Kemacetan memang seperti kanker.. masalahnya kompleks.. dan solusinya tidak sederhana.. dan tidak ada solusi tunggal..
basically kemacetan adalah karena kapasitas tidak memadai, pada waktu-2 tertentu.. misal pagi hari (peak hours/jam puncak).. ada pula kalanya pagi hari tidak terlalu macet, misalnya pada saat libur sekolah. namun kalau kapasitas infrastruktur (&angkutan umum, Busway, MRT, dll) ditambah, maka pada saat-2 off-peak, kapasitas akan berlebih. jadi memang merencanakan kapasitas ada titik optimumnya.. salah satu cara utk mengurangi kemacetan adalah solusi mengurangi beban puncak (ya... kira-2 prinsip yg sama dalam menghemat listrik)... yaitu mengurangi penggunaan kapasitas jalan dan angkutan umum pada pagi hari.. caranya sebenarnya banyak.. memajukan jam sekolah hanyalah solusi yg paling mudah dilakukan karena relatif tidak memerlukan suntikan investasi maupun intervensi fisik.. 'hanya' mengubah perilaku. (seperti mematikan lampu taman pd malam hari utk menghemat listrik) memang bukan solusi optimal bagi beberapa individu... (buktinya ada yg menolak).. tapi ada pula yg menerima karena memang saat ini anak-2nya sudah di sekolah pukul 6.30 dll..(tapi tidak disorot media). Mengubah jam aktivitas beberapa jenis kegiatan yg mempengaruhi lalu-lintas akan mengurangi beban puncak (--> kemacetan).. nah,.. permasalahannya.. kenapa sekolah yg di-ubah? mungkin karena hal ini yg paling mudah di-atur oleh pemerintah. meskipun sy setuju dengan solusi ini (sebagai bagian dari solusi lainnya).. sy menyayangkan sikap pemprov yg cenderung top-down. sehingga wajar kalau terjadi resistensi. kedepannya pemprov juga perlu mencermati mengapa anak-2 tidak sekolah di sekolah yg tersedia dekat rumah. sepemahaman sy secara spasial gedung sekolah telah tersedia merata.. tiap kecamatan ada SMU,SMP,SD.. harusnya kalau mereka cukup bersekolah di sekolah 'lokal' maka tidak perlu berebut angkot.. atau ikut kena dan membuat macet.. karena harusnya bisa cukup dengan bersepeda misalnya... tentunya karena kualitas sekolah tidak cukup tinggi secara merata.. sehingga ortu juga ada preferensi kualitas dan bukan meminimalisir jarak dalam memilih sekolah. sy setuju dengan pak Haniwar.. kita tidak perlu over-curiga kepada pemprov dalam hal ini.. salam, -K- 2008/12/9 Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> > maksudnya lemah apa pak..lha kan nak pejabat juga sekolah > > anak orang kuat juga sekolah > > HS > > > At 04:57 AM 09-12-08, you wrote: > > >Ah, ini cuma soal istilah saja. Faktanya sih memang anak-anak itu > >yang dikorbankan. Tanpa dimintai pendapat, tidak orang tuanya, tidak > >juga gurunya. Prinsipnya, yang lemah harus minggir. Gitu kan ya? > > > >manneke
