Krisis Global? Krisis Lokal...!

Oleh Adhie M Massardi

BERBAHAGIALAH rakyat di negara yang terkena krisis global. Sebab hanya negara 
yang fundamental ekonomi lokalnya kuat saja yang digoyang krisis global. Dan 
berbahagialah rakyat di negara yang sedang memasuki “Krisis Jilid II”, karena 
syarat untuk memasuki krisis kedua, krisis pertama harus khatam dulu.

Nah, dalam konteks seperti tersebut di atas, negara kita termasuk yang kurang 
beruntung karena belum bisa memasuki Krisis Jilid II. Sebab kita belum khatam 
Krisis Jilid I, yang dimulai sejak 1997. Bahkan ada kecenderungan salah baca, 
dari belakang ke depan lagi. Dalam bahasa vulgarnya, perekonomian kita berjalan 
mundur.

Maka dalam konteks seperti di atas, saya sependapat dengan tim ekonomi 
pemerintah Yudhoyono yang pernah bilang “Indonesia tidak akan memasuki Krisis 
Jilid II”. Dan makin sependapat ketika AS kalang kabut diguncang krisis 
finasial, dia malah bilang: “Kita tidak akan terkena krisis global”. Artinya, 
krisis kita kelasnya tetap: krisis lokal. Belum pantas naik kelas…!

Sekarang gelombang PHK sudah melanda sektor usaha perkebunan sawit, kopra, 
karet, konveksi dan jenis usaha yang berhubungan dengan ekspor. Rupiah terus 
kehilangan wibawa di hadapan dolar AS. 

Lalu apa yang lucu dari situasi depresi ekonomi begini? Tidak ada. Kalau yang 
memprihatinkan, tentu banyak. Erick Ardiansyah, staf PT Bahana Securitas, yang 
mengirimkan “peringatan dini” tentang bank yang krisis likuiditas pada temannya 
via email malah ditangkap Bareskrim Mabes Polri. 

Sementara pejabat yang bertanggungjawab untuk urusan ekonomi tetap ngotot 
bilang perekonomian nasional mantap. Padahal berbagai sektor usaha 
bergelimpangan. Industri perbankan juga mulai meradang. 

Sementara pejabat lainnya sibuk mengiklankan program departemennya. Seolah 
kalau sudah diiklankan, programnya di lapangan sukses. Ini gejala tak sehat 
dalam mekanisme pertanggungjawaban publik orang pemerintah. 

Jadi kalau Anda Menteri Perdagangan, agar dibilang sukses, bikin saja iklan. 
Tampilkan aktor dan aktris bergaya pedagang. Suruh mereka bilang: “Wah, 
departemen perdagangan sekarang ini hebat. Programnya membuat usaha saya makin 
berkembang…!”

Memang nggak nyambung. Tapi begitulah pola pertanggungjawaban publik pejabat 
sekarang. Indikator keberhasilan tidak diukur dari yang dirasakan masyarakat, 
tapi seberapa gencar iklannya di televisi. 

Kesibukan lain anggota kabinet di tengah merosotnya daya beli masyarakat, 
terutama setelah harga BBM dinaikan, adalah bikin SKB (surat keputusan 
bersama). SKB menjadi ngetren belakangan ini. Untuk mengantisipasi “gejolak di 
akhirat” karena menyangkut apakah Ahmadiyah agama atau bukan, dibuat SKB 
(Menteri Agama, Mendagri dan Jaksa Agung). 

Untuk mengatasi bergolaknya para pekerja (buruh) akibat perekonomian makin 
amburadul, dibuatlah SKB 4 Menteri (Menakertrans, Mendag, Menperin dan 
Mendagri). Sebelumnya, ada juga SKB Menteri Keuangan dan Menteri Kehutanan 
untuk mengelola dana reboisasi.

SKB memang jenis mahluk yang aneh dalam kehidupan ketatanegaraan. Soalnya para 
menteri itu kan secara kodrati berada di bawah koordinasi presiden. Lha, kok di 
antara mereka bikin MoU sendiri? Lalu apa kerja presiden? Lagi pula, kalau di 
antara mereka mangkir, gimana nasib SKB itu?

Ada lagi yang unik. Menteri Keuangan Sri Mulayani sekarang juga “pelaksana 
tugas” Menko Ekonomi, karena Menko sebelumnya, Budiono, jadi gubernur BI. 

Pertanyaannya, “Jeng Sri” itu melaksanakan tugas Menko Ekonomi yang mana? 
Bukankah menteri itu jabatan politik, yang semata ngurusi kebijakan, dan bukan 
persoalan teknis? Depresi ekonomi memang bisa bikin gila siapa saja. 

Tapi kapan kita memasuki krisis jilid dua? Kapan kita bisa merasakan krisis 
global kayak negara-negara maju itu? 



    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis FPK [Forum Pembaca KOMPAS] :

1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ dan 
http://kompas.com/
3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota
4.Moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke