Sejalan (mungkin) dengan yang dituliskan mas Adhie saya pikir krisis kita tidak 
pergi jauh-jauh. Krisis mental yang makin parah karena didera krisis ekonomi.

Akal sehat telah digadaikan kepada mereka yang memiliki kekuasaan dan uang.

Sebuah keprihatinan berkepanjangan yang semakin menyesakkan.



--- On Wed, 11/26/08, Adhie Massardi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> From: Adhie Massardi <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] KRISIS Global? Krisis Lokal...!
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, November 26, 2008, 6:45 PM
> Krisis Global? Krisis Lokal...!
>
> Oleh Adhie M Massardi
>
> BERBAHAGIALAH rakyat di negara yang terkena krisis global.
> Sebab hanya negara yang fundamental ekonomi lokalnya kuat
> saja yang digoyang krisis global. Dan berbahagialah rakyat
> di negara yang sedang memasuki “Krisis Jilid II”, karena
> syarat untuk memasuki krisis kedua, krisis pertama harus
> khatam dulu.
>
> Nah, dalam konteks seperti tersebut di atas, negara kita
> termasuk yang kurang beruntung karena belum bisa memasuki
> Krisis Jilid II. Sebab kita belum khatam Krisis Jilid I,
> yang dimulai sejak 1997. Bahkan ada kecenderungan salah
> baca, dari belakang ke depan lagi. Dalam bahasa vulgarnya,
> perekonomian kita berjalan mundur.
>
> Maka dalam konteks seperti di atas, saya sependapat dengan
> tim ekonomi pemerintah Yudhoyono yang pernah bilang
> “Indonesia tidak akan memasuki Krisis Jilid II”. Dan
> makin sependapat ketika AS kalang kabut diguncang krisis
> finasial, dia malah bilang: “Kita tidak akan terkena
> krisis global”. Artinya, krisis kita kelasnya tetap:
> krisis lokal. Belum pantas naik kelas…!
>
> Sekarang gelombang PHK sudah melanda sektor usaha
> perkebunan sawit, kopra, karet, konveksi dan jenis usaha
> yang berhubungan dengan ekspor. Rupiah terus kehilangan
> wibawa di hadapan dolar AS.
>
> Lalu apa yang lucu dari situasi depresi ekonomi begini?
> Tidak ada. Kalau yang memprihatinkan, tentu banyak. Erick
> Ardiansyah, staf PT Bahana Securitas, yang mengirimkan
> “peringatan dini” tentang bank yang krisis likuiditas
> pada temannya via email malah ditangkap Bareskrim Mabes
> Polri.
>
> Sementara pejabat yang bertanggungjawab untuk urusan
> ekonomi tetap ngotot bilang perekonomian nasional mantap.
> Padahal berbagai sektor usaha bergelimpangan. Industri
> perbankan juga mulai meradang.
>
> Sementara pejabat lainnya sibuk mengiklankan program
> departemennya. Seolah kalau sudah diiklankan, programnya di
> lapangan sukses. Ini gejala tak sehat dalam mekanisme
> pertanggungjawaban publik orang pemerintah.
>
> Jadi kalau Anda Menteri Perdagangan, agar dibilang sukses,
> bikin saja iklan. Tampilkan aktor dan aktris bergaya
> pedagang. Suruh mereka bilang: “Wah, departemen
> perdagangan sekarang ini hebat. Programnya membuat usaha
> saya makin berkembang…!”
>
> Memang nggak nyambung. Tapi begitulah pola
> pertanggungjawaban publik pejabat sekarang. Indikator
> keberhasilan tidak diukur dari yang dirasakan masyarakat,
> tapi seberapa gencar iklannya di televisi.
>
> Kesibukan lain anggota kabinet di tengah merosotnya daya
> beli masyarakat, terutama setelah harga BBM dinaikan, adalah
> bikin SKB (surat keputusan bersama). SKB menjadi ngetren
> belakangan ini. Untuk mengantisipasi “gejolak di
> akhirat” karena menyangkut apakah Ahmadiyah agama atau
> bukan, dibuat SKB (Menteri Agama, Mendagri dan Jaksa Agung).
>
>
> Untuk mengatasi bergolaknya para pekerja (buruh) akibat
> perekonomian makin amburadul, dibuatlah SKB 4 Menteri
> (Menakertrans, Mendag, Menperin dan Mendagri). Sebelumnya,
> ada juga SKB Menteri Keuangan dan Menteri Kehutanan untuk
> mengelola dana reboisasi.
>
> SKB memang jenis mahluk yang aneh dalam kehidupan
> ketatanegaraan. Soalnya para menteri itu kan secara kodrati
> berada di bawah koordinasi presiden. Lha, kok di antara
> mereka bikin MoU sendiri? Lalu apa kerja presiden? Lagi
> pula, kalau di antara mereka mangkir, gimana nasib SKB itu?
>
> Ada lagi yang unik. Menteri Keuangan Sri Mulayani sekarang
> juga “pelaksana tugas” Menko Ekonomi, karena Menko
> sebelumnya, Budiono, jadi gubernur BI.
>
> Pertanyaannya, “Jeng Sri” itu melaksanakan tugas Menko
> Ekonomi yang mana? Bukankah menteri itu jabatan politik,
> yang semata ngurusi kebijakan, dan bukan persoalan teknis?
> Depresi ekonomi memang bisa bikin gila siapa saja.
>
> Tapi kapan kita memasuki krisis jilid dua? Kapan kita bisa
> merasakan krisis global kayak negara-negara maju itu?
>

Kirim email ke