At 10:57 AM 26-11-08, you wrote:
>pengusaha pendukung pengimpor daging dari Brazil memberi data klasik tentang
>kekurangan pemenuhan kebutuhan protein hewani dengan tingkat konsumsi begitu
>rendah dibanding negara lain, lalu memaksakan impor daging merah dari
>Brazil, tidak cuma dari Australia dan Selandia Baru semata yg benar-benar
>bebas PMK; seolah-olah bangsa ini begitu dahsyatnya kekurangan daging merah
>seperti tidak ada alternatif lain. alternatif yang diajukan pengusaha macam
>itu pun tidak ada sama sekali dan bilang tidak ada selain negara itu, seolah
>kita harus impor daging merah itu semata untuk memenuhi kebutuhan protein
>hewani. protein hewani kita tahu tak cuma dari daging merah, daging putih
>pun tak kurang-kurang. pengusaha yang ngebet impor daging brazil pun memakai
>dalih bahwa Dr Drh Denny Lukman yang menjadi tim penilai itu sudah bilang
>bahwa resiko dari impor daging brazil yg riskan terkena PMK dari negeri yang
>tidak bebas PMK itu sungguhlah sangat rendah bahkan dengan perlakuan ketat
>dengan teknologi tinggi resiko itu dapat mencegah kemungkinan masuknya virus
>PMK. Rupanya pengusaha ngebet ini tidak memakai seluruh penilaian Dr Drh
>Denny Lukman yang selanjutnya bilang bahwa intinya karena segala sistem yang
>kita punya tidak memenuhi standar yang diharapkan untuk mengatasi segala
>resiko itu, maka resiko itu pun menjadi meningkat alias lebih tinggi.
boong lagi, drh Dennyybilang gini
kalaua gak di apapan..maka saat ini resikonya adalah extreme low (
ini aja udahrendah banget lho ) ..
lalu Denny kk nyarankan ada upaya mirigasi spy jd negligible risk
misal harus ada lab .lalu hrs ada dana bencana penyakit
.kan saya udah bilanglengkapi aja lab nya.. lalu danna bencana memang
mesti ada tanpa perlu diseburt spesifik utk PMK.. , tapi \utk semua
penyakit sejenis misal
]
>Pengusaha yang ngebet macam itu bisa jadi malah menyalahkan dokter hewan dan
>pemerintah mengapa tidak meningkatkan keamanan resiko itu. Keadaan yang
>sesungguhnya terjadi adalah ketika kita bebas dari PMK pada tahun dulu itu,
>sesuai standar OIE semua peralatan untuk pemeriksaan PMK haruslah
>dimusnahkan, dan negara bebas PMK tidaklah boleh menyimpan sama sekali virus
>untuk vaksin (padahal untuk vaksin sediaan benih virus harus selalu
>diperbarui), pemusnahan peralatan deteksi dan untuk penanggulangan virus PMK
>saat pemberantasan dulu sungguhlah menghabiskan dana begitu besar! dan tidak
>mungkin kita menyediakan peralatan itu lagi karena prioritas untuk
>pemeriksaan penyakit itu kini ditujukan buat penyakit lain semacam AI/ flu
>burung. kalaupun untuk memeriksa setiap daging tanpa jeroan yang sudah
>mengalami perlakuan agar diyakini bebas dari PMK pun kita mesti ke Thailand
>tak terhitung biaya dan waktu yang dibutuhkan. belum lagi faktor kesahihan
tak terhitung biaya mriksa ke thailangd bodo dee yg gakbis ahitung
jadiingatNapoleon yg bilangkata tidakmungkin itu hanya ada kamus orang gila..
>dan kebenaran yang diimpor itu benarkah dari zona bebas Santa Catarina di
>Brazil yang sejatinya merupakan daerah bebas PMK tanpa vaksinasi yang sangat
>kecil wilayahnya dan tidak cukup jumlah daging yang disediakan atau
>diekspor, sangat memungkinkan daging asal Brazil lolos bukan hanya dari
>daerah itu.
kalau galk cukup ah bukan urusan kamu
urusan kamu ..cek ..apakah kita bisa trace back bhw setiap dgaing
yg kita impor itu benar dr wilayah bebas PMk dan benar nggak ada PMK
nya itu aja.
>Di sisi lain di dalam negeri kita sendiri, sistem otoritas
>veteriner yang kita punya sejak reformasi malah terkebiri dengan
>perangkat-perangkat keamanan kesehatan hewan menjadi begitu lemah (contoh
>kewenangan kesehatan hewan masihlah bukan di dokter hewan sepenuhnya karena
>aparat dokter hewan tunduk di bawah profesi lain di pemerintahan yang meski
>secara politik tetap saja dokter hewan berpengaruh pada kebijakan namun
>secara otoritas veteriner belulah sepenuhnya bisa terkontrol, hanya sejauh
>memberi masukan dan menekan pemerintah sesuai dengan kekuatan disiplin
>ilmunya;
lalu ini ngomong apa lagi
mau bilang drh yg sependpaat dgn pemerirntah saat ini.. bukan drh ?
mau bilang yg drh asli itu kalau menentang impor dr Brazil. ( ayo
dong proporsional dlmbanggakan profesi)
Lha bagaoamana drh di UE , drh di Singapore ( iuni negara bebas PMK
juga lh0o ) bagaimana dgn di Filipina, Bagaimana dgn Malaysia
jangan dibalik begini lho..
"kalau anda drh maka anda harus menjadi penjaga monume.., kalau anda
setuju dgn aturan OIE ygmembolehkan impor dr zone bebas.. , maka anda
bukan drh."
lucu ya kedengerennya, sama lucunya dgn ketika saya baca di
koran... kata kata Sitepu bhw karena menteri pertanian dan dirjen
peternakan yg bukan drh .. nggak bioleh ubah aturan ttg impor daging..
O ya sekali lagi .. kok gak jawab pertanyaan sy.. apakah daging yg
diambil dr sapi yg sudah diperiksa post dan ante mortem dan jelas
oleh drh dinyatakan tak terkointaminasi virus PMk, lalu dilayukan
sedikitnya satu hari, lalu di bekukan .. lalu dikemas dlm karton..,
lalu dikiirmke Indoneisa melalui pelabuhan khusus tertentu shg mudah
di cek absahan impor nya.., lalu sebelum dikonusmsi dimasak dulu
.. Apakah daging ini mungkin ada PMK nya ?
jawab ya..sebelum ngoceh lagi ttg hebatnya drh .penolak dagiug
Brazil...seluruh argumen anda , kalau memang ada, ya tentang
hebatnya drh dlm buat monuen.
Lalu sekali lagi ...., baca baikbaik ya . yg mau diimpor adalah
daging yg bebas PMK.. Dan itu pasti ada krn gak ada keluhan dr yg
impor dgaing dr brazil bahwa multny7a kena PMK..
udah baca belum saya postingkan kutipan tth filipina yg juga
impor, Singapure yg juga impor , dan bhw Brazil adalah eksportir no
1 didunia dalam jumlah ( kalau dalam nilai , Australia no 1 (abis
mahal sih) , dan ternyata gak satu manusiapun yg makan daging impor
Brazil mulutnya kenra PMK spt Sitepu ?
tahu itu artinya apa >
Terus kamu anggap apa Prof. drh Malole ???
>lalu dinas peternakan yang ada bidang kesehatan hewannya dipreteli
>dengan begitu banyak berubah wujud menjadi atau disatukan dinas lain yg tak
>langsung terkait kesehatan hewan), menjadikan kondisi kita untuk jaminan
>keamanan membentengi masuknya berbagai penyakit yang ikut produk asal ternak
>seperti daging dari negara tidak bebas PMK bahkan penyakit-penyakit lain.
>malah hal itu yang membuat kita pun menjadi berpikir ulang untuk terus
>mengimpor dari luar,
uda dee.. suruh mrk concern pada jagal di Indioesnia yg buruk
perusahaan saya dulu pernah bikin penelitian bhw
kontaminasi salmonella aja gede banget di RPH kita
lalu ngapain tuh ayam ayam masih pada kena flu burung.. bikinmonumen
baru yg sesuai jaman..
periksa tuu sanitasi di kios daging dipasar....inijauh lebih
merugikanmasyarakat dr pd sibuk giat anti dgaing dr daerah zone bebas
, yg sudah diijinkan OIE. Mikir gak sih kenapa OIE bikin zone bebas ??
lalu mikir gak sih krn sibuk urusi anti dgaing Brazil ( apa ada
duitnya ? ) yg gakjelas dimana merugikannya , maka melalaikan
kebersihan jagal dan kios daging justru lebih nyata merugikan
konsumen ? ( barangkali kalau ajukan proposal utk rapihkan jagal
dankios daging, bisa dpat duit juga lho walau sedikit, tapi
manfaatnya bagi rakyat banyak)
terus berjuang jaga monumen lama sih.., yg kita orangawam ( bukabn
srh ) gak ngerti apa manfaatnya , kecualiterjadi mobnopoli "alami "
impor daging..
soal Brazil ...serahkan pada ahlinya spt banyak teman anda yg
berprofesi drh mendukungnya, ya spt Malole maupun tim risk assesement
, maupun teman sejawat5 anda di Singapore, Malaysa, Filipina .
> kita di sini memikirkan pula penyakit-penyakit enzootik
>lain. dalam kondisi ini satu-satunya kemanan kita adalah tidak memberi
>peluang masuknya daging dari negara yang riskan PMK meski ada secara zone
>base bebas dari PMK.sungguh keamanan ketahanan pangan di sini sangat penting
>artinya bukan hanya kepentingan sesaat bagi pengusaha-pengusaha yang suka
>main hit and run yang pukul lalu melarikan diri karena pengusaha macam ini
>tidaklah bakal sedia bertanggungjawab menanggung akibat bila segala resiko
>yang sudah diingatkan dan selalu diingatkan betul-betul terjadi yang berarti
coba dee drh nya belajar ke Btazili., disitu drh nya hebat hebat
disana ada bagian.. yg masih ada PMK .., ada yg sudah bebas
.., bukannya mrk rugi bertrilyun trilyun krn masih ada virus PMK dinegaranya
malah untung ..dgn ekspor yg terus meningkat..., dengan populasi yg
terus meningkat
kita ?? di negaranya konon udah bebas PMK.., lha , kena
penurunan populasi.sapi ., kena glonggongan, kena impor terus meningkat..
gak kaya kamu ..cengeng banget..,sebenarnya lindungui monopoli
impor australi ( lha bayangkan kalau sekarang ini di cadnagkan aja
400 rb ekor kali Rp,.10.000 utk mremastikan terus tersebarnya issue
bahaya PMK dr Brazil.., pastinya jumlah besar bagi penyebar issue,
dan nilai kecil utk \ngr pengeksportir ( lha harga sapi per ekor ,
lebih dr 8 juta )
kamu tahu gak konsumsi rakyat Brazil itu sekitar 40 kg perkapita pe rtahun
konsumsi dgaing spai rakyat Indoensia cuma 1.7 kg per kapita
pertahun. Argentina malah sekitar 60 kg..
hebat kanprestasimonumen kamu ??
.
>PMK masuk dan memangsa korban ekonomi yang begitu besar dan memporak
>perandakan sistem ketahanan pangan kita yang kita bangun dengan memakan dana
>begitu besar. paling-paling kalau hal ini terjadi pengusaha hanya bisa
>menyalahkan pemerintah yang telah membuka kran impor negeri tidak bebas dari
>penyakit macam PMK, padahal kalau pun pemerintah mengimpor itu tentu tak
>kurang tak lebih juga karena tekanan pengusaha macam ini yang begitu ngebet
>dengan segala dalih ekonomi yang semu.
yang mana salih ekonomi yg semu ...kamu nulis gak pakai data.. , yg
dipakaioleh mu cuma cap cap an aja..semu lah mau untung wjangka
pendek lah..tabpa ilustrasi ...
gak diajari lebih spesifik dan kwalitatip ya ??
kalau saya kan bilang kita bisa merujuk ke hsal risk assesment . yg
bilang resiko nya extreme low, dan dgn tindakan mitigasi tertentu
jadi negligible
bahkan saya bisa.. menyarankan bbrp tindakan mitigasi tambahan (
udah saya tulis...baca dong.. jangan ngebacot tanpa data dan argumen,
lagi lagi.. , kamu argumennya 4 L , lagi lagi itu ..lagi lagi itu ...
mulut nya drh ada ygkena PMK)
> coba kita tanya saja pengusaha macam
>ini, bersedia tidak menanggung akibat bila betul-betul terjadi akibat
>masuknya PMK macam itu! untung pemerintah masih mendengarkan kata-kata
>dokter hewan yang memberi masukan kepada Mentan dan Presiden yang akhirnya
>meninjau langsung kondisi negeri yang diincar untuk diimpor daging sapinya
>itu. ah, santa catarina saja yang zone bebas PMK dan itu pun sangat kecil
>populasinya...
tim risk assesment menganggap impor dari daerah bebas PMK yg masih
vaksinasi tapi dlm 3 tahun terakhir tidak ditemukan virus
PMK..sebagai daerah yg resikonya juga extreme low..
baca nggak sih ?
>lalu ada rencana kalau impor jadi itupun tidak mudah, mesti
>ada tukar dengan kelapa sawit, dan dagingnyanya mesti tanpa jeroan dengan
>perlakuan sangat ketat. setidaknya kita masih bernafas cukup panjang, sambil
>terus menegakkan sistem ketahanan pangan yang berkelanjutan, jangka panjang,
>tidak semata mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek;
ayo dong mikir gimana mempercepat nya,,aku juga gak buru buru... ,
kita siapkan baik baik smeuanya..
saya usul bagaimana kalau langkah pertama , kirim drh ke Brazil buat
belajar ( smile,.. pasti senang deh dapatt awaran belajar , terus
pada rebutan...).., lalu lihat bgmn mrk yg ada PMK di wilayah
tertentu, mampu meyakinkan dunia bhw PMk itu gak nyebabkan ruigi
trilyunan, malah untung
ProfMalole uitu yakin banget .. bhw bahkan impor dr India aja bisa
amanjika dilakukan dgn benar.
yg kedua .. bagaimana kalau kita anut juga sistim zone
jadikan luar Jawa sbg zone bebas PMk.. , nah Jawa sih nggak usah ada
peternakan dee..Di zone beas yg kita pilih.. misal SDulawsi kita
perkeras syatanya. nah dengan ada barrtier laut .. gak mungkin lah
virus nya nyeberang ( kalau ada )
Jadi kalau diimpor dr brazil ke Jawa aman kan ?/
lalu pastikan semua dgaing impor dimasak dulu sebelum di makan
konsumen . ( lha pasti aja ..siapa lagi ornag indonesia makandgaing
mentah ? aman kan
> di sisi kesehatan
>hewan terus menegakkan sistem otoritas veteriner yang betul-betul membela
>kepentingan secara menyeluruh. bahkan kepentingan ekonomi jangka pendek oleh
>pengusaha ngebet macam itu pun patut dipertanyakan bila dikatakan harga
>daging dari negeri jauh di benua belahan bumi lain itu lebih murah, ongkos
>transpor hingga di tangan konsumen apakah tidak pernah dipikirkan,
SOAL ONGKOS TRANSPOR BUKAN URUSAN KAMU..
KALAU GAK BISA DIJUAL KRN LEBIH MAHAL DR AUSTRALIA JUGA PASTI GAK ADA
YG IMPOR..
ada lagi yg bilang kenapa gak impor dr negara lain..kan banyak yg
sudah bebas PMK... Lha siapa yg larang.. kalau ada impor aja besok..
> lalu
>apakah pengorbanan dan pelecehan terhadap resiko yang sudah selalu
>diingatkan oleh dokter hewan itu hanya semata-mata karena iri hati terhadap
>pengusaha yang mampu impor dari australia dan selandia baru,
Pengorbanan ???, lucu dee kamu.. kamu gak takut di cibiri orang
omong tentang pengorbanan diri ?
geuleuh ih.... biarkan lag ornag lain ygbicara ttg pengorbanan dan
penghargaan pada pengorbanan anda...
pelecehan thd resiko.. ?? lha apa gunanya bikin tim risk
assesement .?? bukankah itu berarti resiko ditempatkan pada
tempatnya .. di asess dulu
aku bilang dee. , salah satu anggota tim risk assesment yg drh itu
pernah bilang pd saya.. emang susah Pak Haniwar, para penolak itu
argumennya memang Pokoke terus.., disini terbukti mana ada arbguemn
baru.., mana ada argumen saya di bahas.
terus ttg pengorbanan mulut Sitepu, .
kepentingan ekonomi sesaat .aja ( lha udah berapa saat kita dpt
dgaing sapi mahal.. tapi kita malahmundur terus ??)
>lau dengan
>dalih-dalih mengimbangi impor ilegal dari negara-negara perbatasan di
>kalimantan dan bukan malah mendukung pemberantasan impor ilegal namun malah
>mau memasukkan secara legal dengan dalih-dalih ekonomi dan persaingan
>bisnisnya yang oleh pembaca di forum ini pun penulis diingatkan jangan
>mengaburkan permasalahan di luar esensi, sedangkan esensi sesungguhnya di
>wilayah ketahanan pangan dan keamanan pangan yang sangat terkait erat dengan
>bidang kesehatan hewan/kedokteran hewan yang berdasar otoritas veteriner
>berdasar pendidikannya selalu mengingatkan akan bahaya penyakit yang akan
>berdampak luas pada berbagai lapisan masyarakat termasuk
>konsumen.(yonathanrahardjo)
lha anda aja bilang banyak drh yg setuju, bahkan dalan suatu debat ,,
kelompok Malole ( pendukung sistim zone) menang
jangan identikkan para penolak itu adalah drh bagus.. lalu yang di
seberananya sudah terkooptasi pemerintah
walau anda jumlahnya lebih banyak sekalipun
tahugak.. orang ekonomi gak ada yg teriak kalau dengar Fadhil hasan
atau Drajad Wibowo komentar ttg ekonomi,padahal mrk sarjana Fak
Peratanian IPB lho bukan dari sarjana Ekonomi UI.. Kenapa orang
Ekonomi ngarti dunia ini luas... bukan kayakkamu yg mikir kamu doang
ahli di bidangmu..Lha Pak Teguh Budianto aja yg bukan drh bisa jadi ahli PMK ..
eh jawab saya.
kenapa Brazil gak rugi trilyunan spt anda gambarkn kalau Indonesia kena PMK
kenapa di Brazil gak ada drh mulutnya kena PMk
kenapa di Brazil.. itui populais ningkat terus.
kenapa di Brazil itu ekpsornya ningkat terus..padahal ada PMk di negaranya
Buat temanteman yg dukung saya .. terima kaish..pastinya bukan karena
anda ornag yg berpikir keuntunganjangka pendek spt di tuduhkanpak
Yonathan ini .. eh Yonathan dr media massa mana sih , kamu drh ya ??
HS