Pertama2 saya mohon maaf apabila postingan ini membuat teman2 terusik.
Ini saya kemukakan bukan tanpa alasan. Kalau kita mau lebih mawas
diri, cobalah lihat berapakah di antara kita sesama pegawai yang
benar2 bisa menunjukkan kinerja yang diharapkan. Untuk pegawai KPPN
terutama yang percontohan, okelah walaupun di intern KPPN sendiri
pasti saling iri dengan TKT yang diterima. Ada yang kerjanya memang
banyak dan berat, sementara ada juga yang santai, namun mendapat grade
dan TKT yang sama. Tapi teman2 di KPPN percontohan masih lebih
beruntung daripada yang terbuang ke Kanwil. Di kanwil pun tidak semua
pegawai 'makan gaji buta'.  Masih ada yang benar2 bisa menunjukkan
kinerja yang tak kalah prima walaupun tanpa TKT. Coba, apa bedanya bag
umum di KPPN dg di Kanwil? Bukankah yang di Kanwil lebih berat dan
lebih banyak tugasnya daripada yg di KPPN? 
Coba kita lihat kinerja pegawai di Kanwil. Bukankah lebih banyak yang
makan gaji buta, terutama 'pegawai lama' yang tidak mau belajar untuk
mengikuti perkembangan keadaan sehubungan dg bidang
tugas/pekerjaannya.  Banyak pegawai yang datang ke kantor hanya untuk
mengisi daftar hadir supaya TC full tanpa potongan walaupun cuma duduk
dan ngobrol. Bahkan banyak yg lebih gak tau malu dg hanya nitip absen
tanpa hadir di kantor. Klo Pak Dirjen ingin tau keadaan yang
sebenarnya cobalah lakukan sidak tanpa memberitahu terlebih dahulu.
Pada jam 11 s.d. 15.00 dipastikan banyak yg tidak ada di tempat.
Bagaimana mau menunjukkan kinerja klo seperti itu keadaannya. Klo ada
tim pemeriksa, cobalah periksa daftar absensi ( klo perlu tiap pegawai
harus punya spesimen tanda tangan dan paraf shg bisa diuji/dicocokkan)
dan cocokkan dg potongan TKPKN bulan ybs. Dipastikan 'ada permainan'.
Jadi walaupun absensi di bawah garis tetapi TC aman.. 
Seandainya Bu Menteri sendiri yang tau keadaan ini pasti remunerasi
langsung dibatalkan. Bukannya  saya tidak bersyukur dg remunerasi yg
telah saya nikmati selama 6 bulan ini. Tapi melihat kenyataan di
sekitar saya, lebih baik batalkan remunerasi. Terutama masih banyak
pejabat yang walaupun telah menerima remunerasi yang berkali2 lipat
dari sebelumnya tetapi masih belum bisa menunjukkan kinerja yg prima.
Perubahan mind set bukan hanya soal "tidak meminta imbalan dan berani
menolak pemberian" tetapi lebih jauh lagi pada kebijakan yang
diterapkan untuk para pegawai dalam kewenangannya. Bukan atas dasar
'like and dislike' ataupun kedekatan pribadi. Pejabat yang berkualitas
tentunya menomorsatukan kepentingan dinas bukan yang lainnya. Pejabat
yang baik tentunya bukan orang yang menimbulkan keresahan maupun
konflik horisontal antar pegawai. Dari soal penentuan mutasi,
penunjukan peawai untuk mengikuti suatu diklat, dll, masih tercium
aroma KKN. Sebagai tambahan informasi untuk para miliser, dampak dari
reformasi birokrasi yg ikut menggusur para pegawai muda yang masih
sangat produktif/potensial (hanya krn tidak lulus test) telah
menimbulkan eksodus besar2an di tubuh DJPBN. Bisa kita cek langsung ke
bagian kepegawaian, berapa banyak pegawai yang mengajukan pindah
instansi baik melalui jalur resmi (spt yang diinginkan Pak Sis) maupun
yang lewat jalan belakang. Banyak faktor yang menyebabkan eksodus ini.
Antara lain pegawai yang merasa terbuang seakan tak punya kemampuan,
padahal masih banyak tenaga potensial. Di kanwil saya hampir seluruh 
pegawai yg berasal dari lulusan prodip (yg gak lulus prima), sudah
mengajukan diri untuk pindah instansi.
Dalam suatu kesempatan bu menteri kita pernah menyampaikan bahwa satu
rupiah pun apabila dikeluarkan dari APBN dan tidak memberi hasil spt
yg diharapkan adalah pemborosan. Bukankah ini pemborosan besar2an?
Remunerasi yang turut dinikmati oleh banyak pegawai yang tidak bisa
bekerja? Cobalah kita liat sekitar kita berapa banyak yang benar2 bisa
menunjukkan kinerjanya? 
Andai Bu Menteri melihat langsung keadaan di lapangannya bahwa banyak
sekali pegawai yang sama sekali tidak produktif lagi. Bukankah lebih
baik mereka "pensiun dini", daripada hanya membebani anggaran negara?
Bukankah hanya segelintir pegawai lama yang masih bisa mengikuti
perkembangan keadaan/tuntutan pekerjaan? 
Sekali lagi saya mohon maaf kalo postingan saya ini jadi ngelantur
kemana2. Saya hanya pegawai biasa yang walau tak lulus 'prima' tapi
tetap berusaha menampilkan kinerja yang prima dimana pun saya berada.
Bagaimana dengan Anda? 
Maaf apabila ada pihak2 yang kurang berkenan dengan postingan ini.
Mohon tanggapan teman2 miliser..


Salam reformasi
NIP 0600.....
   
   

Kirim email ke