Assalamu'alaikum Wr.Wb. Ikut komentar boleh nggak? Saya setuju dengan pendapat kang Zamzam...Saya pernah dihadapkan pada pilihan sulit seperti itu kang, ketika ayahanda (alm) ditugaskan di suatu tempat di Maumere 20 tahun yang lampau.
Sebuah pilihan sulit, karena akhirnya tidak ada satupun keluarga yang diajak karena pertimbangan (saya lebih condong mengatakan : pilihan) keluarga. Ibunda saya (almh) hanya seorang IRT yang sedikit demi sedikit menyisihkan penghasilan yang diterima untuk berbisnis kecil-kecilan. Kami dihadapkan pada circumstances yang boleh dibilang 'pas-pas' an. karena kesulitan yang di hadapi oleh sebuah keluarga yang gajinya dibagi 2 untuk Ayah dan Ibu dengan 5 anaknya di Jakarta. Waktu demi waktu, saya lihat perjuangan ibunda untuk survive sangat luar biasa, tidak pernah (terlihat) mengeluh, (tidak sungkan) mengayuh sepeda sendiri untuk mencari mobil sewaan untuk angkut barangnya, (pernah) dikecewakan consumer, (pernah juga) kena tipu partner usaha...Wuihhh, saya merasa ibunda benar-benar memiliki energi yang luar biasa dalam mengarungi itu semua. Mungkin buat ibunda dulu mudah untuk ikut dengan suami, tanggung beres...biar suami yang pikirkan. Akan tetapi mereka punya pertimbangan (sekali lagi saya sebut dengan : pilihan) untuk tetap Membangun Keluarga Jarak Jauh (MKJJ). Saya bersyukur dari 5 bersaudara, 4 anak-anaknya bisa sekolah di universitas negeri, yang relatif lebih ringan, dengan kondisi apa adanya. Saya bersyukur diberikan contoh riel oleh ibunda bahwa hidup itu harus diisi dengan kerja keras dan memberikan yang 'terbaik' untuk orang-orang yang kita cintai. Apa yang bisa saya ambil dari pengalaman orang tua saya...Hidup itu sebuah pilihan, pilihan untuk mendapatkan yang terbaik untuk kita dan keluarga. Pilihan yang ketika diambil mesti melalui tahap untuk 'bersandar' kepada-Nya dan berharap pilihan itu adalah pilihan yang baik untuk anak-anak kita sebagai generasi penerus. Pilihan yang membuat kita memiliki rasa tanggungjawab memikul konsekuensi atas efek yang dihasilkannya. Beberapa hari yang lalu, saya ditemui oleh mantan lulusan terbaik angkatan saya sewaktu sama-sama di SMA. Seorang sarjana teknik elektro universitas ternama, lulusan S2 sekolah tinggi ternama di Jakarta. Dia sudah mendapatkan segalanya dalam usia sangat muda, belum 30 tahun dan sudah meraih level manajer di perusahaan telekomunikasi swasta. Dia datang ke rumah kontrakan saya untuk bersilaturahmi dan bertukar cerita. Saat ini dia jobless yang sedang merintis usaha..pernah bangkrut seharga kijang innova (wah nyebut merk...maaf nih bukan iklan), pernah hampir frustasi karena kehilangan segala-galanya. Tapi saya senang ketika dia berujar : 'Saya nggak boleh menyerah cep, hidup itu pilihan, saya keluar dari pekerjaan dan berbisnis juga sebuah pilihan, saya dulu tidak punya apa-apa, lalu punya 'apa-apa', terus kembali lagi tidak memiliki apa-apa adalah sebuah ketentuan Alloh SWT, tinggal bagaimana saya menyikapi dan menerimanya dengan sabar dan tawakkal" Upps...what a spirit... Snif, snif...saya mengiyakan. Dengan begitu banyaknya pilihan dan jalan mengarungi hidup, mengapa mesti bingung bila kita sudah tidak bekerja lagi (atau tidak jadi PNS lagi). Bukankah Alloh SWT Maha Kaya? Dan tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang berjalan tanpa sepengetahuan-Nya. Apakah jika kita tidak 'beredar' lagi di dunia, lalu putus pula rejeki isteri dan anak-anak kita? Wallahua'lam bis shawab. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Wassalamualaikum Wr.Wb. Acep Hadinata --- In [email protected], "jm_hndsm" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > tapi kebahagiaan batin saya dan keluarga tidak ternilai harganya mas. > anak anak lebih terjaga, lebih terbimbing dan banyak keuntungan > lainnya ( yg memang bukan berupa materi ) > > ada baiknya kita tidak suudzon akan apa yang akan terjadi dimasa > depan kita, > beberapa dari kita percaya Alloh itu maha Kaya tapi tidak tertutup > kemungkinan pendapat Mas Ted ada benarnya... > > Maaf kalo saya salah2 kata > > > salam > zamzam > > --- In [email protected], "Family In Love" > <love_myfamily@> wrote: > > > > Yth. Bapak Hari Ribowo dan mas Bedes > > > > Saya sependapat dengan keputusan Bapak Hari Ribowo. > > Sebagai kepala keluarga yang baik, Bapak (minta maaf) > > telah mengambil keputusan yang tepat dengan mengorbankan > > salah satu kepentingan isteri untuk berhenti bekerja. > > Tetapi Bapak, kalau boleh saya berpendapat.... kita itu > > bekerja bukan untuk hari ini saja, kita bekerja juga > > menabung untuk dimasa-masa mendatang. Dengan isteri > > bekerja dan berkarier di bidangnya, kita juga telah > > mendidik isteri kita belajar mandiri sebagai salah satu > > sumber cadangan pendapatan/pengasilan kita dalam > > berkeluarga, dan kita juga bisa mengandalkan isteri kita > > jika kita sewaktu-waktu sudah tidak dapat bekerja lagi. > > Demi kelangsungan keluarga kita. Gimana jadinya jika kita > > sudah tidak dapat bekerja lagi sementara isteri kita masih > > mengandalkan kemampuan kita???? > > > > Someone > > >
