Assalam'mualaikum Wr.Wb.

Yth. Pa Amir Syah dan Rekan Forum Prima,

Awal kata saya mohon maaf salah menyalin ayat, yang benar
"Hubbudunya", bukan begitu pa Amir???

Kemudian saya ucapkan terima kasih kalo analogi antara perang uhud
dengan fenomena kenaikan BBM kurang pas.

Namun demikian perlu saya klarifikasi bahwa topik yang saya angkat
mengenai "Hubbudunya", jadi bukan kenaikan BBM itu topiknya melainkan
adanya kenaikan BBM mungkin disebabkan "Hubbudunya"???. Dalam beberapa
hari ke depan kita akan saksikan masyarakat, saya katakan si bawah, si
nengah, dan si atas, saling berebut antri BBM di SPBU sampai berjam2,
berhari2, mungkinkah juga karena "Hubbudunya"???. Masyarakat di
tingkat bawah saling sikut2an berebut BLT tanpa mengenal berhak atau
tidak berhak, mungkinkah juga karena "Hubbudunya"???. Mungkinkah topik
diskusi tentang remunasi, dari KPPN-P dan KPPN-NP, atau remote areas,
bukan karena "Hubbudunya"??? Hanya diri ini yang bisa menjawab.

Wah... wah...  rupanya penyakit "Hubbudunya" telah menggurita dari
masyarakat tingkat bawah sampai tingkat atas, dari si miskin sampai si
kaya, dari pegawai negeri sampai pegawai swasta, dari pengusaha sampai
penguasa. Ebiet bilang "terlalu bangga dengan dosa-dosa". Kalo memang
begitu marilah kita semua, baik individu maupun kelompok masyarakat
memanjatkan dan menyerukan "Isthigfar" semoga Allah SWT tidak
menurunkan "mushibah" sebagaimana telah terjadi.

Membaca Tafsir Al Azhar oleh Buya Hamka, uraian perang Uhud karena
penyakit "Hubbudunya", dan lebih jauh diuraikan bahwa kekalahan perang
Uhud merupakan peringatan Allah SWT bagi pengikut Nabi Muhammada SAW
yang "Hubbudunya" dan tidak lagi patuh pada perintah Nabi Muhammad
SAW. Kemudian peristiwa perang Uhud ditafsirkan sebagai mushibah
(bala) yang diturunkan Allah SWT karena penyakit "Hubbudunya", lupa
mengingat Allah SWT.

Pa Amir, menurut saya, bicara jujur itu baik, dan lebih baik lagi bila
bicara jujur disampaikan dengan santun (bukan sopan), sebagaimana yang
dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Mohon maaf dan semoga ada manfaatnya.

Wassalam'mualaikum Wr.Wb. Agung Sayuta.


--- In [email protected], amir syah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalo boleh ikutan komentar,
>    
>   "Hubbudunya" (cinta dunia) seperti yang Pak Agung Sayuta
analogikan antara perang uhud dan fenomena kenaikan BBM mungkin kurang
pas. 
>    
>   Pada perang uhud, rakyat/pasukan menjadi lupa karena setelah
menang perang (yang nyatanya hanya jebakan taktik musuh)
pasukan/rakyat berebutan untuk mendapatkan "piala" berupa rampasan
perang yang terdiri dari emas/perak/perhiasan yang sangat berlimpah.
>    
>   Beda dengan fenomena kenaikan BBM yang sebagian besar lebih
disebabkan oleh ketidak becusan mayoritas para pengurus negara dari
tingkat atas hingga tingkat rendah yang hanya mementingkan perut
pribadi/keluarga/kelompok nya masing-masing sehingga melupakan rakyat
yang seharusnya kita layani. Lihat saja korupsi dan "Mafia" yang masih
terjadi disegala bidang yang tidak ada habis-habisnya.
>    
>   Menurut saya selama ini secara relatif, terdapat hubungan yang
tidak seimbang antara atasan dan bawahan, apalagi hal ini telah
terjadi selama berpuluh2 tahun sebagai akibat perilaku KKN di negara
kita. Dalam era keterbukaan dewasa ini yang baru berumur sangat muda,
bisa dimaklumi jika beberapa dari kita menggunakan era demokrasi ini
untuk berpendapat yang kadang2 "kelepasan". Yang perlu kita sikapi
dengan bijak adalah mengambil inti dari setiap pendapat tersebut. 
>    
>   Bila kita berusaha mencari titik temu setiap pendapat agar
tercipta sistem yang lebih baik, maka hubungan antara atasan dan
bawahan akan tercipta lebih harmonis, fair dan seimbang. Setiap orang
jadi tahu hak dan kewajibannya. Bawahan harus melaksanakan hak dan
kewajibannya dengan menghormati hak dan kewajiban atasan, demikian
juga atasan/pimpinan harus melaksanakan hak dan kewajibannya dengan
menghormati hak dan kewajiban para bawahan. Semuanya harus berpedoman
dengan kode etik dan mendapat perlakuan yang sama di hadapan hukum dan
peraturan.
>    
>   Terakhir, Ada pertanyaan klise yang setiap orang/pribadi dapat
berbeda pendapat dalam menjawabnya. Pertanyaan tersebut adalah:
>   "Mana yang harus dipilih (harus salah satunya tidak boleh
kombinasi), Berbicara Jujur ataukah Berbicara Sopan????"
>    
>   Saya pribadi memilih "Berbicara Jujur", pertimbangannya adalah
berbicara sopan dapat mengaburkan kebenaran yang ingin kita sampaikan.
Bisa2 sesuatu yang buruk bisa dianggap tidak buruk oleh lawan bicara
kita. Misal: salah satunya yang sering terjadi dinegara kita:
PELANGGARAN sering "disopankan" dengan Kesalahan Prosedur or kesalahan
administrasi, dan hal ini akan berakibat pada konsekuensi hukum yang
sangat jauh dari yang seharusnya.
>    
>   Bagaimana dengan para miliser sekalian??? Pilih Mana??? Bicara
dengan Jujur or Bicara dengan Sopan???
>    
>    
>    
>   
> 
> Agung_Sayuta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           --- In [email protected], "jonny wijaya"
<rlanwijaya@> wrote:
> >
> Assalam'mualaikum Wr.Wb.
> 
> Yth. Rekan Millisers Forum Prima,
> 
> Beberapa hari terjadi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM.
> Beberapa hari terjadi adu pendapat penyaluran BLT.
> Beberapa hari lagi mungkin ada penetapan kenaikan harga BBM.
> Beberapa hari lagi BLT akan dibagikan.
> Beberapa hari lagi mungkinkah terjadi antrian panjang kendaraan si
> miskin, si nengah, dan si kaya memperebutkan BBM yang menjelang naik.
> Beberapa hari lagi mungkinkah terjadi perebutan BLT oleh si tua dan si
> muda, tanpa mengenal lagi rasa kasih sayang... tanpa mengenal lagi
> etika bermasyarakat... tanpa mengenal lagi rasa sa
> 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
> 
> 
>                            
> 
> 
> "Kill Corruption for Our Kids Better Future" 
> www.amirsyah,blogspot.com 
> www.azzahku.multiply.com
>        
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke