--- In [email protected], "Nanang Arifin" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>Wah....lagi-lagi den nanang beropini seolah-olah apa yang
dikemukakannya adalah fakta general padahal sesungguhnya masih perlu
dibuktikan lebih lanjut.

> kyknya gak hanya masalah d3/d4 tapi tahun ini DJPB gak terima
> prodip..terus anak prodip yang masih magang mulai tahun lalu blm juga
> cpns???tanya kenapa..kayaknya kita sebagai anak prodip harus
intropeksi diri
> apa salah kita ampe kita jadi begini???tapi menurut alasan saya(prodip
> anggaran 2004)
Comment:
Intropeks perlu tapi yang rasionallah. Apa memang begitu kasus-kasus
yang menimpa qta ini adalah buah dari kesalahan-kesalahan kita? Saya
kira ga ada link-nya tuh. Kalo mao lebih valid coba cek lagi
teman-teman yang seangkatannya dia yang di unit eselon I lain, sdh CPNS?
  
 ada beberapa alasan yaitu :
> 1.kita terlalu jumawa dengan status prodip dan skil serta kemampuan kita
> dengan idiom "kantor gak akan jalan tanpa anak prodip"....saya rasa
ini dah
> keterlalun bgt (kalo boleh saya bilang lupa diri)..

comment:
Ini lagi, belum juga nyambung kan dengan statementmu yg di atas?
Lagian anak prodip mana sih yang merasa begitu, sebrapa banyak,
mewakili populasi ga, diungkapkan secara formal ato sambil joke?

> 2. mengusung semangat idealisme yang terlalu berlebihan..ingat mas, mbak
> sejak kita masuk dunia birokrasi udah ada batasannya..ada yang namanya
> atasan dan bawahan..ada aturan..jangan merasa paling pintar
...namanya tugas
> belajar (ingat kata tugas artinya ada yang memberi tugas...so kalau gak
> dikasih ya perlu lapang dada juga)

Mas, saya mungkin akan lebih respek pendapat seperti itu kalo yang
mengucapkan orang yang sedang mengalami sendiri dengan pergumulan
masalahnya. Pertanyaannya: Apakah anda berpendapat seperti itu karena
anda sudah pasti tidak lulus D4? Bagaimana seandainya anda sendiri
lulus terus dibatalin sementara anda sudah banyak berkorban sampe
harus ujian ke makasar atas biaya sendiri lagi.
Saya kira tidak, barangkali anda akan bereaksi lebih keras lagi
dibanding yang lain. Dasarnya adalah reaksi anda sewaktu tidak
diijinkan ikut DTSS Kuasa Bun kali kedua di Gadog. Bagaiamana reaksi
anda pada atasanmu dan orang yang menggantikannmu. Hanya Tuhan dan
kamu yang tahu.
 
> 3.kita sering menepikan kayak pegawai lulusan lokal atau senior-senior
> penerimaan SMA sering kita sepelekan karena gak bisa IT..sehingga muncul
> idiom prodip dan bukan prodip...(baca tulisan mas tyok tentang teriakan
> teman kerjanya "bubarkan saja prodip)..saya terenyuh sedih...kenapa
sampai ada orang yang begitu gak sukanya dengan kita (intropeksi my
friend)

Comment:
Pengalaman saya bekerja selama 12 tahun di tiga daerah berbeda plus
"keliling Nusantara" ke KPPN-KPPN tidak menemukan fenomena seperti
itu. Kalopun ada bukan anak prodip dech yang menepikan mereka, tapi
mereka sendiri yang sadar diri. Terus mau bagaimana lagi sekarang
hampir semua pekerjaan terkait dengan IT, otomatis pekerjaan-pekerjaan
utama yang dulu dipegang oleh siapa karena masih manual sekarang harus
dikerjakan oleh orang yang kompeten. Apakah ini menepikan, bukan, saya
kira ini seleksi alam.
Adanya dikotomi spt itu wajar-wajar aj, ga usah terlalu dirisaukan.
Malah dikotomi bukan cuma itu ada lagi pejabat bukan pejabat,
pendatang dan asli, dst, dan itu berlaku dimana-mana, its OK.
Mas nanang ga perlu sedih kalo ada yang bilang "bubarin aja prodi". Ga
ngaruh. Itu ungkapan dari orang-orang yang merasa kecewa karena
perannya jadi berkurang bahkan hilang setelah kedatangan anak prodip.
Tapi ingat kita bukan merebut tapi kepercayaan dari atasan karena
kompetensi. Biarin aja.

> 
> 4.karena merasa idealis..bersih dan muda kemudian protes masih membawa
> gaya-gaya demo dijalanan seperti masih mahasiswa..ingat bung kita
> dilingkungan kerja..beda pendapat boleh..kritik saran juga oke..tapi ada
> batasannya jangan kata-kata kotor meluncur begitu saja.(jangan
merasa yang
> paling benar)

Comment:
Tunjukin dong siapa yang mau demo di jalanan, paling banter ada yang
ngajai demo masak? Lagian itu juga baru wacana, tidak melanggar hukum
lho kalo masih wacana, kecuali sudah dilaksanakan lain cerita,
silahkan komentari sesukamu. 
Apa iya ada kata-kata kotor meluncur di milis ini, kalo ada berarti
moderator kecolongan tuh. Setahu saya sih masih dalam batas wajar. Dan
itu bukan kotor tapi keras. Cek lagi mas.


> 5.memang kita wajib usaha tentu allah juga yang nentuin...percaya
lah sudah
> ada jalan sendiri-sendiri hidup seseorang..jadi jangan berlebihan..pake
> surat terbuka lah..pake mau PTUN galang kekuatan lah..kayak mau
perang aja.
Comment:
So, kasih dong solusi alternatif kalo wacana dan tindakan seperti itu
menurut sampean ga Ok. Ato secara tidak langsung anda sarankan lebih
baik mereka itu diam saja begitu? Karena segala sesuatu sudah ada
jalannya. Itu namanya Fatalisme mas yang menanggap segala sesuatu
sudah ada yang mengatur jadi kita diam saja menunggu apa yang akan
berlaku buat kita itulah yang jadi kehendak-Nya. 

> 6.oknum kita yang bikin kita kayak gini (lulus d4 kabur)..wajar men
merusak
> kepercayaan mudah tapi membuat kembali percaya itu yang susah...di
sini juga
> ada lulus d4 lalu kabur ke telkomsel..???tanya kenapa?
> jadi teman-teman saya mendukung langkah anda untuk memperjuangkan
> nasib..tapi mbok ya liha-lihat juga jangan tahu ada batu main embat
aja..

Comment:
Kabur ke telkomsel, ke pertamina, ke inaco, ke mana saja TIDAK
DILARANG. Semua sudah ada aturan mainnya. Mas nanang mau ke bosowa
misalnya monggo asal mengembalikan uang pendidikan (salah satunya), ga
dilarang. Siapa tahu di situ ada kepuasan lahir dan batin? Iya kan? 
Maksudnya apa ya ada batu main embat aja...?
> 
> selamat berjuang setiap sikap dan kelakuan anda membawa korps kita
> jadi...hati-hati ok..

Comment:
Tolong dong dijelasin konsekuensi tindakan mereka pada korps kita?
Punten banyak nanya maklum mungkin saya ga sepintar mas nanang.

> 
> sekian dulu mohon maaf jika ada salah kata-kata,,,

> Comment:
sama-sama
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke