Dulu saat anak - anak saya masih kecil, dimana TV yang ada cuma TVRI, beberapa 
psikolog menyarankan agar mendampingi anak - anak saat menonton film produksi 
Walt Desney atau Produksi Jepang seperti Gogle, karena cerita dalam film 
tersebut sebetulnya juga penuh dengan kekerasan.
Tujuannya supaya anak - anak jangan sampai meniru secara mentah - mentah aksi 
kekerasan yang ada dalam cerita film tersebut.
 
Tetapi sinetron sekarang menurut saya jalan ceritanya sudah tidak masuk akal.
Bayangkan, digambarkan bahwa anak usia SMP bersedia meminta tolong kepada Setan 
dan Iblis hanya untuk memperebutkan pacar yang menjadi idaman dia.
Bayangkan. Usia SMP sudah mempunyai fikiran "sebusuk" itu????
Apakah ini realistis???
Celakanya, dalam cerita sinetron tersebut digambarkan bahwa para "pemuja setan 
dan iblis" selain jahat dan culas, juga selalu digambarkan sebagai anak yang 
cerdas, kreatif, lincah dan pantang menyerah bila menghadapi hambatan..
Sampai - sampai saya pernah berfikir:
"Jangan - jangan para pembuat skenario sinetron tersebut pada dasarnya adalah 
pemuja Setan dan Iblis. Supaya sinetronnya tidak ditolak oleh TV, maka dibuat 
cerita tentang kehebatan para Pemuja Setan dan Iblis ini luar biasa panjang. 
Kalau perlu dibuat 100 episode. Kekalahan para Pemuja Setan dan Iblis terhadap 
Pengikut Allah SWT hanya dibuat dalam 1 episode penutup saja".
"Dengan demikian yang tertanam dikepala para penonton adalah : menjadi jahat, 
licik dan culas bisa membuat mereka tampak hebat dan berkuasa karena hal 
tersebut berarti mereka itu cerdas, kreatif, lincah dan pantang menyerah, 
sedangkan bersikap baik, jujur serta rajin beribadah itu merupakan gambaran 
seorang yang bodoh, lugu dan cengeng karena tidak mampu menghadapi cobaan 
sehingga cenderung selalu "meratap" kepada Yang Maha Kuasa untuk memohon 
perlindunganNya, yang diperlihatkan sering tak kunjung tiba"
 
Bahwa kemudian "pesan - pesan tersembunyi" dalam sinetron tersebut ditangkap 
mentah - mentah oleh para musrid SD dan langsung dipraktekkan dilapangan, ya 
menjadi tidak aneh.
 
Persoalannya adalah: bagaimana kita bisa mencegah supaya anak cucu kita jangan 
sampai menjadi korban "niat jahat" para pembuat Sinetron tersebut???
Berharap kepada Lembaga Sensor Indonesia atau Lembaga Penyiaran Indonesia, 
kelihatannya cuma sia - sia belaka, karena mereka lebih sibuk menyensor 
acaranya Tukul daripada menyelamatkan anak bangsa ini.
 
Ada yang punya komentar soal hal ini???
 
Salam,
 
Adyanto Aditomo 
 
--- Pada Jum, 24/7/09, Hakiki Akbari <[email protected]> menulis:


Dari: Hakiki Akbari <[email protected]>
Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Tayangan Kekerasan Cetak Generasi Preman
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 24 Juli, 2009, 12:28 PM


 



Mungkin maksudnya dari generasi preman adalah generasi yang sangat terbiasa dan 
mungkin juga suka akan kekerasan seperti layaknya para preman.
Masalah kekerasan di televisi Indonesia memang sudah cukup parah, udah 
ceritanya rumit, menghina logika, menjual kekarasan sedemikian rupa sehingga 
saya menilai para pesinetron bagaikan pelacur yang mau saja disuruh berakting 
sedemikian bodoh dan tidak bertanggung jawab atas nama "seni" dan dalih 
"tuntutan skenario" atau "permintaan sutradara", asal dibayar, mereka mau saja 
disuruh memelototkan mata, mengunyah2 mulut saat menahan marah, mengadegankan 
rencana pembunuhan, dendam dan kekerasan yang sampai berdarah2 dan 
penuh gambaran siksaan dan kesakitan.
Saya agak terkejut ketika melihat situasi di sekolah dasar anak saya dan SMP 
juga, dimana situasi serupa sinetron ternyata sudah marak! anak2 SD mulai 
membentuk geng, lalu bertengkar dengan lawannya dengan kata2 persis di adegan 
sinetron. Di SMP jangan tanya lagi. apa ini akibat sinetron? bisa jadi lho!

Masih banyak faktor yang memicu maraknya premanisme dan kekerasan dalam sejarah 
manusia. Bahkan Qabil sudah membunuh Habil jauh sebelum ada Yakuza atau ninja.

Apa yang bisa kita perbuat? Minimal Jangan biarkan keluarga kita nonton 
sinetron yang menjual murah kekerasan.
HQQ  
 

Kirim email ke