--- On Wed, 8/5/09, Syukur Umar <[email protected]> wrote:





                  Rekan  Alumni, saya masih tanda tanya besar lo terhadap 
argumentasi bahwa permukaan air laut akan naik karena pencairan es di kutub 
sebagai konsekuensi kenaikan suhu bumi. Persoalannya air dalam bentuk es di 
kutub menurut dosen saya dulu di Perancis merupakan 1 persen dari air dunia. 
Jadi saya berfikir, kalau toh semua es itu mencair tidak bakalan menaikkan 
permukaan laut. Mungkin yang penting adalah gaya gravitasi bumi yang harus 
dikalibrasi. Bumi yang semakin kempes dan suhu atmosfir yang berubah bisa jadi 
faktor penting.

Salam
Syukur




--- On Wed, 8/5/09, bakri arbie <daya...@yahoo. com> wrote:

From: bakri arbie <daya...@yahoo. com>
Subject: [AlumniPrancis] Skenario Energi Dunia 2030 dan Dunia makin
 PANAS.
To: Forum-Pembaca- kom...@yahoogrou ps.com
Cc: alumniprancis@ yahoogroups. com, "arbie bakri" <arbieba...@yahoo. com>
Date: Wednesday, August 5, 2009, 4:54 PM






 



Yth Rekan milis,

Beberapa bulan terakhir ini Indonesia cukup sibuk dengan pesta demokrasi baik
untuk pemilihan CALEG,CAPRES dan CAWAPRES.
Semoga kekurangan dan kelebihan dalam proses demokrasi ini akan terus 
dipelajari,
untuk memperbaiki yang kurang dan apresiasi terhadap yang sudah positif.

Dari sisi lain,negara- negara maju apakah negara G-8 maupun OECD sedang 
kebingungan.
Masalahnya adalah Energi,Environmenta l/Lingkungan dan Ekonomi dunia yang 
sedang menuju "point of no return".Suatu titik dimana kalau dunia maju dalam 
satu pilihan yang salah,maka dunia akan berubah secara drastis.
Orang berlomba menuju
 pertumbuhan ekonomi yang makin tinggi,makin baik,
namun semuanya memerlukan energi untuk menjadi motor penggerak ekonomi,
dan hasilnya adalah dampak negatif terhadap lingkungan.

Sebelum revolusi industri yang
 dimulai di Inggeris ditahun 1850,dunia penuh dengan hidup
yang alami,sehingga ditemukannya mesin uap oleh James Watt.
Pada saat itu, diudara bumi yang kita pijak ini mempunyai konsentrasi CO2 
ekivalen dengan 280 ppm (part per million),namun ditahun 2006,konsentrasi naik 
menjadi 385 ppm
CO2 ekivalen, akibat dari pemanfaatan energi fosil minyak,batubara, gas baik 
untuk pembangkitan energi listrik ataupun untuk transportasi, industri 
berat/ringan dan keperluan rumah tangga.

Para ahli lingkungan dunia bak kebakaran jenggot,dunia makin panas,es dikutub 
mencair,
angin taifun makin kuat intensitasnya karena suhu laut yang makin meningkat.
Coba bayangkan perhitungan untuk minyak bumi saja saat ini,diperlukan 85 juta 
barel per hari,dan ditahun 2030 akan diperlukan 106 juta barel per hari.
Padahal kata Direktur International Energy Agency,Nobua Tanaka "the era of 
cheap oil is over".Nah lho,mau gimana kita sebagai negara
 berkembang.

Dalam jangka 20 tahun mendatang, keperluan energi dunia akan bertambah 50%
diperkirakan yang 70 % adalah kebutuhan di negara berkembang yang sedang 
membangun ekonominya.Porsi ini di dominasi oleh Cina,India dan negara Timur 
Tengah.

Ada dua skenario besar yang ramai diperdebatkan apakah ditahun 2030 kita memilih
naiknya kadar CO2 di bumi menjadi  550 ppm CO2 ekivalen ,atau 450 ppm ekivalen.
Kalau 550, maka bumi akan bertambah panas 3 derajat Celsius dari tahun 1850-an,
sedangkan 450,maka bumi hanya akan naik 2 derajat Celsius.
Pilihan 550 air laut akan naik diatas 25 meter,sedangkan 450,maka naiknya hanya 
sekitar 10 meter..Bayangkan berapa ratus pulau dan kota akan terbenam.
Kita tidak dapat menikmati lagi Istanbul,Venezia, Brugge, Miami 
Beach,Copacabana atau pantai Wakatobi atau Bunaken atau pantai Pohe dan Leato 
yang begitu indah.
Ratusan spesis yang tumbuh dan berkembang di dunia selama puluhan bahkan
 ratusan ribu tahun akan punah dalam waktu relatif singkat.

Jadi coba dibayangkan, PEMILU yang keempat nanti ditahun 2029, Jakarta sudah 
dibawah laut,Mal-mal yang begitu indah lengkap dengan cafe dan starbucknya, 
bakal pindah ke kaki gunung Salak.

Kiat apa yang sedang diupayakan,merupaka n pilihan yang harus diputuskan 
sebelum tahub 2010 dan action yang tak boleh lagi ditunda,kalau tidak,maka 
akibatnya... ....ngeri juga.

Jalan yang dipilih adalah semua pembangkit listrik tidak boleh menggunakan 
pembangkit yang menghasilkan CO2 seperti minyak,batubara dan gas istilah umum 
adalah fosil.
Kalau masih menggunakan fosil,maka CO2 harus ditangkap kembali dan disimpan 
dimasukkan kedalam bumi lagi,istilah kerennya Carbon Capture and Storage.
Namun biayanya kira-kira 200 $ per ton CO2,padahal ukurannya adalah gigaton CO2 
yang dilepas ke lingkungan,pengaruh nya pada ekonomi lagi.

Pilihan lain adalah energi alternatif yaitu energi
 terbarukan,renewabl e energy,seperti angin,
ombak,matahari dll.
Ada pilihan lain yaitu Nuklir,namun orang lebih takut limbah nuklir dari pada 
tenggelam.
Mengapa Nuklir,karena tidak membakar oksigen sehingga tidak menghasilkan CO2.
Sedang dibahas agar PLTN generasi ke 4 yang menggunakan netron cepat,seperti 
fast breeder,tidak akan menghasilkan Plutonium seperti PLTN generasi sebelumnya.
PLTN yang membakar uranium 235,sekaligus menghasilkan plutonium yang kemudian 
dibakar lagi oleh netron cepat,sehingga penggunaan bahan bakar nuklir lebih 
efektif sehingga menjadi 100 kali lebih efektif dari PLTN generasi 
sekarang.Suatu upaya agar bisa sinambung dari PLTN generasi sekarang menuju 
generasi ke 4 sedang dibuat oleh IAEA,
International Atomic Energy Agency.
Jadi PLTN dari penyedia energi,selama 100-an tahun akan dapat berkiprah selama 
6 ribu tahun tanpa CO2.

Energi angin sedang maju-majunya saat ini,di Eropa dan Amerika,begitu pula
 tenaga matahari yang terus dibuat lebih efisien dan bisa tersedia seperti 
pembangkit yang disebut sebagai "base load".Angin kan bisa angin-anginan, jadi 
teknologi harus terus dikembangkan untuk bisa menjadi penyedia listrik yang 
stabil.

Jadi intinya kedepan skenario yang baik adalah nuklir,geotermal sebagai "base 
load",diperkuat oleh energi terbarukan angin ,solar cell,ombak,air pasang dll.
Energi untuk transport bisa sepenuhnya dari minyak,gas dan biofuel atau 
hidrogen.

Dengan demikian maka bumi bisa bertahan dengan wajah aslinya yaitu,
kita masih bisa menikmati senja di Jakarta,seperti yang dilantunkan dalam lagu 
kroncong,
Awan Lembayung... ......... ..,tidak perlu pindah ke kaki Gunung Salak.

Dan pada pemilu tahun 2029 kita masih bisa memilih di KPS,Lebak Bulus atau 
Pasar Jumat.Semuanya tergantung pada keputusan umat manusia yang bijak dan 
cerdas,
ditahun 2010 mendatang.Inga. ....inga tahun depan lho.

Salam
 Hormat,
Bakri Arbie.



Kirim email ke