Saya kira masih terlalu jauh kalau menuduh Shell mengadu domba dalam
urusan Ambalat. Bukan kali pertama di dunia terjadi perusahaan minyak
melakukan survey didaerah yang kemudian dipersengketakan. Tapi shell
sebagai perusahaan yang sudah mengenal lama wilayah RI sejak jaman
penjajahan Belanda sebaiknya berhati-hati dalam kasus ini.

Menurut saya kasus rebutan Ambalat ini murni datang dari pemerintah
Malaysia dan sudah dirancang secara baik. Setelah mereka suka-cita
menang dipengadilan International menyangkut dua pulau yang
dipersengketakan tersebut mereka ternyata telah berfikir jauh kedepan
melampaui pemikiran para pemimpin kita yang tidak mungkin mengira
Malaysia akan nekat sejauh itu berambisi mencaplok lebih banyak lagi
area dan bukan puas hanya sekedar memenangkan isu dua pulau. Sudah
dapat merebut nasinya kini berusaha menjaring lauknya sekalian. Dengan
sikap ini alhasil pengadilan internasional itu sama sekali tidak
menyelesaikan masalah perbatasan dan hanya menimbulkan masalah baru
dengan jilid cerita baru yang berbeda. Ini bukti ketidak hati-hatian
pemimpin kita dalam menghadapi masalah perbatasan dengan tetangga.
Lihat kasus per kasus, jangan selalu mau dibujuk tetangga hanya karena
hubungan baik. Toh terbukti mereka sangat agresif juga dalam rebutan
wilayah.

Kabarnya sebelum blok Ambalat di-award ke Shell telah dibuat survey
baru pemetaan lapisan bumi bawah tanah oleh pihak berwenang Malaysia.
Yang aneh bin ajaib walau survey ini menjorok jauh kewilayah
Indonesia, mereka tidak pernah tercatat meminta permit memasuki
wilayah yang selama ini murni dalam penjagaan Indonesia. Mungkin
mereka banyak tahu seluk beluk perbatasan bahwa penjagaan diwilayah
perbatasan Indonesia yang panjang ini sangat rapuh dan mereka masuk
diam-diam melakukan survey kewilayah yang akan diklaimnya sebagai
wilayah sendiri. Oleh sebab itu pemerintah Indonesia baru tahu dan
protest tentang Ambalat setelah area ini dipublikasikan dan diaward ke
Shell. Saya yakin hasil survey pemetaan gambar bawah tanah ini
kalaupun saat ini tidak bisa dijadikan bahan eksplorasi karena
sengketa tapi paling tidak akan bisa dijadikan salah satu bukti oleh
pemerintah Malaysia untuk beradu argument tentang perebutan wilayah
dengan mengambil pelajaran sukses dari Simpadan Ligitan.

Saya kira dalam kasus Ambalat ini kita tidak usah terpancing dan
ribut-ribut adu mulut dengan tetangga kita. Jaga Ambalat
seketat-ketatnya sebagaimana China tetap menguasai kep. Spratly. Toh
kita telah lebih dulu melakukan aktivitas eksplorasi diwilayah
Ambalat. Saya kira kalau nasibnya seperti kasus Simpadan-ligitan yang
berbuntut panjang dengan munculnya konflik lain yang lebih tegang,
China pun akan semakin enggan menyerahkan urusan Kep. Spratly ke
pengadilan Internasional untuk membereskannya.
SH

On 4/17/09, Silih AW <[email protected]> wrote:
> Dear alls,
> Seandainya KOMPAS menulis judul dibawah dengan "Shell Penyebab Hilangnya
> Ambalat" apakah kira-kira ada ya reaksi dari masyarakat Indonesia terhadap
> Shell di Indonesia?
> Maaf kalau ada cross posting, karena saya lihat berita ini bisa dari
> beberapa aspek, seperti Marketing (yang mungkin membuat kita enggan membeli
> bensin di Shell), atau Public Relations (yang membuat citra Shell jadi
> turun), atau bahkan dari sisi psikologis (ternyata kita tertipu dengan
> perusahaan global seperti Shell).
> Salam,
>
>
> Silih Agung
> ==================================
>
>
> Dalam Kepungan Kapitalisme Global Jumat, 17 April 2009 | 02:51 WIB
>
>
> Dengan contoh kasus yang berbeda, Des Alwi—salah satu tokoh yang ikut
> berperan dalam proses ”normalisasi” hubungan Indonesia-Malaysia
> pascakonfrontasi antarkedua negara tahun 1960-an—juga mengingatkan
> adanya ”politik adu domba” gaya baru dari pihak ketiga, yang kini
> melibatkan kekuatan kapitalisme global. Oleh karena itu, kata dia,
> kekuatan-kekuatan modal asing—lewat tangan-tangan pemegang
> kekuasaan—yang ingin mengeruk kekayaan yang tersimpan di kawasan ini
> harus selalu diwaspadai.
> Dalam kasus blok Ambalat, misalnya,
> kekuatan kapitalisme global jelas terlibat. Sebab, kata Des Alwi,
> sengketa perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di kawasan kaya potensi
> minyak dan terumbu karang
> tersebut, yang nyaris menimbulkan ”konfrontasi jilid II” antarakedua
> negara, sesungguhnya tak lain akibat ulah Inggris.
> Demi keinginan sebuah perusahaan raksasa perminyakan yang berniat
> mendapatkan konsesi di sana, Inggris semula mendekati Indonesia. Pihak
> Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup menentang keras keinginan
> tersebut. Keberatan itu terutama mengingat daerah di sekitar blok
> Ambalat memiliki kekayaan sumber daya hayati yang tak ternilai dengan
> ragam terumbu karang dan ekosistemnya yang luar biasa.
> Gagal bernegosiasi dengan Indonesia,
> Malaysia pun di-kilik-kilik. Entah bagaimana prosesnya, sampai pada
> satu ketika diketahui adanya aktivitas ”pencarian” sumur minyak lepas
> pantai oleh Shell di kawasan blok Ambalat.
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>


------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :

1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ dan 
http://kompas.com/
3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota
4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]
5.Untuk bergabung: [email protected]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke