Itu hanya teori,Actualnya,kemana larinya air setelah Tsunami?bisa dihitung 
ngak,kok ditempat laen ukurannya masih segitu aja?

[email protected] http://teukumoedaabadi.blogspot.com

--- Pada Kam, 6/8/09, bakri arbie <[email protected]> menulis:

Dari: bakri arbie <[email protected]>
Judul: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Skenario Energi Dunia 2030 dan Dunia makin 
PANAS.
Kepada: [email protected], "arbie bakri" <[email protected]>, 
[email protected], "Bp Sutaryo Supadi" <[email protected]>, "Bp Budi 
Sudarsono" <[email protected]>, [email protected]
Cc: [email protected]
Tanggal: Kamis, 6 Agustus, 2009, 9:02 AM






�





                  Yth Bung Sunyoto,



Terima kasih informasi Bung Sunyoto.

Memang perlu saling konfirmasi,karena banyak data yang beredar yang ternyata

perbedaan adalah berdasarkan asumsi dan model katastrofi yang dipakai.

Perhitungan Bung Sunyoto,tampaknya lebih realistis,kalau bumi tidak mengkerut.



Salam Hormat,

Bakri Arbie



--- On Thu, 8/6/09, Sunyoto <s...@tsipil. ugm.ac.id> wrote:



From: Sunyoto <s...@tsipil. ugm.ac.id>

Subject: Re: [AlumniPrancis] Skenario Energi Dunia 2030 dan Dunia makin PANAS.

To: AlumniPrancis@ yahoogroups. com

Date: Thursday, August 6, 2009, 12:47 AM



�



Mas Syukur yth.



Dengan luas permukaan bumi 510 juta kilometer persegi



(Wikipedea) dan total jumlah air di bumi adalah 1.470 juta



km3 (rerata menurut Todd, Nace dan Huissman) maka satu



persennya adalah 14,7 juta km3. Bila volume air kutub ini



semuanya mencair, dibagi luas bumi akan menjadi tambahan



kenaikan muka air laut  28,82 m dengan data attached.  Bila



menurut Todd, volume es & salju 29,2 juta km3 maka kenaikan



muka air laut akan 57,25 m. Tolong dicek hitungannya mungkin



saya salah. Mercy



Suny Sunyoto



Department of Civil Engineering & Environment



Gadjah Mada University, Yogyakarta 55281



INDONESIA

Kirim email ke