Assalamualaikum Wr.Wb. Selamat Siang Miliser di manapun anda berada.
Senang akhirinya milis ini begitu semangat menyoroti `wacana' yang
selalu hangat dan berhubungan dengan hajat hidup orang banyak seperti
Remunerasi.

Miliser barangkali ada yang mengikuti kisah Pasar Keramik di Rawasari
Jakarta Pusat yang beberapa hari lalu digusur oleh pemda DKI. Tidak
berapa lama setelah digusur, beberapa kios yang belum sempat digusur
dan masih melakukan perlawanan, tiba-tiba terbakar pada malam harinya.
Duh, kasian sekali mereka. Apa yang menarik dari sedikit cerita saya
soal pasar ini. 

Sehari setelahnya para pedagang keramik menjual obral barang
dagangannya, mulai diskon 25% sampai 40% atas setiap jenis keramik.
Masyarakat berbondong-bondong membeli, memborong, latah ikut-ikutan
menawar keramik, padahal tidak hobi-hobi `amat' dengan barang seni
tersebut. Menurut logika pasar, wajar kalau para pembeli
berduyun-duyun datang untuk memborong, tetapi menurut logika moral
apakah tega kita memborong dengan harga murah keramik-keramik dimaksud
padahal kita punya opsi yang lebih baik dengan membeli di atas harga
wajar karena `prihatin' akan munculnya banyak pengangguran baru bila
pedagang-pedagang tersebut rugi dan tidak dapat melanjutkan usaha.
Betulkah pembeli itu `senang melihat orang lain susah?'

Balik ke soal Remunerasi, sebuah kata sakti yang tingkat populernya
hanya bisa dikalahkan oleh kata KKN. Yang awal kemunculannya bisa
membuat server milis ini begitu sesak oleh email-email peserta milis
dari seluruh penjuru nusantara sampai Australia. Sebuah upaya terbaik
dari pimpinan Departemen Keuangan untuk mewujudkan visi Aparatur
Birokrasi yang Profesional. Profesional bukan hanya pada masalah
pekerjaan, absensi, pakaian serta semua sesuatu yang melekat di raga,
tetapi juga profesional dalam hal pemikiran dan hati.

Teman-teman miliser…Kalau anda pernah membuat rencana, sudah sangat
wajar kalau suatu waktu anda akan meng-adjust nya sesuai kebutuhan
factual. Kalau kantor anda membuat rencana kerja, sudah wajar kalau
anda pernah merevisinya. Logika yang sama bisa anda tebak dan mengerti
kalau pemerintah akhirnya menyesuaikan APBN itu karena desakan ekonomi
membuat pemerintah harus memberikan yang terbaik untuk masyarakat.
Mulai dari kacang kedelai yang susah dicari karena ketergantungan
impor, konversi minyak tanah ke gas yang mandek, rencana pembatasan
penggunaan premium bagi kendaraan pribadi serta solusi-solusi lainnya
(yang rata-rata solusi jangka pendek)  

Remunerasi, ehm…Bisakah anda membayangkan bahwa gaji yang anda terima
telah sesuai dengan tingkat pekerjaan yang anda hadapi setiap hari.
Betul begitu? Dengan remunerasi baru, mestinya kita sudah tidak
berpikir untuk hal-hal lain kecuali memberikan yang terbaik untuk
stakeholder kita. Bukan tetap melanggengkan grey area di bawah casing
budaya timur. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan, atau ada
berseberangan. Saya setuju dengan apa yang pak Dirjen DJPB pernah
sampaikan, bahwa role model memang harus dilakukan dari tingkat atas.
Yang di bawah tidak punya pilihan selain menjadi follower atau kena
kartu merah dan meninggalkan gelanggang. Kalau grey areas mau
diputihkan, dibakukan saja. Dibuatkan peraturannya yang jelas dan
tegas, misalnya, biaya menjamu tapi dialokasikan di DIPA (dengan lower
dan upper limit) sehingga tidak ada lagi yang bermain-main ke kantor
operasional dengan dalih apapun. Main-main dengan jabatan yang lansung
berhubungan dengan stakeholder dipecat saja. 
Saya teringat sebuah cerita teman pegawai kantor wilayah  yang datang
ke sebuah kantor pelayanan untuk membetulkan data SABMN kantor
tersebut. Ketika pulang, teman ini diberikan amplop (ucapan terima
kasih) karena telah membantu membetulkan data SABMN nya dengan
menggunakan Visual Fox Pro. Apa yang terjadi, si teman ini menolak,
dia bilang, dia sudah dapat cukup SPPD ketika datang kekantor tersebut
dan dia tidak ingin merubah pertemanan hanya karena sebuah amplop yang
besarnya nggak seberapa. That's wonderful behavior. Kenapa? karena dia
sudah berusaha memutus mata rantai  budaya yang keliru. Siapa yang
bisa  menebak dua atau tiga tahun lagi teman saya mungkin pindah ke
kantor pelayanan dan yang (mau) memberikan amplop menjadi pegawai
kantor wilayah. 

Kembali ke analogi pembeli keramik. Kalau anda tetap bahagia dengan
remunerasi baru dan tidak meningkatkan kinerja anda dari sekarang,
betapa sedihnya masyarakat di luar sana. Mereka bekerja  keras siang
dan malam mencari sesuap nasi, memerah keringat sebesar jagung untuk
menyekolahkan anak-anak mereka. Pergi pagi pulang dinihari hanya untuk
kehidupan yang lebih baik. Mereka semua tidak menggunakan fasilitas
negara seperti kita, tetapi merekalah yang menyumbang porsi terbesar
atas sumber dana remunerasi kita.  Kita masih beruntung, siang hari
merasakan  AC, serta air dingin dari dispenser yang seluruh listriknya
dibiayai APBN. Menggunakan kendaraan dengan bensin yang dibiayai APBN.
Bahkan menggunakan telepon kesana-kemari dengan menggunakan dana APBN.
Belum cukupkan jeritan mereka tentang sulitnya hidup di Indonesia, di
saat yang sama kita petantang-petenteng sebagai PNS Departemen
Keuangan dengan gaji yang sudah sangat cukup untuk ukuran Indonesia.
Apa bedanya dengan analogi senang melihat orang lain susah untuk kita.   
 
Saya setuju apapun yang akan dilakukan oleh bu Menteri dalam
menerapkan evaluasi kinerja yang modern. Balance scorecard dan Key
Performance Indicator (KPI) atau apalah namanya, harus kita dukung.
Sedikit yang mungkin ingin saya garis bawahi, bahwa KPI seharusnya
juga berbanding lurus dengan Stakeholder Satisfaction Indicator (SSI),
bagaimana pengukurannya? Mungkin teman-teman yang jago-jago dan
pinter-pinter di pusat bisa ikut merumuskan. Kita juga bagian dari
stakeholder. Kita adalah stakeholder dari Inspektorat Jenderal
Departemen Keuangan. Mereka adalah Pengawas Internal Kinerja kita di
Departemen Keuangan. Mungkin dengan cara yang hampir serupa, kita bisa
menilai bagaimana merumuskan SSI dari sudut Inward dan Outward. Focus.
Bahwa kita juga sebenarnya stakeholder dari sisi internal. Tetapi kita
adalah pemberi pelayanan dari sisi eksternal. 

Ada empat perspektif yang harus di-refresh kembali dalam penggunaan
balance scorecard. Berturut-turut perspektif atau pandangan tersebut
adalah (1) Finansial, (2) Stakeholder, (3) Proses Bisnis Internal,
serta (4) Pembelajaran dan Pertumbuhan. Keempatnya harus berjalan
paralel untuk mencapai visi menciptakan Aparatur Birokrasi yang
Profesional dan Berhati Nurani. Lain waktu kita sambung lagi membahas
persfektif ini. 

Aparatur pemerintah merupakan orang yang dipercaya dan diberi mandat
oleh negara dan rakyat untuk mengelola pemerintahan guna meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian efektivitasnya harus diukur
sejauh mana kemampuan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan
masyarakat (Vincent Gaspersz, 2005) Lalu kalau ternyata aparaturnya
malah lebih sejahtera (terus dan terus menjadi kaya) dibanding
masyarakat yang dilayani (terus dan terus menjadi miskin) maka ancaman
bu Menteri tentang penarikan kembali Remunerasi sepertinya suatu saat
bisa terwujud.



Mudah-mudahan ada manfaaatnya.
Wassalamualaikum Wr.Wb.


Acep Hadinata
060084387



--- In [email protected], "irhas" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> tetep semangat..tetep sehat..dan tetap jalan jalan (hehehe wisata
> kuliner donk..mak nyussss :P )
> 
> wassalam
> 
> --- In [email protected], "surya_panuntun"
> <surya_panuntun@> wrote:
> >
>  Sang Jin mepersilahkan masing-
> > masing orang untuk mengajukan sebuah permintaan (saja) dan pasti akan
> > mengabulkannya..
> >
>


Kirim email ke