Hmmm pilih mana bicara jujur atau bicara sopan ?
kenapa tidak mengatakan yang benar dengan cara yang baik aja,
kayak yang udah dicontohin temen2 di forum ini, menurut aku ada banyak
 hal yang benar terungkap dengan cara yang baik disini, dulu waktu
forum ini masih bernama MP ada yang mengatakan kebenaran tapi dengan
cara yang kurang baik ...
apa jadinya.. toh tidak efektif juga hasil komunikasinya....
karena salah salah bicara juga malah bukannya fixing the problem malah
adding the problem...
kenaikan BBM dan protes tentang hal itu adalah hal yang wajar
sebagian besar masyarakat kita sedang menghadapi kesulitan hidup yang
kian berat ditambah lagi dengan rencana keniakan BBM ini.
Tapi bukanlah hal yang asyik juga kalo protest itu malah bikin susah
orang lain... yang lagi nunggu jatah minyak tanah malah truknya di
sandera mahasiswa, yang mau nyari nafkah malah terhalang jalan yang
macet, ya proporsional lah...,
kurasa message nya udah sampe ke pemerintah,
realitanya malah isu ini bikin  bbm naik sebelum waktunya,
kami di sini udah dibiasakan bensin seliter 6 ribu, elpiji 100 ribu
setabung minyak tanah 3 ribu dan ongkos2 kebutuhan hidup yang pastinya
naik seiring naiknya ongkos sarana transportasi, karena mau bilang apa
semua yang ada disini mesti didatangkan dari jawa sana, sampe pegawai
  yang nggak ada kerjaannya aja mesti di datengkan dari jawa, ngabis
ngabisin uang rakyat saja ...
nggak semudah balikin telapak tangan merubah sistim ini
kita mesti kembali dari awal, dan langkahnya udah agak bener kayaknya
daerah diberi kewenangan lebih luas dalam hal otonomi kekuasaan dan
ekonomi, KPK udah dibentuk nggak peduli orang bilang tebang pilih tapi
sosoknya udah nyeremin, bikin koruptor mikir dua kali nerusin
kebiasaannya.
infrastruktur ekonomi mesti dibangun dengan duit, dan negara ini
bilang udah ngabisin 107 trilyun buat nambahin duit orang yg naik
mobil dan beli minyak tanah...( subsidi BBM )apa mau diterusin pola
kayak gitu, apa nggak lebih baik tuh duit digunakan buat bayarin kuli
cangkul, tukang bangunan, tukang kayu, tukang batu bata, tukang
genteng, UKM, koperasi tani dst...
ah jadi ngelantur jadi kepanjangan bual, coba dari jaman eyang harto,
jaman booming minyak, laba dananya kita pake explore lagi 80 milyar
barrel cadangan fossil energy yg katanya ada di dalam tanah negeri
ini, kita nggak akan sesulit ini...









--- In [email protected], amir syah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalo boleh ikutan komentar,
>
>   "Hubbudunya" (cinta dunia) seperti yang Pak Agung Sayuta
analogikan antara perang uhud dan fenomena kenaikan BBM mungkin kurang
pas.
>
>   Pada perang uhud, rakyat/pasukan menjadi lupa karena setelah
menang perang (yang nyatanya hanya jebakan taktik musuh)
pasukan/rakyat berebutan untuk mendapatkan "piala" berupa rampasan
perang yang terdiri dari emas/perak/perhiasan yang sangat berlimpah.
>
>   Beda dengan fenomena kenaikan BBM yang sebagian besar lebih
disebabkan oleh ketidak becusan mayoritas para pengurus n

Kirim email ke