
wilayah operasi gas alam LNG Tangguh.

Mall, hypermarket, pasar-pasar swalayan hingga pasar tradisional, rumah
sakit, sekolah, prasarana pemerintahan, lapangan terbang, pelabuhan laut,
dan lain sebagainya, tentu akan akan dibangun didaerah ini sebagai kebutuhan
pokok bagi pemenuhan konsumsi para pekerja dan konsumen lain yang hadir
sebagai akibat munculnya mega Proyek LNG Tangguh.

Terbukanya Bintuni sebagai pusat ekonomi baru di Tanah Papua, dengan
sendirinya menjadikan wilayah ini sebagai tempat yang menjajikan bagi orang
diluar Bintuni untuk memasuki wilayah ini, inilah mobilisasi yang dimaksud.

Para pihak yang terlibat dalam mega proyek LNG Tangguh seperti telah
disebutkan diatas adalah multi national corporate yang dimiliki oleh
negara-negara industry maju seperti Inggris, Jepang, China dan Amerika
Serikat serta kontraktor nasional dari Indonesia.

Awalnya proyek LNG Tangguh dicanangkan oleh mantan presiden Soeharto pada
tahun 1997, namun dengan jatuhnya pemerintahan orde baru yang menandai
berakhirnya kekuasaan Soeharto, maka kebijakan mega proyek ini ditentukan
oleh pemerintahan selanjutnya.

Pada masa pemerintahan Megawati Soekarnopuri, kawasan Teluk Bintuni dengan
LNG Tangguh-nya pada tahun 2001 dinyatakan sebagai proyek nasional / sentra
ekonomi ketiga dan diharapkan pengambilan gas alam cair [LNG] dari Tangguh
akan menutupi produksi LNG Arun dan LNG Badak yang semakin menurun dan
diharapkan pula bahwa LNG Tangguh akan menjadi sumber pendapatan negara dari
sector migas.

Dengan demikian, dalam jangka waktu 10 tahun yang akan datang, Teluk Bintuni
akan menjadi pusat industry dengan berbagai aktivitas social lainnya yang
timbul didalamnya, ia akan menjadi bonanza ekonomi baru bagi para pencari
keuntungan dan penghisapan structural pasti akan terjadi!

*Bagaimana dengan Renegosiasi Kontrak LNG Tangguh?*

Kontrak penjualan LNG ke Fujian tidak bisa lepas dari tender LNG Guangdong
[dilakukan pada tahun 2001]. Pada saat dilakukan tender LNG Guandong, pihak
China telah menetapkan formula harga (slope) yang dikaitkan dengan harga
minyak dengan batasan harga Ceiling dan Floor yang dicantumkan dalam dokumen
tender (Invitation to Bid). Terdapat 6 peserta tender (Australia, Qatar,
Indonesia, Yaman, Oman, dan Sakhalin/Rusia). Dari proses tender Australia
dinyatakan sebagai pemenang.



Sebagai kompensasi dari kekalahan Indonesia, pihak China menawarkan proyek
LNG Fujian kepada Indonesia dengan persyaratan dan formula harga yang sama
termasuk batasan harga ceiling dan floor dan akhirnya hasilnya kontrak
penjualan LNG Tangguh ke Fujian ditandatangani pada tanggal 6 September
2002.



Pembentukan Tim Negosiasi LNG Tangguh untuk melakukan renegosiasi kontrak
penjualan dengan pihak pemerintah China untuk kesekian kalinya, hanya akan
terjadi diatas meja oleh kedua perwakilan dari otoritas pemerintah, dan
apakah akan memberikan dampak yang positif? Bagai buah simalakama, jika
dimakan kita akan menjadi korban, tidak dimakan juga kita tetap menjadi
korban, kira-kira beginilah deskripsi yang pas dari Kontrak LNG Tangguh yang
merugikan itu!

Ada beberapa hal pokok yang mendasari konflik kepentingan dalam kontrak
penjualan LNG Tangguh, faktor-faktor tersebut, antara lain;

Pertama, dalam UU Migas Nomor 22 Tahun 2001, Badan Pelaksana Kegiatan Hulu
Minyak dan Gas (BP Migas) sebagai pengelola kekayaan migas nasional, sesuai
UU Migas tersebut BP Migas berstatus sebagai badan hukum milik negara yang
tidak layak untuk berbisnis perminyakan. Akibatnya, untuk mengembangkan dan
menjual migas bagian negara, berdasarkan UU Migas Pasal 44 Ayat 3g, BP Migas
harus menunjuk pihak lain sebagai penjual, dengan demikian pihak swasta yang
memiliki peluang untuk menjual hasil-hasil migas, termasuk dalam kasus
penjualan LNG Tangguh.

Kedua, BP Indonesia sebagai operator utama proyek LNG Tangguh diserahi tugas
untuk menjual hasil produksi gas LNG Tangguh. Pada waktu kontrak pertama
hendak diteken pada tahun 2001, BP yang berkantor pusat di London, juga
menyertakan ANWS LNG [BP Australia] dalam proses tender LNG di Guandong,
China. Ada semacam konspirasi, sehingga BP Australia melalui ANWS
dimenangkan tendernya.

Ketiga, China National Offshore Oil Corporation [CNOOC] adalah pembeli LNG
Tangguh, selain itu, korporasi ini juga memiliki saham pada proyek LNG
Tangguh. Melalui CNOOC pemerintah China membatalkan kontrak pertama dengan
Indonesia.

Keempat, seperti telah diuraikan diatas, kompensasi yang diberikan
pemerintah China kepada Indonesia adalah dengan menawarkan penjualan LNG
Tangguh untuk di eksport ke terminal LNG Fujian, terminal import LNG lain
yang dimiliki oleh China, dengan syarat yang sudah ditetapkan terlebih
dahulu seperti pada syarat penjualan LNG luar kepada LNG Guandong.

Kelima, pemerintah RI melalui badan swasta beserta Tim Ekonomi Indonesia
yang ditunjuk pada akhirnya memenangkan tender penjualan LNG Tangguh ke
Fujian [China] dengan harga US$ 2,66 dollar per MMBTU pada tanggal 6
September 2002 dan kemudian kontrak penjualan tersebut diperbaharui pada
tahun 2006 sehingga harga penjualan LNG Tangguh menjadi US$ 3,35 dollar per
barek MMBTU.

Kini team negosiasi yang baru telah dibentuk lagi oleh pemerintah RI dan
akan melakukan proses renegosiasi kontrak penjualan LNG Tangguh yang
direncanakan setelah libur lebaran. Apakah team yang telah dibentuk akan
mampu mengatrol harga sesuai dengan keinginan otoritas Indonesia? Berharap
ya, boleh-boleh saja, tetapi China memiliki peran lebih besar kali ini
sebagai pembeli sekaligus pemegang saham di LNG Tangguh melalui CNOOC, jika
blunder dalam negosiasi terjadi maka jelas menjadi petaka bagi Indonesia.

Banyak pihak, terutama analis energy, memberikan solusi agar batas atas
[ceiling] dan batas bawah [floor] LNG dalam syarat kontrak dibicarakan ulang
sehingga besaran harga jual bisa ditetapkan berdasarkan nilai rata-rata atau
median dari harga jual minyak dunia sehingga harga jual LNG Tangguh bisa
dikatrol sesuai kenaikan harga jual minyak mentah dunia, meski ada patokan
harga batas atas dan bawah. Hal ini disarankan untuk menjaga hubungan
strategis Indonesia dan China dalam hal perdagangan dan hubungan diplomatic
kedua belah pihak.

Pihak lain menyarankan agar kontrak tidak saja direnegosiasi jika perlu
dibatalkan dan kontrak penjualan dialihkan kepada pembeli lain, misalnya
Jepang atau Korea Selatan, dengan jaminan keuntungan berlipat ganda dari
hasil negosiasi penjualan baru. Dengan terus meningkatnya harga penjualan
minyak mentah dunia hingga mencapai level US$ 120 dollar per barel, para
pembeli [konsumen] energy dunia saat ini tentu sedang melirik LNG sebagai
energy primer alternative pengganti minyak untuk memenuhi kebutuhan
penggunaan energy mereka.

Kondisi pasar LNG saat ini berada ditangan para penjual, pasar sedang dalam
posisi seller's market! Kondisi ini tentu menguntungkan pihak Indonesia
sebagai penjual LNG, akan tetapi, membatalkan kontrak penjualan LNG Tangguh
dengan pihak China tentu saja akan menjadi pilihan radikal yang harus
dihitung oleh pemerintah RI dengan berbagai implikasi ekonomi dan politik
dikemudian hari.

Barangkali pemerintah RI tidak akan mengambil resiko dengan menceburkan diri
pada perang terbuka secara ekonomis dengan pihak China. Bukankah kedua
negara ini adalah hopeng [bersahabat]? Mungkin lebih baik mengikuti pepatah
"a friend in need is a friend indeed." Teman waktu dibutuhkan [susah] adalah
teman sejati [sahabat].

Lalu bagaimana dengan masyarakat adat Papua di Teluk Bintuni? Apakah hak-hak
social mereka dipenuhi akibat kehadiran LNG Tangguh? Tidak banyak yang
melihat dan merasakan dampak kehadiran mega proyek itu selain masyarakat
adat Papua di Bintuni. Mereka tergusur dari kampung halamanya, mereka
direkolasi didaerah-daerah baru dengan  jaminan social yang curang.

Tahukah Anda? Untuk sebuah rumah yang didapat sebagai jaminan relokasi,
mereka harus berhutang pada LNG Tangguh, mereka harus membayar kembali harga
rumah tersebut walaupun itu adalah kompensasi dari pembangunan mega proyek
LNG Tangguh.

Tahukah Anda? Untuk pembangunan mega proyek LNG Tangguh, tanah-tanah ulayat
masyarakat adat dikuasai tanpa imbalan sedikitpun, bahkan tanah-tanah yang
sudah dikapling oleh investor telah bersertifikat tanpa diketahui oleh para
pemilik hak ulayat di Bintuni.

Tahukah Anda? Ibu-ibu gagal melahirkan, karena mereka terkena dampak seismic
semasa proses eksplorasi dilakukan, tanyalah Ibu-ibu ini di Weriagar, sebuah
blok gas Tangguh yang baru dibangun, Anda akan temui betapa nyawa bayi-bayi
dalam kandungan itu tak lagi berharga!

Renegosiasi tidak berarti bagi mereka! Ia hanyalah birokratisasi dari
mekanisme pasar yang selalu mengorbankan rakyat, ia bahkan mendikte otoritas
sebesar negara NKRI! Lalu apakah keadilan masih tersisa dan memberikan
harapan bagi masyarakat adat Papua di Bintuni? Hanya Allang bangsa Papua
yang mengetahuinya.

*Tragedy Bintuni adalah Tragedy Masyarakat Adat Papua!*

Dibalik kisruh politik elit politik Indonesia atas kegagalan kontrak LNG
Tangguh yang merugi tersebut, tidak banyak pihak yang menyadari betapa
malang nasib masyarakat adat Papua di Teluk Bintuni akibat kehadiran mega
proyek LNG Tangguh.

Tidak banyak pula yang melihat, mendengar, dan merasakan langsung dari dekat
dampak pembangunan mega proyek LNG Tangguh terhadap keberadaan dan
eksistensi masyarakat adat yang telah menempati areal dimana operasi tambang
tersebut berlangsung.

Puluhan ribu tahun lalu masyarakat adat Papua mulai menetap dan membangun
kehidupan serta kebudayaannya di Teluk Bintuni. Dengan tatanan adat-nya,
mereka membangun peradaban dan memperkuatnya dengan nilai-nilai adab yang
dibangunnya, dengan itu pula mereka membangun kehidupan yang arif dari
generasi ke generasi.

Bersekutu dengan alam, menjaga dan merawat isi alam serta diambil sesuai
kebutuhannya, ini merupakan peradaban abadi dimana masyarakat adat dan alam
adalah satu jiwa yang tak terpisahkan. Menjaga lingkungan alam dan
merawatnya adalah kewajiban mutlak, sebab alam dengan kelimphannya telah
bermurah hati membagi miliknya bagi manusia-manusia adat yang tinggal
bersamanya, pola seperti ini yang dibangun oleh masyarakat adat diseluruh
Tanah Papua dan juga dunia luar.

Cerita ini adalah cerita kita, cerita masyarakat adat diseluruh dunia yang
dimalangkan nasibnya oleh berbagai eksploitasi kapitalisme internasional,
sebuah peradaban baru yang lahir diakhir abad ke 16, sebuah peradaban baru
yang dikemudian hari mendominasi, menghegemoni dan menghisap kita secara
politik dan ekonomi.

Jika kita memandang Teluk Bintuni, maka terpampang jelas nasib dan
pertarungan peradaban yang sangat dasyat antara masyarakat adat Papua di
Bintuni dan kapitalisme global yang menjelma dalam mega proyek LNG Tangguh.

Sejarah mengajarkan kita, pertarungan yang seperti ini biasanya dimenangkan
oleh kaum kapitalis dan masyarakat adat adalah korban yang empuk. Mereka
[kapitalis] menguasai negara-bangsa melalui kaki tangannya pada pemerintahan
yang berkuasa, mereka menguasai lembaga legislative yang biasanya membuat
regulasi [aturan / undang-undang] yang memudahkan eksploitasi kapitalis,
mereka menguasai system ekonomi dunia dan akhirnya dengan kekuatan modal
yang mereka miliki, mereka merampok semua yang kita miliki demi menambah
pundi-pundi kekayaan mereka.

Jika kita memandang Teluk Bintuni, maka terpampang dengan jelas sebuah
tragedy Yunani, sebuah tragedy yang menggambarkan sebuah drama dari
kelihaian para penindas dan kompradornya dalam melakukan eksploitasi dan
penghisapan kekayaan bumi Papua dan mengambil untung darinya, sementara
disaat yang bersamaan masyarakat adat Papua di Teluk Bintuni dan Tanah Papua
pada umumnya, harus menderita, terhisap dan tertindas dibawah bayang-bayang
eksploitasi yang terjadi.

*Kita Harus Mengakhiri!*

Penghisapan ekonomi imperialis melalui kompradornya [pemerintah RI] sudah
harus diakhiri sampai disini, tidak perlu menunggu waktu lama, karena
membiarkan proses adalah sama dengan kita [masyarakat adat Papua] memberikan
peluang yang lebih besar bagi penghisapan structural yang semakin kuat dan
menusuk kedalam sendi-sendi kehidupan kita.

Repesentasi negara [Indonesia] tidak saja menjadi representasi ketertindasan
dan penghisapan terhadap otoritas ini tetapi juga representasi dari suatu
kenyataan yang telah gagal dari negara atau otoritas yang terhisap.

Dalam konteks kita di Tanah Papua, ketertindasan dan penghisapan yang
demikian disebut "spiral penghisapan structural yang terputus." Proses ini
sedang terjadi dan akan terus terjadi untuk masa-masa yang akan datang.

Apa yang dimaksud dengan "spiral penghisapan structural yang terputus?"
Spiral penghisapan structural yang terputus adalah sebuah fenomena ekonomi
politik dimana, kapitalisme / imperialisme melakukan penghisapan terhadap
wilayah-wilayah dunia dengan memakai tangan negara-negara "merdeka" pasca
berakhirnya kolonialisme pada abad lalu. Banyak negara dunia yang telah
merdeka secara politik tetapi masih bergantung [dependen] secara ekonomi
terhadap negara-negara penjajah [imperialis] yang pernah menjajah
negara-negara tersebut.

Fenomena ketergantungan oleh negara-negara peripheral [pinggiran] tersebut
menyebabkan negara – negara induk kapitalisme global secara penuh memiliki
kekuatan untuk mendikte, mengontrol, mengendalikan, menguras dan menjarah
kekayaan bangsa-bangsa yang baru merdeka, sementara itu dipihak lain, negara
bangsa yang baru merdeka tentu memiliki wilayah-wilayah yang kaya sumber
daya alam sebagai jaminan bagi para pemilik modal internasional [negara
induk capital] untuk melakukan eksploitasi dan mengambil untung dari sana.

Inilah sebuah fenomena ekonomi dan politik dimana negara-negara induk
kapitalis seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa melalui mesin-mesin ekonomi
mereka [corporate finance dan multy national corporation] mengeksploitasi
negara-negara lain diwilayah Asia, Pasifik dan Amerika Latin yang secara
ekonomi bergantung pada mereka.

Indonesia sebagai negara peripheral dari kapitalisme internasional tentu
menjadikan Tanah Papua sebagai ladang pengambilan keuntungan untuk
dipersembahkan kepada negara-negara induk capital seperti AS, Uni Eropa,
Jepang, Australia dan lain sebagainya.

Freeport Indonesia adalah contoh dimana Tanah Papua dijadikan bargaining
politik demi kepentingan para penguasa korup dan lalim di Jakarta. Freeport
telah menjarah kekayaan alam Papua sejak tiga puluh tahun lalu dan
masyarakat adat di Tanah Papua hanya mendapat sisa-sisa yang tak bernilai!

Kini dijaman reformasi, LNG Tangguh menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk
melakukan penghisapannya terhadap Tanah Papua dan sekaligus memberikan
peluang lebih besar kepada negara-negara induk capital untuk mengambil
untung dengan melakukan investasi milyaran dollar di areal tambang gas LNG
Tangguh.

Kita sudah harus mengakhiri semua ini, inilah saatnya bagi kita untuk
bersatu dan menjadikan semua tantangan ekonomi dan politik yang kita hadapi
sebagai pijakan untuk mengambil garis yang jelas antara mereka yang menindas
dan kita yang tertindas.

Cukup, sudah cukup! Kita harus mengakhiri………………
-- 
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Blogs : http://papuandiary.blogspot.com/
----------------------
http://www.youtube.com/papuandiary
http://picasaweb.google.com/papuandiary/


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis FPK [Forum Pembaca KOMPAS] :

1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ dan 
http://kompas.com/
3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota
4.Moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke