Sedikit refleksi.

30 Tahun lembaga pemilu dibawah depdagri dan kita belajar bahwa hal tersebut 
membuka peluang intervensi yang sedang berkuasa untuk "mengatur" pemilu. Itu 
terjadi selama Orde Baru.

Kita belajar dari kesalahan tersebut dan merubahnya di tahun 1999 dengan 
mamasukan unsur Partai kedalam tubuh KPU. Pemain menjadi wasit sekaligus. KPU 
1999 porak poranda karena pertarungan kepentingan politik dari partai partai di 
dalamnya serta masuknya unsur keserakahan pribadi pribadi tersebut. Misi 
politis rusak, tugas manajemen juga tidak beres...ada korupsi bahkan ada yang 
dipenjara.

Kita belajar dari kesalahan itu dan merubahnya di tahun 2004. KPU diambil dari 
masyarakat sipil serta akademisi. Misi politiknya sangat berhasil !!! 
Sosialisasi berjalan masif, partisipasi meningkat, pemilu berjalan damai. Tugas 
manajemennya hancur lebur, korupsi marak dimana mana dan disadari bahwa 
wewenang teknis manajeman pada anggota KPU harus diminimisasi dan wewenang 
politisnya yang harus mendominasi kerja anggota. Pengalihan wewenang manajemen 
dari anggota menuntuk penguatan kesekjenan serta iro biro teknis dibawahnya.

Itu diharapkan dilakukan pada tahun 2009 ini. Karena itu aneh, jika tiba tiba 
data penduduk diambil lagi dari Depdagri sementara di tahun 2004 diambil dari 
BPs dan tidak menimbulkan banyak masalah. KPU sendiri diambil dari orang orang 
yang tidak punya courage yang cukup untuk bertindak secara independen. Dan biro 
buro teknis di bawa kesekjenan, apa pernah dicek berapa yang dari depdagri ?

Sepertinya mau balik ke model Orde Baru lagi ?????????

Jadi, bahwa DPT sekarang hancur....tanya saja siapa yang memerintah KPU untuk 
mengambil data dari depdagri ?????? DPT hanya symptom dari suatu desain yang 
sophisticated.....menurut hemat saya.

Kini KPU yang disalahkan...ha ha ha ha, siapa yang tolol !!!!!


Ignas Iryanto.
note.

Saya mulanya menduga (sms ke beberapa orang yang iseng nanya komen saya secara 
pribadi) bahwa paling banyak 9 partai yang masuk senayan. Paling tinggi 
perolehan suara di angka 17 persen dan urutan masih Golkar, PDIP, Demokrat 
(ketiganya diatas 10 dan dibawah 17 %), PKS, PAN, Gerindra (antara 5 - 10 %), 
PKB dan Hanura (antara 2.5 - 5 %). Jumlah total perolehan mereka bersembilan 
adalah antara 55 % - 60 %. Sehingga berlakulah 60 % suara akan menghasilkan 100 
% kursi di DPR dan 40 % suara tidak menghasilkan kursi sama sekali. Dosa 
politik para desainer UU Pemilu serta MK !!!!!!!!!!!!!!!!!!

Namun bahwa Demokrat mencapai 20 % benar benar mengejutkan !! Ini hanya mungkin 
jika demokrat dan SBY melakukan sesuatu yang luar biasa bagi bangsa ini. 
Rasanya tidak ada !!!!

Luar biasa pekerjaan ini !!! Sebuah Prestasi !!!!!???




________________________________
From: Adyanto Aditomo <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, April 11, 2009 1:13:09 AM
Subject: Bls: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kisruh DPT, Manajemen yang Buruk atau 
Kesengajaan ?





Yang saya herankan, sampai detik terakhir menjelang Pemilu 9 April 2009, SBY 
tetap menyatakan bahwa tidak ada masalah dengan DPT.
Saya khawatir pernyataan ini untuk menutupi dicopotnya Kapolda Jatim akibat 
memproses dugaan pemalsuan DPT oleh Ketua KPUD Jatim.
Yang dilakukannya adalah: Membangun Kebohongan Baru Untuk Menutupi Kebohongan 
Lama.
Tetapi setelah terbukti DPT diseluruh penjuru Tanah Air bermasalah, SBY 
langsung cuci tangan dan mengalihkan tanggung jawab sepenuhnya ke KPU.
SBY sejak awal terlihat tidak perduli dan tidak mau tahu dengan adanya dugaan 
kekacauan data pemilih sejak statusnya masih DPS.
Inikah profil pemimpin Partai Pemenang Pemilu 2009?
Masih pantaskan dia jadi Presiden periode 2009 - 2014?

Salam,

Adyanto Aditomo

Kirim email ke