Termasuk perceraian.
Seakan-akan perceraian keluarga menjadi
permisif dan menjadi budaya..

Juga soal pemberitaan siswa merusak sekolah
seakan-akan kalau sudah tidak setuju lalu bisa
berbuat se-enaknya ermasuk merugikan orang lain
atau melanggar hak orang lain.


Agus Hamonangan wrote:
>  
>
> http://oase.kompas.com/read/xml/2009/07/24/0324321/Tayangan.Kekerasan.Cetak.Generasi.Preman
>  
> <http://oase.kompas.com/read/xml/2009/07/24/0324321/Tayangan.Kekerasan.Cetak.Generasi.Preman>
>
> KUTA, KOMPAS.com--Maraknya publikasi kekerasan dan sadisme di media 
> massa, terutama televisi, selain bisa menimbulkan kengerian juga 
> berpotensi merasuki pikiran anak-anak dan remaja yang dalam kurun 
> waktu tertentu berpeluang untuk meniru.
>
> "Lihat saja anak-anak kita sekarang ini yang banyak menonton kekerasan 
> dan sadisme, mungkin 20 tahun mendatang akan banyak yang mengikuti 
> perilaku kekerasan, hingga yang cenderung premanisme," kata anggota 
> Dewan Pers, Wina Armada Sukardi di Kuta, Bali, Kamis.
>
> Ia mengungkapkan hal itu saat tampil bersama anggota Dewan Pers 
> lainnya, yakni S Leo Batubara dan Bekti Nugroho, pada Forum Komunikasi 
> Masyarakat Pers Daerah yang diikuti sekitar 30 orang wartawan senior, 
> redaktur dan perwakilan media massa di Bali, termasuk LKBN ANTARA Biro 
> Bali.
>
> Wina Armada yang juga mantan sekjen PWI itu mengingatkan jajaran pers, 
> baik dari media cetak maupun elektronik, untuk mempertimbangkan setiap 
> penyiaran berita/gambar, agar tidak sampai bisa merangsang anak-anak 
> untuk menangkap apa adanya dan mengikutinya.
>
> "Era pers kapitalisme memang tidak bisa dilawan. Tanpa kapital pers 
> tidak bisa bertahan. Yang terpenting bagaimana jurnalis arif dalam 
> menyiarkan setiap hal, dengan menghindari tayangan sadisme, tindak 
> kekerasan atau hal-hal yang bisa merangsa anak-anak untuk kemudian 
> meniru hal-hal buruk," pesannya.
>
> Ia setuju bahwa untuk bisa melahirkan jurnalis yang memiliki kepekaan 
> sosial, hendaknya setiap media melakukan sistem rekrutmen yang lebih 
> sempurna, tidak hanya aspek kepandaian dan potensi bakat, tetapi juga 
> dilihat sisi kepekaan sosialnya.
>
> "Sekarang ini eranya sungguh aneh, berita atau tayangan yang 
> buruk-buruk justru ratingnya tinggi. Termasuk tayangan berbagai 
> sinetron yang banyak diwarnai aksi kekerasan, juga banyak ditonton. 
> Kondisi masyarakat kita ikut mendukung tayangan yang kurang baik," 
> ucapnya.
>
> Oleh karena itu jajaran pers, terutama media elektronik, diingatkan 
> untuk untuk tidak hanya mengejar rating penonton, tetapi juga 
> mempertimbangkan kemungkinan dampak yang bakal timbul di kalangan 
> generasi anak-anak dan remaja yang menontonnya.
>
> Wina Armada juga memperlihatkan sejumlah tayangan televisi dan 
> contoh-contoh foto sadis yang disiarkan media cetak, disertai data 
> rating penonton dan tiras media cetak serta perolehan pendapatan iklan 
> yang setiap hari bisa mencapai miliaran rupiah atau setahun triliunan 
> rupiah.
>
> "Mari kita bangun media yang bisa menjadi ajang pembelajaran bagi 
> masyarakat Indonesia yang kelompok terbesar hanya lulusan sekolah 
> dasar. Tanpa kepedulian jajaran pers, maka sama saja kita sedang 
> menggiring bangsa ini menuju kehancuran yang lebih parah. Hari-hari 
> akan semakin banyak diwarnai tindak kekerasan," pesannya.
>
> Sumber : Ant
>
> 

Kirim email ke